Sumber Foto : UtasTwitter/TunggalP

Oleh: Abiyyu

Bakda isya, seperti hari-hari biasa acara televisi diisi oleh sinetron yang penuh drama kesukaan emak-emak millenial. Hingga akhirnya kami singgah disalah satu stasiun televisi mainstream. Malam tersebut sajian berita yang dipaparkan menyoal RKUHP, Karhutla, Revisi UU KPK sampai beragam drama murahan yang ditampilkan oleh anggota dewan yang terhormat. Terkadang saya beranggapan bahwa anggota dewan yang terhormat adalah lakon sinetron bakda isya; penuh drama, episode yang panjang dan alur cerita yang tidak jelas. Terkadang membuat naik pitam, terkadang membuat tertawa, terkadang membuat kita sedih akibat lakonya.


Singkat kata, kami menolak untuk terus duduk didepan televisi bersama drama murahan. Kami sekeluarga berkeputusan untuk keluar rumah menikmati dinginya malam kota Solo. Akhirnya kami tiba disalahsatu angkringan langganan, duduk di bangku panjang yang orang jawa sebut ‘dingklik’. Tidak lupa, teh manis hangat, gorengan serta nasi kucing menemani malam itu.


Namun, ditengah syahdunya kota Solo malam itu, ayah saya nyeletuk , “habis melihat apa yang dilakukan DPR soal KPK, bapak jadi inget gimana bapak dulu disebut sebagai koruptor sejati oleh temen-temen bapak dulu.”


Sontak saya kaget dengan apa yang diungkapkan olehnya dan bertanya-tanya soal tindak korupsi yang sudah dilakukanya dahulu. Akhirnya saya dan anggota keluarga yang lain mendengarkan cerita bapak dan bisa dibilang cerita ini adalah salah satu hal yang paling belum kita sekeluarga tahu.


Cerita bapak dimulai dengan menyebut dirinya sebagai koruptor. Bukan sekedar koruptor, tepi dia mentasbihkan sebagai koruptor yang kaffah. Katanya koruptor sejati itu memiliki nilai manfaat bagi negara. Hal tersebut jelas berbeda dengan persepsi khalayak luas bahwa koruptor sejatinya adalah dia yang hanya merampok uang rakyat.


“Jika korupsi dikatakan sebagai kejahatan luar biasa, jelas bapak menolak. Seseorang bisa dikatakanan koruptor itu panjang prosesnya. Butuh banyak ilmu bukan hanya pengetahuan saja. Koruptor yang kaffah, harus melalui tempaan yang sangat hebat. Mulai dari kecakapan dalam berbicara, kelihaian, ketelatenan, naluri untuk berkuasa, hingga hasrat untuk dapat mempengaruhi orang banyak.” Ungkap bapak.

Baca juga:Nailendra: #GejayanMemanggil2 Bersama Rakyat


Tidak berhenti disitu, bapak menambahkan bahwa untuk menjadi seorang koruptor kaffah dia harus berproses secara pelan tapi pasti dan tidak boleh grasa-grusu, ibarat air yang mengalir di sungai kehidupan.


Menurut bapak, ajaran koruptorianisme yang dilakukan oleh para koruptor sekarang banyak yang diingkari, hal tersebut terbukti karena banyak diantara penganut ajaran tersebut terciduk KPK dan dimasukan kedalam hotel prodeo. Selain itu, mereka yang terciduk oleh KPK hanya pemula, tidak profesional seperti Edi Tansil yang hingga sekarang batang hidungnya saja tidak terlihat. Selain itu, kebodohan yang sering ditontonkan oleh koruptor sekarang adalah ‘sok menghormati hukum’.


“Itu salah, koruptor yang kaffah itu harus rendah hati, khusyuk dan kalem-kalem aja. Jika tertangkap ya harus mengakui. Jangan malah kemudian beralasan untuk menghormati hukum makanya dia mau dipanggil KPK terus melambaikan tangan ke kamera seolah dia yang paling bermatabat. Salah itu.”


Bapak berhenti sejenak untuk melahap bakwan yang dibawanya tadi. Fokus pada bakwannya. Dan melanjutkan cerita saat bakwan yang ia makan benar-benar habis ditelannya.
“Makanya le, bapak sebenernya tersinggung ketika banyak elit-elit politik diluar sana yang korupsi tapi tidak mau mengakui malah sampai bikin sumpah segala. Itu bukan koruptor, itu celeng, maling. Koruptor itu meskipun menjadi penjahat tapi juga harus menjadi warga yang terhormat”.


Bapak juga menjelaskan bahwa menjadi koruptor jangan didasari dengan niat dan ikhlas sebab hal tersebut akan memperberat proses korupsi itu sendiri. Karena terkadang proses korupsi ini bukan dilakukan secara personal melainkan kerja team.


Bapak berhenti memberi petuah, dia khusyu dengan nasi kucingnya. Sampai akhirnya terbesit satu pertanyaan untuk bapak, “lah terus gimana dengan RUU KPK yang tadi diberita pak?” tanya saya.


Bapak masih masih mengunyah dengan santai hingga akhirnya dia menjawab, “lha koe percaya sama berita-berita le?, revisi itukan memang rencana DPR yang mau mengembalikan marwah seorang koruptor. Menjaga integritas koruptor. Jadi DPR ini ingin menyamaratakan koruptor dengan yang bapak sebut maling, celeng, tadi.”


Sebelum melanjutkan bahasan, jahe gepuk datang menyapa kami. Seolah-olah jahe hangat melambangkan pembahasan kami bersama bapak yang semakin lama semakin menghangat.


“Bagi bapak, enggak ada yang namanya pelemahan KPK, karena apabila KPK dilemahkan maka tindak korupsi juga diperlemah. DPR disini hanya menstabilkan tindak korupsi dengan demikian KPK juga secara tidak langsung juga distabilkan. Kita harus lihat korupsi itu dari perspektif yang berbeda. Jangan asal tuduh kalau korupsi itu memang murni kejahatan luarbiasa.” Lanjutnya.


“Lagian juga siapa KPK? kok bak dewa saja dibikin lembaga yang independen. Lembaga seperti KPK itu tidak baik apabila independen. Jadi jika KPK dikonsep dibawah pemerintah itu sudah benar. Pemerintah harus melindungi, kalau bisa KPK masuk ke dalam salah satu kementerian biar lebih banyak sekutunya. Dan soal tim pengawas bapak sangat setuju, DPR sudah membayangkan apabila KPK nanti mau menangkap pelaku korupsi dan hal tersebut bocor sebelum penangkapan, tidak lain hal tersebut dimaksudkan agar pelaku korupsi bisa menyiapkan diri.”


Singkatnya, sebelum menafsirkan hal tersebut benar atau tidak, pahami dulu filosofi yang terkandung dalam ajaran koruptorianisme. Jangan asal tuduh dan menganggap hal tersebut tabu, karena ‘korupsi adalah kita’
Karena cerita bapak membuat satu perspektif baru dan sangat tabu , maka spontan pertanyaan meluncur kepada bapak, lantas waktu dulu bapak korupsi apa?, dan dengan santainya bapak menjawab, “Korupsi cintanya Ibumu le, makanya bisa jadi kamu-kamu semuanya. Hehehe.”

Baca juga: Aksi Gejayanmemanggil Ternyata Ditunggangih