Oleh: Willy Andrian Permana

Saya penasaran, kok ada ya mahasiswa yang bayar kuliah mahal-mahal tapi kerjaannya malah jualan makanan keliling, jualan bunga, bahkan ngamen untuk ngadain kegiatan kampus. Terus mereka bayar kuliah mahal-mahal buat apa?

Matahari sangat terik untuk ukuran pukul 7.15 pagi. Minggu (10/11) itu, berdalih sedikit olahraga padahal lebih banyak cuci mata, saya berjalan menelusuri aspal antara Fakultas Teknik UNY dan Fakultas Peternakan UGM; Jalan Karangmalang namanya.

Setiap Minggu pagi, ratusan atau mungkin ribuan orang sudah secara otomatis memadati jalan ini. Tujuannya tak lain pasar kaget bernama Sunday Morning (Sunmor). Katanya, belum afdhol jadi mahasiswa Jogja kalau belum beli kaos kaki 10 ribu tiga di pasar mingguan ini.

Tapi jangan salah, tidak hanya kaos kaki yang ada di Sunmor. Coba lihat sekelilingmu, semua barang yang kamu lihat saya jamin ada di Sunmor; termasuk kenangan manis saat kamu sama dia masih hangat-hangatnya.

Dengan kesadaran yang belum penuh, mata masih teramat berat karena kantuk yang laknat, saya terus menyusuri Jalan Karangmalang menembus kerumunan orang-orang. Semalam, saya baru bisa tidur selepas subuh, hanya untuk menyaksikan kekalahan Arsenal dari tim medioker, Leicester City. Malam yang sempurna.

Baca Juga: Siapa Bilang KPK Dilemahkan

Langkah demi langkah semakin membawa saya masuk ke perut kerumunan. Di samping kanan dan kiri berjejer stan demi stan yang menjajakan bermacam hal, dari makanan, pakaian, perabot rumah tangga, bahkan hewan peliharaan.

Ketika asyik menikmati romantika sunyi di tengah keramaian itu, perhatian saya tertarik pada sebuah stan yang menjajakan sop buah. Bukan sop buahnya yang menarik perhatian saya, melainkan penjualnya. Mereka adalah Silmi Kaffah dan Chindi Nur Yuliani, keduanya adalah adik tingkat saya di sebuah organisasi mahasiswa.

“Ayo dibeli-dibeli, sop buahnya enam ribuan saja,” teriak keduanya bergantian tampak sangat bersemangat.

Agar lebih menarik calon pembeli, kadang mereka juga meneriakkan kalimat-kalimat nyleneh.

“Sayang anak-sayang anak,” teriak Silmi.

“Yang galau, silakan dibeli sop buahnya kak,” teriak Chindi menimpali tak mau kalah.

“Mangga teteh, aa, dipeser sop buah genep ribuan,” sahut Silmi lagi dengan bahasa ibunya tak mau kalah kreatif dari Chindi. Gelak tawa sesekali pecah ketika mereka melontarkan kata-kata nyleneh itu.

Baca Juga:Academic Trap Mahasiswa Pendidikan Teknik

Menemukan teman di antara ribuan orang, tanpa pikir panjang saya langsung menghampiri mereka.

Dalam benak saya mulai muncul bermacam pertanyaan, untuk apa mereka jualan? Apakah uang saku mereka sudah habis? Bukankah ini masih tanggal muda?

Selain Silmi dan Chindi, ternyata di sana ada juga Farras Hakim Prasetyo dan Arba Septian Permata, yang ternyata mahasiswa FT UNY juga. Dugaan saya ternyata keliru, mereka jualan sop buah untuk membiayai kegiatan organisasinya, sebuah seminar nasional bertajuk Sekolah Pecinta Indonesia (SPI).

“Udah laku berapa?” tanya saya.

“Belum laku sama sekali mas,” jawab mereka hampir serentak. Sinar mata mereka tampak nanar, seolah menodong saya dengan kalimat “ayo diborong mas”.

“Cari uang susah mas,” saut Farras.

Saya agak tergelitik mendengar kalimat itu terucap dari mulut seorang mahasiswa. Sebuah kalimat yang kerap terlupakan oleh kebanyakan mahasiswa ketika sudah hidup di tengah masyarakat urban.

Drama Jualan Sop Buah

Malam hari sebelumnya, ketika teman-teman mereka asyik menghabiskan akhir pekan untuk refreshing melepas penat dari hiruk pikuk perkuliahan, Arba yang merupakan mahasiswa Jurusan Teknik Boga justru sibuk mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat sop buah yang dijual di Sunmor esok harinya.

“Total modal untuk beli bahan-bahan Rp 174 ribu, jika terjual semua akan mendapatkan keuntungan Rp 66 ribu jika dijual enam ribu satu cupnya,” ungkap Arba di tengah kesibukannya pagi itu.

