Panasnya udara siang pukul 11.00 (25/11) cukup membuat saya mandi keringat. Tak pelak hal itu membuat keringat dikepala mengalir melewati pelipis mata, hingga membuat saya sesekali mengusapnya untuk menghentikan laju keringat tersebut.

Saya mendongakan kepala, terfokus pada gedung lantai 2 Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Rasa kagum sekaligus bangga membuat tubuh saya merinding seketika. Namun, gedung megah berlantai tiga tersebut bukanlah alasan sesungguhnya saya berbangga, melainkan banner besar bertuliskan “Gedung Ini Disegel, Sedang Ada Perbaikan Demokrasi”. Banner tersebut dikibarkan perlahan dari lantai dua, menjulang kebawah diiringi sorakan para peserta aksi.

Perjalanan Menuju Rektorat

Sedari pukul 9.00 pagi, massa aksi #WatesAdalahKita telah memadati halaman parkir mobil belakang KPLT Fakultas Teknik (FT) UNY. Dengan seragam almamater kebanggaan, masa aksi duduk takzim mendengarkan koordinador lapangan (korlap) menjelaskan teknis longmarch dari FT menuju rektorat UNY.

“Aksi kita ini adalah aksi damai, aksi super damai”, teriak Bayu Septian selaku korlap aksi #WatesAdalahKita .

Pukul 9.30 massa aksi mulai bergerak melewati lorong-lorong kampus FT. Tidak hanya mengajak yang mereka hampiri di lorong jalan FT, sebagian masa lainya bahkan ada yang langsung menghampiri ke jurusan masing-masing guna mengajak mahasiswa lain untuk menyuarakan tuntutan.

Sejenak masa aksi #WatesAdalahKita berhenti ketika sampai di timur gedung LPPM. Ternyata mobil komando, dan masa aksi yang lebih banyak telah menunggu mereka disana. Selebaran, poster, dan banner dibagikan kepada masa aksi.

Massa aksi mulai berjalan dengan dipimpin mobil komando menuju rektorat. Mereka berjalan melewati fakultas Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Ilmu Sosial (FIS), dan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Tidak lupa lagu Darah Juang, Buruh Tani, dan yel-yel penyemangat menggema guna membakar semangat para peserta aksi. Dalam longmarch tersebut juga tidak sedikit mahasiswa yang langsung ikut kedalam barisan, saling menyamakan persepsi dalam satu tekad ‘Pembenahan Demokrasi Kampus’

Baca Juga: Aksi Watesadalahkita: Dari Merawat Aksi Hingga Akreditasi

Tiba di Rektorat

Perkuliahan dua tempat yang dialami oleh Diploma IV FT memantik api kekecewaan dari mahasiswanya karena kerap dianggap memberatkan baik dalam segi mobilitas maupun efektifitas. Hal tersebut juga adalah latar belakang terjadinya aksi #WatesAdalahKita siang itu.

“Tuntutan kami adalah pemindahan seluruh perkuliahan DIV sementara kekampus pusat, sampai fasilitas dan sarana lainya di Wates sepenuhnya terpenuhi”, Ujar Wahyu Agung Putra Ketua BEM KM UNY ketika berada di atas mobil komando.

Sejak pukul 10.30 masa aksi telah memadati halaman depan rektorat. Mereka disambut oleh  jajaran rektorat, meski tidak ada Sutrisna Wibawa sebagai Rektor UNY yang sedang berada di Jepang, namun Wakil Rektor (WR) dari satu sampai empat komplit menyambut masa aksi. Tidak hanya jajaran rektorat, tampak juga disana wakil dekan bidang kemahasiswaan dari berbagai Fakultas mendampingi. Mereka berdiri di teras rektorat yang berhadapan langsung dengan para peserta aksi.

Para perwakilan dari masa aksi saling bergantian melakukan orasi dan membacakan tuntutan, diiringi sorak sorai dari ratusan peserta aksi, bakaran semangat semakin terlihat dan teriakan semakin menggema. Ditambah dengan engganya para birokrasi kampus untuk menandatangani tuntutan para peserta aksi, kekecewaan dan kemarahan pun campur aduk disiang yang terik itu.

