oleh : Airlangga

Cerita ini dimulai pada Sabtu (8/2) sore. Aku sedang menanti seorang teman di sekitar kawasan Monumen Jogja Kembali (Monjali). Sembari menunggu, aku buka media sosial. Asyik berselancar, aku menemukan sebuah unggahan dengan latar belakang berwarna oranye. Tulisannya sangat jelas, “FESTIVAL MELUPAKAN MANTAN, MENTAS.”

“Sepertinya menarik,” gumamku.

Aku menghubungi seorang teman untuk menemaniku ke acara itu. Jawabannya singkat, “Observasi”.

Jawaban singkat itu menandakan kalau dia menolak ajakanku. Dia ada agenda untuk observasi dalam rangka praktik mengajarnya di sekolah. Okey, tak masalah. Temanku bukan hanya dia.

Aku hubungi temanku yang lain, namun lagi-lagi penolakan yang aku dapatkan, bahkan penolakan itu terasa lebih menyakitkan karena tanpa alasan yang jelas. Ah, mungkin dia ingin istirahat, sedang menenangkan pikiran, maklum mahasiswa tua, banyak pikiran dan butuh waktu untuk berkontemplasi seorang diri.

Sebenarnya aku masih punya beberapa beberapa teman lagi, tapi dua kali penolakan rasanya sudah cukup perih. Aku belum siap menerima penolakan ketiga. Sendiripun aku pikir tidak terlalu buruk.

Waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Kamis (13/2), selepas Maghrib bersama motor bebek biruku aku berangkat ke lokasi festival di Warung Kopi Mezzanine, Jalan Palagan Tentara Pelajar Km. 8, No 30, Yogyakarta.

Langit mendung mengiringi keberangkatanku. Rintik gerimis sesekali tumpah, membasahi kacamata yang aku kenakan. Suasana saat itu sangat puitik, sepanjang jalan aku merasa sangat melankolis. Sesekali bayangan masa silam terbersit di ingatanku.

Akhirnya aku sampai di lokasi, sebelum ingatan itu makin menjadi. Sepeda motor aku parkirkan di tengah kendaraan lain yang hampir memenuhi tempat parkir. Perlahan aku memasuki warung kopi itu, di dalam ada ruangan terbuka semacam aula yang sudah cukup ramai. Sejuk angin malam yang berasal dari jendela-jendel dan ventilasi ruangan itu terasa sekali menerpa wajahku.

Lagu Payung Teduh menyambut kedatanganku pada acara Festival Melupakan Mantan (FMM)  ke-5 ini. Di bagian depan aula ada sebuah panggung yang tak terlalu tinggi. Di depannya telah digelar karpet, di sanalah orang-orang yang ingin melupakan mantan akan menikmati acara malam ini. Jarak antara panggung dan tempat peserta yang berdekatan membuat acara malam itu terasa sangat akrab, seperti tanpa sekat antara pengunjung dengan penampil.

Baca juga: Helen & Sukanta: Romantisme Zaman Kolonial

Sebelum duduk, aku berkeliling sebentar. Ada beberapa stan di lokasi festival, ada yang menjual makanan dan minuman, ada stan Wall Memories, yakni sebuah tempat tangkap layar chat dari mantan. Ada juga stan untuk menuliskan kesan dan pesan untuk mantan, dan yang terakhir ada stan pengumpulan barang peninggalan mantan. Acara pengumpulan barang dari mantan ini merupakan ciri khas FMM setiap tahun.

Larung Barang

Konsep pengumpulan barang dari mantan mengadopsi sebuah tradisi dari budaya Jawa, yakni larung. Tradisi ini bertujuan untuk menyingkirkan aura negatif pada diri seseorang dengan perantara simbol yang berbentuk benda. Sehingga ketika hal negatif itu tersingkir, maka energi positif dalam diri manusia itu akan muncul. Bedanya, barang-barang yang dilarung pada malam itu akan didonasikan, bukan dibuang.

Feva (21), mengutarakan ketidaknyamanannya karena menyimpan barang pemberian seseorang yang pernah singgah dalam hidupnya. Ia merasa selalu gemas ketika melihat barang itu.

“Kalau akau sempat agak kesel aja sih nyimpen barang-barang mantan itu, barangnya berupa boneka dan headphone. Kayak kalo melihat itu bawaannya pingin dinjek-dinjek, dipatahin dirusakin begitulah mas,” katanya gemas.

Senada, Harits (21) juga mengutarakan hal yang sama. Ia selalu merasa dibawa ke masa silam ketika melihat barang pemberian mantan. Itu sangat mengganggu pikirannya, dia selalu terbawa dalam ingatan tentang bayangan mantan, momen istimewa dengannya, dan sebagainya.

“Jadi barang itu ditaruh di depan meja kerjaan, barangnya itu berupa dompet. Apabila lagi bekerja terus melihatnya jadi malah overthink dan itu menganggu,” ucapnya.

Dari cerita Feva dan Harits, ternyata sebesar itu dampak yang bisa diakibatkan oleh barang pemberian mantan. Saya juga pernah mengalami hal itu, dan sampai sekarang belum pulih sepenuhnya. Saya masih sering memandangi barang pemberian mantan, dan terjebak dalam nostalgia masa silam.