Di sela kuliah dan tugas yang tidak sedikit, mereka harus menyempatkan waktu mengurus administrasi penyewaan tempat. Padahal, mereka semua adalah mahasiswa semester pertama, bukan asli Yogya pula, bisa dibayangkan bagaimana kebingungan yang mereka hadapi.

“Kami menyempatkan waktu meminjam KTM anak UGM untuk menyewa tempat, dan juga cepet-cepetan mendapatkan tempat,” tambah Farras.

Baca Juga: Hari Pers, Memaknai Sejarah dan Harapan Publik

Sembari menunggu pembeli pertama, mereka bercerita bagaimana pagi-pagi sekali (tentunya untuk ukuran saya) mereka harus menyiapkan segala keperluan untuk jualan. Pukul 6.45, mereka sudah berada di Sunmor untuk menyiapkan dagangannya di stan yang sudah disiapkan.

Mereka baru bisa pulang setelah semua dagangannya habis. Jika tak habis, artinya mereka harus menunggu pukul 12 siang ketika Sunmor ditutup dan matahari benar-benar ada di atas kepala.

“Minggu depan kami juga berencana jualan kembali” kata Farras.

Ketika kami sedang asyik mengobrol, seorang lelaki berbadan kekar datang menghampiri kami. Dia ternyata salah seorang panitia Sunmor. Seketika, obrolan kamipun terhenti.

“Orang yang menjadi atas nama di surat perizinan ini yang mana?” tanya lelaki itu.

Seketika suasana menjadi mencekam. Mereka terdiam mendapat pertanyaan itu, begitupun saya yang ikut terbawa suasana. Kami sama-sama tahu, kalau orang yang dimaksud adalah mahasiswa UGM yang mereka pinjam KTM-nya. Celakanya, dia tidak ada bersama kami saat itu.

Melihat reaksi kami, petugas Sunmor itu akhirnya tahu juga kalau si pemilik KTM tidak bersama kami saat itu. “Hubungi dia dan suruh dia ke sini, karena atas nama ini harus berada di sini, kalau tidak, (nanti) kena denda,” kata lelaki itu menjawab kebingungan kami.

Karena baru pertama kali jualan di Sunmor, mereka ternyata tidak tahu soal aturan itu. Namun dengan sigap mereka langsung menghubungi si pemilik KTM untuk datang ke lapak mereka.

Dana Seminar yang Tak Pasti

Minimal Silmi dan teman-temannya harus punya dana minimal Rp 15 juta untuk menyelenggarakan seminar nasional itu. Angka itu pun sudah ditekan sedemikian rupa dari angka awal Rp 20 jutaan. Sementara dana yang disediakan kampus hanya Rp 1,5 juta. Itu artinya mereka harus mencari tambahan Rp 13,5 juta agar seminar itu dapat terlaksana.

Sebenarnya biaya tersebut dapat ditutup jika penjualan tiket lancar. Apabila 620 tiket yang tersedia tandas, mereka bisa mengumpulkan dana sekitar Rp 18 juta. Itu artinya dana mereka masih surplus sekitar Rp 3 juta.

“Jika dana tersebut tercapai, kemarin diperkirakan masih ada lebihnya” ujar Silmi.

Tapi, siapa yang bisa menjamin kalau semua tiket akan ludes? Bahkan akhir pekan lalu tiket yang terjual belum sampai 50 biji. Akhirnya panitia dipaksa memutar otak bagaimana agar dana yang mereka punya bisa mencukupi. Akhirnya, meski di rencana awal tidak ada danusan (dana usaha), Farras mengusulkan tetap diadakan untuk menambah pemasukan meski hanya sedikit.

“Danusan sendiri untuk membantu uang masuk, karena pemasukan (dari tiket) belum menentu,” ujar Farras.

SPI merupakan program pengembangan leadership mahasiswa yang langsung dibawah BEM FT UNY. Tiap tahun, mereka menyelenggarakan seminar nasional. Tahun ini, seminar yang mereka adakan bertajuk “Antara Nasionalis dan Apatis, di Manakah Posisi Generasi Muda?”.

“Nanti itu bakalan ada empat narasumber, dua dari pro pemerintah dan dua lagi itu kontra,” ujar Silmi menjelaskan konsep acara seminar nasional tersebut.

Dari dulu, SPI memang focus pada isu nasionalisme mahasiswa.

“Seperti namanya Sekolah Pecinta Indonesia, tujuan dari seminar ini untuk mengedukasi para peserta untuk lebih mencintai Bangsa Indonesia” ujar Ketua Panitia Seminar Nasional SPI, Ahmad Alfajri di lain kesempatan. Fajri berharap agar seminar yang akan digelar 22 November 2019 ini dapat menumbuhkan rasa nasionalisme bagi para peserta. Waktu terus berjalan, dan hari pelaksanaan itu semakin dekat. Itu artinya mereka harus lebih rajin mencari uang agar acaranya dapat berjalan sesuai rencana.