Bukan hanya memasang bener di lantai dua rektorat, bendera yang terpasang di depan gedung rektorat pun diturunkan menjadi setengah tiang oleh masa aksi. Hal itu juga adalah bentuk kekecewaan akibat tidak diterimanya tuntutan oleh pihak birokrasi, dan seakan mengibaratkan bahwa UNY sedang berkabung.

Baca Juga: Menanggapi Aksiwatesadalahkita, Rektor: Iklim Vokasi Berbeda Dengan Akademik

Masa Aksi Merangsek Masuk ke Teras Rektorat

“Sesuai kesepakatan kita, jika tuntutan tidak dipenuhi, maka kita akan menduduki rektorat” ungkap Agung bersemangat. Mendengar itu, masa aksi yang telah bersiap ingin masuk guna menduduki teras gedung rektorat mulai merangsek ke teras gedung rektorat. Muka kelelahan karena kepanasan, mulai luntur setelah menduduki teras rektorat yang lebih teduh.

“Gimana adem teman-teman?” tanya Agung kepada peserta aksi dan dijawab serentak “iya”. Dengan muka yang sangat puas karena berhasil menduduki dan menyegel gedung rektorat, gelak tawa sesekali terlukis di wajah para peserta aksi.

Orasi-orasi pun kembali didengungkan, dan dengan tertib masa aksi duduk fokus untuk mendengarkan. WR 1 Margana pun akhirnya keluar dan berbicara dengan masa aksi, mencoba untuk menenangkan masa aksi yang telah kecewa karena tuntutannya tidak terpenuhi.

“Kita telah menambah bus sebanyak tiga armada dan besok sudah bisa beroperasi” ungkap Margana. “Kita akan membangun empat lab dan yang satu kita percepat, agar kedepannya mahasiswa DIV bisa menjalankan kegiatan belajar mengajar keseluruhan di Wates” tambah Margana.

Namun pernyataan dari WR1 tersebut tidak dapat memuaskan peserta aksi. Mereka menganggap pernyataan tersebut tidak sesuai dengan tuntutan yang disodorkan yakni memindahkan semua kegitan belajar mengajar mahasiswa DIV ke kampus pusat untuk sementara, sampai seluruh fasilitas dan sarana di kampus Wates terpenuhi.

Dengan tidak puasnya akan pernyataan WR1 tersebut, masa aksi tetap berkomitmen mendesak  jajaran rektorat untuk menandatangani dan memenuhi tuntutan yang diajukan. Sehingga seluruh peserta aksi memutuskan untuk tetap menduduki rektorat sampai sore jika tuntutan mereka tak kunjung dipenuhi.

Baca Juga: Rektor: Saya Menolak Ajuan Tersebut

Massa Aksi Membubarkan Diri

Waktu terus bergulir, orasi demi orasi silih berganti untuk tetap menjaga semangat peserta aksi tetap membara. Tepat pukul 14.45 massa aksi pun mulai berdiri dan berbaris. Ternyata telah waktunya bagi mereka untuk menyatakan sikap, dan membacakan press release-nya.

“Kami aliansi mahasiswa bergerak tidak terpengaruh oleh represifitas fisik maupun akademis” teriak Agung dengan lantang membacakan pernyataan sikap dan diikuti bersama oleh massa aksi yang lainnya. “Kami aliansi mahasiswa bergerak berkomitmen untuk mengawal tuntutan kami dengan aksi pada hari jumat 29 november sampai Rektor menandatangani tuntutan”, tambah Agung dan ditutup sorak sorai seluruh peserta aksi.

Setelah membacakan pernyataan sikap, merekapun dengan semangat membacakan sumpah mahasiswa. Tepat pukul 15.00 masa aksi membubarkan diri diiringi dengan lagu darah juang diikuti sorak sorai yang memekikan.

Penulis: Willy Andrian
Editor: Teguh Perdana