Hari Minggu (22/9), saya dikejutkan dengan sebaran pamflet yang bertajuk #GejayanMemanggil. Pamflet itu berisikan seruan aksi damai yang mengundang seluruh mahasiswa dan elemen masyarakat Yogyakarta untuk ikut serta dalam aksi yang dilakukan pada hari Senin, 23 September 2019.

Detik, menit, dan jam berlalu, muncul sebaran baru yang menyatakan bahwa aksi ini melibatkan delapan kampus di Yogyakarta. Bahkan, pada sore minggu tagar #GejayanMemanggil menjadi trending topic ke-2 di twitter.

Ketika pamflet mulai tersebar ke seluruh penjuru kampus di Yogyakarta, muncul beberapa edaran dari Organisasi Mahasiswa (Ormawa) khususnya di UNY yang menyatakan tidak terlibat dalam aksi tersebut. Meskipun ada Ormawa yang menyatakan tidak mendukung aksi tersebut, konsolidasi massa aksi dari UNY tetap dilakukan, tepatnya pada pukul 19.30 WIB di Taman Pancasila FIS UNY.

Pagi (23/9), beberapa jam sebelum Pertigaan Colombo diduduki mahasiswa, Ditambah himbauan dari beberapa pimpinan universitas yang menyatakan tidak ikut serta dan menyarankan atau melarang mahasiswanya untuk ikut aksi damai ini. Hal ini tentu membuat beberapa mahasiswa mengira tidak banyak masa yang akan turun ke jalan nantinya.

Satu jam sebelum aksi, tiga titik kumpul yang menjadi tempat mulainya longmarch menuju titik pusat yakni Pertigaan Colombo dipenuhi oleh mahasiswa dan beberapa masyarakat. Tiga titik kumpul tersebut adalah Gerbang Utama Kampus Sanata Dharma, Pertigaan Revolusi UIN Sunan Kalijaga, dan Bunderan UGM. Cuaca panas terik tidak menghambat aksi ini untuk dilakukan.

Pukul 13.00 WIB, massa aksi mulai berdatangan dan menempati Pertigaan Colombo, diketahui kampus yang menempatkan diri di awal dari Akprind dan USD, lalu beberapa organisasi daerah. Mereka menduduki Jalan Gejayan arah selatan dan utara sembari menunggu teman-teman mahasiswa yang datang dari arah barat.

Baca juga: Tolak Berbagai Rancangan UU, Mahasiswa Jogja Lakukan Aksi

Apa yang saya dan teman-teman kira sebelumnya terjawab saat semua masa aksi dari tiga titik kumpul telah sampai di titik pusat. Yang awalnya kami pikir massa aksi yang datang sedikit terbantahkan dengan padatnya massa saat itu. Bukan hanya Jalan Gejayan, Jalan Colombo juga diduki mahasiswa yang menandakan massa aksi kali ini tidak sedikit.

Kegiatan ini resmi dibuka dengan dibunyikannya sirine dan aksi tiduran di jalan untuk mengenang demokrasi yang mati suri. Setalah itu, massa aksi mengheningkan cipta dan tepukan tangan untuk mengenang Moses Gatotkaca yang meninggal pada saat aksi tahun 1998 sebagai wujud perlawanan mahasiswa terhadap kekuasaan Orde Baru.

Aksi berlangsung secara damai, satu persatu perwakilan mahasiswa dan masyarakat menyampaikan suara mereka lewat orasi. Bahkan, salah satu dosen dari UGM ikut berorasi dihadapan ribuan masa dan memberi dukungan tanpa syarat untuk gerakan kali ini. Para orator menyatakan desakan terhadap pemerintah atas persoalan yang terjadi di negeri kita saat ini.

Aksi #GejayanMemanggil berakhir dengan kondusif pada pukul 16.30 WIB, diakhiri dengan pembacaaan sikap yang diiringi nyanyian lagu Darah Juang oleh massa aksi. Di akhir acara, kami menemui Kapolres Sleman, AKBP Rizky Ferdiansyah untuk mengklarifikasi. Dia mengatakan kalau aksi hari ini sudah mendapat izin kemarin sore dan perkiraan masa lebih dari 5000 jiwa. Untuk personil yang dikerahkan beliau menyebut kurang dari 200 personil.

“Tapi banyak perkuat anggota lalu lintas, karena harus bantu rekayasa lantas (lalu lintas, -red) supaya masyarakat tidak terganggu dan adik-adik (massa, -red) juga tidak terganggu. Jam 10 kita sudah pantau arus lalu lintas dan saat mulai crowded kita ambil keputusan untuk menutup jalan,” ujarnya.

Baca juga: Massa Aksi: Kami Menolak RUU KPK M

Kami juga mewawancarai Jessica, salah satu anggota Komunitas Feminis Yogya yang ikut andil dalam kegiatan ini. Jesica mengungkapkan keikutsertaannya dalam aksi ini untuk mendukung peninjauan kembali RKUHP dan mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

“Saya hidup bersama penindasan, saya sudah bertema dengan penindasan, dan saya harus berperang melawan itu semua setiap hari,” tuturnya.

Dari masyarakat sekitar yang kami temui, mereka tidak merasa terganggu dengan adanya aksi ini. Bahkan sebelum aksi dimulai pedagang buah yang memiliki kios disamping jalan gejayan membagikan jeruk kepada masa sebagai bentuk dukungan. Juga Wahid, pemilik kios kawat gigi juga mengatakan tidak merasa dirugikan dengan adanya aksi ini.


Foto saat pedagang membagikan buah untuk massa aksi.

Di penghujung acara tepatnya dibelakang panggung orasi, saya menemui Obed Kresna selaku Koordinator Umum (Kordum) untuk bertanya lebih dalam terkait agenda ini. Obed menyatakan aksi ini murni dimotori mahasiswa dan masyarakat sipil yang resah terhadap kondisi sosial politik saat ini. Kepada kami, dia menyebut kalau aksi ini diikuti oleh kurang lebih sepuluh universitas dengan tuntutan yang urgent saat ini dan dapat dilihat dalam kajian yang telah dibuat dengan total 21 halaman.

“Pertama RUU KUHP, kami tidak menolak RUU KUHP. Tapi ada beberapa pasal ngawur yang kami rasa mematikan Demokrasi di Negeri ini. Kedua, kebakaran hutan dan kerusakan lingkungan yang terjadi harus segera diselesaikan. Kami tidak mau ada lebih banyak korban akibat ini,” ucap Obed.

Dia berharap gerakan ini mampu merubah kebijakan yang ada di pusat. Jika tidak ada tanggapan seperti apa yang diawal tadi dikatakan, ini baru permulaan. Dan terakhir, reporter kami mencekal Obed dengan pertanyaan terkait apakah akan dilakukan aksi lanjutan?

“Kita lihat saja nanti,” tutup Obed.

Reporter: Iqbal & Fairuz

Baca juga: WR 1 UNY: Kami Tegas Menolak Revisi UU KPK