Oleh: Lindu Ariansyah

Novel ini berkisah tentang seorang wanita bernama Helen Maria Eleonora. Gadis Belanda yang lahir tahun 1924 dan besar di Tjiwidei (Ciwidey). Tumbuh dalam keluarga Belanda khas dan hidup berkecukupan, juga mengutamakan nilai-nilai budaya barat, termasuk pendidikan Katolik yang taat.

                Helen lebih banyak menghabiskan masa kecilnya di dalam rumah. Hanya berteman dengan buku-buku, biola dan Sitih (pembantunya). Beranjak remaja, Helen jatuh cinta dengan Sukanta, pemuda pribumi dan juga anak seorang “pemberontak.” Kisah cintanya dengan Sukanta begitu banyak rintangan, disetiap jengkal kehidupanya selalu ada perbedaan di antara mereka. Mulai dari agama, budaya, bahasa dan kasta. Stereotip tentang perbedaan kasta antara masyarakat Belanda sebagai penguasa Hindia dan masyarakat pribumi sebagai pihak Inlander pada zaman itu tentulah menjadi halangan terbesar. Tidak hanya itu, kehadiran paman Bijkman membuat semakin rumit kisah cinta mereka karena dia menghasut orangtua Helen agar tidak merestui hubungan keduanya.

                Sampai pada satu waktu, Ukan menghilang tanpa diketahui sebabnya dan Helen pun harus melanjutkan sekolahnya ke Bandung. Masa-masa jauh dari Ukan ini menumbuhkan rasa haru dan rindu yang sangat mendalam bagi Helen. Bagaimana pun, kehidupan harus berlanjut. Di Bandung, Helen bertemu Hans, yang kelak jadi kekasihnya. Walau begitu, kerinduan Helen akan sosok Ukan masih terus menggebu bak bola salju yang terus menggelinding.

                Suatu ketika, Helen melihat sosok siluet yang ia curigai mengikutinya selama dua hari terakhir. Sampai suatu malam ketika ia pulang jalan dengan Hans, sosok itu memunculkan dirinya dan tidak disangka itulah Ukan. Betapa senangnya Helen berjumpa kembali dengan kekasih hatinya yang ia pikir sudah tiada. Malam itu juga, Helen memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama Ukan. Ia tuliskan secarik kertas surat perpisahan kepada Hans dan dengan bantuan Sitih, ia melarikan diri bersama Ukan ke Lembang. Mereka akhirnya menikah dan hidup bersama di sana. Tetapi, takdir berkata lain. Perang Dunia pecah, Jepang datang dan mengubah segalanya.

Kelebihan Buku

                Novel ini merupakan adaptasi dari kisah nyata. Pidi Baiq selaku penulis telah menyiapkan naskahnya sejak tahun 2000, dimana ditahun terebut adalah awal pertemuannya dengan Nyonya Helen di Restoran Lachende Javaan, Frankstraat, Belanda. Sebelum terbit jadi buku, Pidi Baiq juga pernah menuliskannya di blog pribadi pada November 2017.

Novel Helen dan Sukanta berlatar zaman Hindia Belanda dan Jepang. Diceritakan dari sudut pandang orang pertama yang hidup di zaman itu, sehingga cerita lebih terasa hidup. Romantisme antara dua insan yang secara kasta berbeda ini, menghadirkan kisah cinta yang tidak biasa. Tidak hanya masalah perasaan tapi juga melibatkan peristiwa-peristiwa besar waktu itu. Ada banyak nilai-nilai kehidupan yang diceritakan di sini, baik dari sisi sosial, budaya, ekonomi bahkan sejarah. Dalam novel ini juga, terkadang diselipkan bahasa asing sehingga cukup edukatif.

Untuk gaya penulisan dan ceritanya, sama seperti novel-novelnya sebelumnya, Pidi Baiq menggunakan gaya khasnya dengan penyusunan kata dan kalimat yang unik. Diksi yang digunakan relatif familiar untuk pembaca dan alur ceritanya sungguh dapat menggugah perasaan pembacanya.

Kekurangan Buku

                Novel cetakan pertama ini, masih terdapat beberapa kesalahan ketik atau typo. Novel ini juga minim sekali gambar ilustrasi di dalam ceritanya.  Bagi yang pertama kali membaca buku karya Pidi Baiq, akan lebih baik jika kalian juga membaca karya-karyanya yang lain juga agar lebih akrab dan paham dengan karakter dan gaya tulisannya.

Identitas Buku

                Judul buku         : Helen & Sukanta

                Penulis                 : Pidi Baiq

                Penerbit              : The Panasdalam Publishing

                Tahun terbit      : Desember 2019

                Jumlah halaman : 364 halaman

                Nomor edisi      : ISBN 978-623 92083-0-1