“Dompet itu sejak 2011, tapi perasaan galaunya itu baru muncul akhir-akhir ini. Dompet itu sebenarnya sempat dipakai sampai tahun 2018. Setelah ganti dengan dompet yang baru, perasaan galau akibat kesan dari dompet yang lama baru muncul ketika melihatnya di meja,” lanjut Harits.

Sementara Feva lebih memilih menyimpan barang pemberian mantan dalam sebuah kotak dan tak pernah menyentuhnya lagi. Dengan begitu, dia tidak akan melihatnya.

“Baru kemarin tau FMM, kemudian ada informasi barang kenangan dan teringat barang pemberian itu. Aku kemudian keluarian dan terus biasa saja udah gak ada perasaan benci,” kata Feva.

Dampak Patah Hati

Setiap hal yang kita alami pasti akan memberikan dampak, tidak terkecuali patah hati. Peristiwa pilu ini sebagian besar dialami oleh setiap orang, kecuali mereka yang semasa hidupnya sudah berprinsip tidak ingin pacaran dan langsung menikah saja. Atau seorang idealis yang masih mencari makna hidup sehingga memutuskan tidak ingin mengenal apa yang dinamakan cinta. Tapi kedua alasan itu pun tidak benar-benar menjamin seseorang terbebas dari patah hati. Sebab, kadang cinta datang tanpa diundang, dan pergi meninggalkan air mata yang masih menggenang.

Ketika patah hati, sekuat apapun seseorang bisa menjadi sangat terpuruk. Patah hati bisa membuat hati seseorang dipenuhi rasa benci dan dendam, depresi, nethink, frustasi, mencoret-coret tembok, hingga yang paling parah: self harm atau bunuh diri.

“Yang pertama tentu down, yang kedua ada sebagian orang yang kemudian menjadi benci. Aku sempat merasakannya saat itu. Dari down kemudian benci, habis itu gimana caranya kita harus mampu merelakan itu semua,” kata Feva.

“Hari-hari cuman kepikiran orang itu terus, sedih, mogok makan lah terus kayak mohon-mohon gitulah. Hal terbodoh lah mas,” lanjutnya.

Sementara Harits, mencoba mengusir lukanya dengan minum alkohol. Seperti pepatah lama, jadian makan-makan, putus minum-minum.

“Paling parah ya minum (alkohol) lah mas,” kata Harits.

Patah hati bisa membuat seseorang secara sadar atau tidak akan menyakiti dirinya sendiri. Karena yang merasakan dampaknya adalah diri sendiri, maka mau tidak mau kita sendirilah yang harus menemukan penawarnya. Dan penawar itu tidak jauh, ada di dalam diri kita sendiri.

Ada dua pilihan, tanyakan pada diri sendiri, apakah mampu menatap ke depan dengan harapan atau selalu meratapi sebuah penyesalan? Mengikhlaskan, jawaban yang mainstream, tapi itulah bahan utama dari penawar patah hati.

Alternatif penawar kedua ialah waktu, saya akan memberikan petuah dari bapak jomblo nasional Tan Malaka yang saya kutip dari autobiografinya, bunyinya seperti ini “Tetapi pada ribut topan sanubari sebagai akibat kehilangan kekasih. Sang tempo berlaku sebagai balsem pada luka yang dalam”. Percaya saja sama waktu bro!

Mentas seko Kandas ( Keluar dari kehancuran)

“Harapannya engggak bakal lagi keinget lagi sama dia,” harap Harits.

Feva juga punya harapan besar untuk dirinya setelah mengikuti acara ini.

“Seseorang juga bisa melepas apa yang ia rasain tentang apa yang tidak bisa diungkapkan di acara ini. Semoga semakin diwadahi sebagai forum mengekpresikan diri, bisa sharing kenangan tentang patah hati yang dirasa paling pahit sehingga ada untuk setidaknya self healingnya,” kata Feva.

Aku mendengar harapan mereka hanya bisa mengaminkan, semoga Tuhan akan melancarkan jalanan mereka.

Acara ini sangat berguna bagi muda-mudi yang sedang dilanda masalah percintaan. Mereka bebas mengekspresikan kenangannya, terkhusus tentang sang mantan. Bercerita atau mendonasikan barang peninggalan mantan juga dapat menjadi usaha seseorang untuk lekas beranjak dari belenggu kesedihan dan menyakiti diri sendiri menuju ke kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat. Tidak dipungkiri bahwa kesedihan ialah bagian dari kehidupan, tapi jangan sampai kita terus dibelenggu olehnya.

Acara itu sebenarnya belum selesai, tapi hari sudah malam. Aku putuskan untuk pulang lebih dulu, meninggalkan Feva, Harits, dan orang-orang ambyar yang masih menikmati jalannya festival itu.

Seorang diri, aku menyusuri Jalan Palagan Tentara Pelajar sambil menikmati malam yang masih mendung. Aku teringat sesuatu kalimat yang diutarakan pembawa acara di awal acara.

“Dilarang mendoakan mantan yang buruk-buruk, karena mantan pernah hadir di hidup kita”.

Ingatan lain juga muncul, aku membayangkan pulang bersama seseorang yang dulu pernah hadir di hidupku. Menyusuri jalan dengan saling berbagi cerita, atau hanya diam dengan tangannya yang dimasukkan ke kantong jaketku.

Sial, kenapa malah mengenangnya di jalan, bukan di acara tadi. Aku harus menemukan warung makan sesegera mungkin.