Oleh: Willy AP

Pada saat yang genting seperti ini hanya ada dua yang dapat kita lakukan, berjuta kali turun aksi, atau pindah kewarganegaraan ke negara lain. Hal itu lebih baik dari pada kita diam dan menyaksikan keruntuhan demokrasi di negeri ini.

Selasa (23/09) lalu telah terjadi aksi besar-besaran yang digerakkan oleh mahasiswa se-Yogyakarta dan diikuti oleh berbagai elemen masyarakat. Aksi yang diikuti ribuan orang tersebut sebelumnya digerakkan dengan tagar #GejayanMemanggil. Seperti tagarnya aksi tersebut memang diadakan di Jalan Gejayan, dan tagar tersebut pun berhasil viral di Twitter.

Aksi Gejayan Memanggil ini merupakan bentuk mosi tidak percaya oleh peserta aksi terhadap DPR dan elit politik Indonesia karena keputusannya seperti keputusan mantan mengecewakan. Seperti RUU KPK, RKUHP, kebakaran hutan dan lahan, serta isu lain yang menelatarbelakangi aksi tersebut.

Namun isu-isu miring pun muncul beriringan sebelum hari H aksi itu dilakasanakan. Mulai dari yang katanya tidak ada kejelasan siapa penggerak dalam aksi tersebut, aksi yang katanya ditunggangi, sampai katanya aksi tersebut bakalan anarkis dan menimbulkan kericuhan, dan katanya-katanya yang lain.

Berbicara tentang ditunggangi, memang betul suatu aksi yang terjadi itu kerap dituding telah ditunggangi oleh pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Demi menilik hal itu saya pun mencari tahu, siapa sebenernya dalang intelektual, atau siapa yang sebenarnya yang menunggangi aksi tersebut.

Sebagai ‘intel’ yang baik, saya pun menilik dari awal, yaitu ketika teklap yang dilaksanakan di Taman Pancasila FIS UNY. Ketika saya mengikuti teklap tersebut ada hal yang membuat saya tercengang, bukan karena banyaknya mahasiswa yang datang, tapi tentang patungan uang untuk membiayai logistik dan perlengkapan aksi yang akan diadakan esok harinya.

Baca juga: #GejayanMemanggil: Perjuangan di Gejayan Jilid II

Saya pun mulai meragukan isu bahwa aksi ini ditunggangi oleh pihak yang memiliki kepentingan sendiri, karena jika ditunggangi harusnya peserta aksilah yang dibayar, bukan malah urunan untuk kebutuhan aksi tersebut. Namun tidak mungkin isu ditunggangi tersebut hadir tanpa sebab, seperti kata pepatah, ada asap tentunya ada api.

Ketika aksi dilakukan, saya pun kembali menelusuri siapa sebenarnya yang menunggangi aksi tersebut. Dengan harapan bahwa akan ada bagi-bagi nasi kotak, atau mungkin amplop seusai aksi berakhir. Saya pun menyusup menjadi peserta aksi. Seperti logika yang di atas, jika memang aksi ini ditunggangi tentunya peserta aksilah yang akan dibayar.

Ketika aksi berjalan, disanalah saya baru mengetahui, bahwa ternyata memang aksi Gejayan Memanggil ini ditunggangi. Bukan oleh salah satu partai oposisi, dan bukan juga oleh organisasi yang ingin meruntuhkan rezim seperti isu yang beredar.

Tapi aksi Gejayan Memanggil ditunggangi oleh kios buah yang ada di sekitaran daerah aksi tersebut. Hal itu terbukti dengan kios buah memberikan buah-buahan, serta minuman kepada peserta aksi Gejayan Memanggil. Para pedagang yang memiliki kios buah tersebut seakan mensponsori para peserta aksi.

Bagi-bagi buah ini pun menjadi warna tersendiri di aksi Gejayan Memanggil, para peserta aksi pun tak lupa untuk menyanyikan yel-yel terimakasih kepada pemilik-pemilik kios tersebut.

Ternyata isu-isu miring yang mengiringi aksi Gejayan Memanggil kemarin tidak sepenuhnya salah. Karena memang aksi tersebut ditunggangi oleh masyarakat sekitar, aksi tersebut memang ditunggangi untuk kepentingan masyarakat yang resah dengan kondisi indonesia saat ini.

Sisanya, isu-isu miring yang lainnya terbantahkan, karena aksi tersebut berakhir damai tanpa adanya provokasi. Saya jadi khawatir, jangan-jangan bukan aksinya yang ditunggangi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, tapi penyebaran isu miring itulah yang ditunggangi oleh pihak yang tidak suka dengan kebebasan demokrasi.

Isu-isu miring tersebut bukan berarti tidak memiliki dampak. Akibat isu yang tidak tahu dari mana asalnya tersebut, banyak surat pemberitahuan dari pihak kampus yang tidak menyetujui aksi tersebut. Bukan hanya pihak kampus, BEM yang merupakan lembaga eksekutif mahasiswa pun banyak yang memilih untuk tidak ikut serta aksi tersebut.

Baca juga:Tolak Berbagai Rancangan UU, Mahasiswa Jogja Lakukan Aksi

Meski dihempas oleh isu miring sana-sini, dan dilarang oleh pihak kampus yang mencari aman, aksi tersebut bisa dikatakan sukses, karena ribuan mahasiswa dan masyarakan mengikuti aksi Gejayan Memanggil.

Hal itu telah cukup sebagai bukti bahwa saat ini keadaan Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Isu yang diangkat diaksi tersebut memang telah menjadi keresahan masyarakat sejak beberapa waktu lalu.

Terutama untuk DPR, yang memang kelihatan jarang bekerja, sekalinya bekerja malah tidur dan membuat peraturan yang menimbulkan kontroversial, maka wajar masyarakat marah dan menimbulkan aksi dimana-mana.

Pada saat yang genting seperti ini hanya ada dua yang dapat kita lakukan: Berjuta kali turun aksi, atau pindah kewarganegaraan ke negara lain. Hal itu lebih baik dari pada kita diam dan menyaksikan keruntuhan demokrasi di negeri ini.

Walau kecewa karena pada akhirnya saya tidak mendapatkan nasi kotak seusai menjadi peserta aksi Gejayan Memanggil, setidaknya saya mendapat buah jeruk yang manis dari penunggang aksi itu. panjang umur perjuangan dan mari kita viralkan hastag #NasiKotakSeusaiAksi karena apalah arti perjuangan kalau kita masih kelaparan.