Ditemui setelah selesainya aksi #GejayanMemanggil2, Humas Aliansi Rakyat Bergerak, Nailendra, menyatakan bahwa Aliansi Rakyat Bergerak bersama berbagai elemen terus menyuarakan tuntutan-tuntutan dan mendesak Pemerintah untuk menyelesaikan berbagai masalah

Diantaranya adalah mendesak Presiden mengeluarkan Perppu untuk UU KPK, menolak RUU Pertanahan, hingga mendesak untuk mempercepat pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (P-KS).

“Kami bersama rakyat yang turun hari ini: Orang-orang Papua yang direpresi, masyarakat korban asap di Sumatera dan Kalimantan, bersama akademisi yang mengkaji dan mengatakan kebenaran, dan jurnalis yang direpresi aparat,” ujarnya.

Baca juga: Hari Ini, Dua Aksi Berbeda Secara Bersamaan Serukan Berbagai Tuntutan

Ketika ditanya soal aksi Forum Badan Eksekutif Mahasiswa DIY (FBD) yang juga melakukan aksi di Gedung DPRD Yogyakarta, Nailendra menyatakan bahwa tidak ada koordinasi dengan pihaknya terkait aksi tersebut.

“Perihal DPRD (aksi di Gedung DPRD, -red) kami belum ada koordinasi. Kami juga tidak mengerti taktis mereka apa disana, dan bukan urusan kami,” terang Nailendra.

Selain itu, Nailendra menyatakan #GejayanMemanggil2 lebih banyak diikuti oleh elemen masyarakat. Hal ini berbeda dari aksi Gejayan Memanggil perdana pada seminggu yang lalu, dimana massa aksi didominasi oleh mahasiswa.

“Bedanya adalah, aksi Gejayan Memanggil minggu lalu didominasi oleh mahasiswa, tetapi pada hari ini lebih banyak diikuti elemen masyarakat,” jelasnya.

Baca juga: Kapolda DIY: Saya Berjanji Akan Meminta Agar Kasus Ini (Randi) Diusut Tuntas

Salah satu massa aksi yang bergabung di #GejayanMemanggil2 adalah para pelajar. Diwawancarai di tempat terpisah, Gilang, pelajar asal Wates senang bisa ikut aksi. Terlebih, ini adalah keikusertaannya yang pertama kali dalam sebuah aksi.

“Seru, senang. Tapi lupa (soal tuntutan aksi), intinya gak masuk akal,” katanya. Menanggapi soal keikutsertaan pelajar dalam aksi, Nailendra menyatakan bahwa pelajar mengorganisir massa secara mandiri.

“Humas menerima banyak pesan bahwa mereka banyak mengorganisir sendiri (dari berbagai wilayah di DIY, -red),” sebutnya.

Sebelum mengakhiri wawancara, Nailendra menegaskan bahwa aksinya sama sekali tidak ditunggangi oleh siapapun.

“Kemudian, hari ini Aliansi Rakyat Bergerak telah dituduh ditunggangi FPI, HTI, atau partai oposisi Pemerintah. Kami menolak (tuduhan tersebut),” tutupnya.

Massa aksi membubarkan diri setelah pembacaan sikap #GejayanMemanggil2 sekitar pukul 16.00 waktu setempat.

Reporter: Akbar