Ketika sedang asik menyimak acara kapita selekta untuk Student Development Program (SDP) Jurnalistik, saya sedikit terkejut mendegar pertanyaan dari salah satu mahasiswa baru. Dia bertanya, bagaimana nasib mereka—mahasiswa baru—D-IV dan apakah kami tetap bisa ikut organisasi mahasiswa yang ada di fakultas?

Seketika pertanyaan besar mampir di kepala saya, “emang ada apa kalau mahasiswa D-IV?”  Tentunya mereka boleh-boleh saja mengikuti kegiatan organisasi yang ada di fakultas.

Pemikiran yang masih dipenuhi pertanyaan memusingkan tersebut buyar seketika setelah mendengar suara serak dari teman saya. Mungkin dia sadar ketika melihat Wajah saya yang pusing berfikir keras. Dia berbisik lirih dan berkata,

D-IV kan kuliahnya di Wates, Wates UNY.”

Pernyataan dari teman saya tersebut hanya menghilangkan rasa penasaran dari pertanyaan mahasiswa tadi, namun sedikit pun tidak menghilangkan pusing di kepala ini. Ditambah lagi saya mengetahui bahwasanya meski mahasiswa D-IV kuliah di kampus Wates itu hanya untuk mengikuti mata kuliah teori, sedangkan untuk kuliah praktiknya tetap di Fakultas Teknik (FT) yang berada di Karangmalang.

Baca Juga: Academic Trap Mahasiswa Pendidikan Teknik

Jurusan D-IV FT UNY memang baru tahun ini dibuka. Terlepas dari pro dan kontra mengenai jurusan baru yang berbeda dari pendahulunya (S1 dan D-III) itu, ternyata tempat mereka kuliah pun berseberangan. Pasalnya untuk yang pertama kali FT juga ikut menjadi bagian Wates yang ada di kampus Wates.

Yang membuat saya terheran-heran, antara tempat kuliah teori dan praktik bagi mahasiswa jurusan D-IV berbeda lokasi sehingga menyebabkan mahasiswa harus pulang-pergi. Saya tidak mengerti dari mana datangnya ide yang terkesan kekanak-kanakan tersebut. “Kok bisa-bisanya sistem yang seperti candaan tersebut muncul di kampus pendidikan yang katanya intelektual ini?”

Saya masih tidak habis pikir tentang apa yang terjadi di kampus tercinta saya ini. Meski belum saya konfirmasi kepada pihak yang terkait, saya mencoba menerka-nerka, “apa alasan dibalik hal itu?” Maka muncullah pemikiran bahwa mungkin sarana dan prasarana di Wates tersebut belum menunjang untuk melakukan kuliah praktik. Ini juga bukan alasan yang dapat diterima begitu saja, karena orang aneh macam apa yang akan membuka jurusan baru di Wates, namun fasilitas untuk melaksanakan praktik belum ada?

Kalau sudah tahu tidak mampu untuk menunjang pembelajaran mahasiswanya, kenapa dengan sombong membuka jurusan baru di FT? Saya jadi prihatin terhadap mahasiswa baru D-IV yang telah bayar UKT mahal di tambah UPPA yang selangit. Hal tersebut justru memberikan pandangan seperti dianaktirikan oleh fakultasnya sendiri.

Baca Juga: Kita Butuh Gus Dur Sekarang

Satu lagi yang mungkin menjadi alasan kenapa terjadi kondisi seperti ini, yaitu karena kurangnya fasilitas kelas untuk belajar di fakultas yang ada di Karangmalang karena tambahan jurusan baru tersebut. Namun hal ini lebih ambigu karena FT UNY baru saja membangun tiga gedung untuk menunjang hal tersebut. Meski membuka prodi baru, ternyata FT juga tidak lagi membuka program studi D-III, dengan demikian seharusnya kapasitas kelas yang ada di Karangmalang bukan jadi masalah.

Kalau memang dengan tambahan tiga gedung baru tersebut belum mencukupi untuk belajar di FT, tenang saja, di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) lantai tiga sayap Timur.

Ada aula yang bisa saja dipakai untuk kegiatan belajar mengajar. Jika dibutuhkan kami (Fenomena) juga siap untuk meminjamkan proyektor demi mendukung kegiatan perkuliahan.

Hal pertama yang ada di benak saya ketika mendengarkan kebijakan bobrok’ ini adalah mengenai mobilitas para mahasiswa untuk bolak-balik Karangmalang-Wates. Untuk yang belum tahu, jarak antara Fakultas Teknik yang di Karangmalang dan Wates yang di Wates itu berjarak kurang lebih 38 km, menurut Google Map perjalanannya memakan waktu sekitar 1 jam 9 menit.

Dengan jarak yang demikian tentunya mesakke mahasiswa baru yang harus pulang-pergi untuk menyesuaikan diri dengan kuliahnya di Wates atau di Karangmalang. Bukan hanya menguras tenaga mahasiswa namun juga menguras isi dompet mahasiswanya.

Baca Juga: Nasibmu Mahasiswa: Apatis atau Ditunggangi

Hal itu juga membuat bingung mahasiswa yang berasal dari luar Jogja, mereka harus ngekos atau ngontrak dimana? Dimanapun itu pastinya mereka harus mempersiapkan dana untuk transportasi bolak balik kampus pusat dan kampus Wates. Meski pihak kampus telah menyediakan sarana bus shuttle UNY untuk transportasi Karangmalang-Wates dan sebaliknya, tentu saja itu tidak dapat sepenuhnya menunjang keperluan mobilitas mahasiswa.

Sesuai percobaan ketika kami mencoba ke Wates menggunakan bus shuttle UNY, kami menemukan bahwa bus tersebut beroperasi pada waktu tertentu. Mulai beroperasi dari pukul 7.30 dan terakhir beroperasi pada pukul 17.00. Menurut para mahasiswa yang sudah dua tahun kuliah di Wates, sebelum masuknya FT ke Wates Wates bus tersebut selalu penuh mengangkut mahasiswa bolak balik dari Karangmalang-Wates.

Jika sarana itu yang diunggulkan oleh pihak birokrasi, kita harus mengkajinya lebih lanjut. Mampukah bus tersebut menampung tambahan mahasiswa dari FT yang berjumlah lebih dari 400 orang untuk bolak balik Karangmalang-Wates? Ditambah lagi jika hal tak terduga terjadi, seperti mahasiswa yang telat bus shuttle UNY, mahasiswa jadinya akan telat mengikuti kegiatan perkuliahan. Maka bisa dibilang adanya bus shuttle UNY tidak mampu menjadi solusi dari kebijakan bobrok’ kampus ini. Mengutip kata Sudjiwo Tejo, kebijakan ini mungkin “bener tapi ora pener.”

Penulis: Willy Andryan Permana
Editor: Danang Bakti Kuncoro