STOP! Begitulah kira-kira reaksi pertama orang dengan fobia (ODF) ketika digoda oleh teman-temannya tentang masalah phobia yang dialaminya. Bagi seorang ODF, fobia bukan urusan sepele, terlebih bagi mereka yang telah mengidapnya sejak kecil.

Pertanyaanya sekarang, apa sebenarnya yang dimaksud dengan fobia?

Halgin dan Whitbourne (2009) menyebut bahwa fobia spesifik adalah ketakutan irasional dan menetap pada objek khusus, aktivitas, dan situasi yang menyebabkan respon kecemasan secara tiba-tiba, menyebabkan gangguan signifikan dalam performa, dan menghasilkan perilaku menghindar. Sehingga, amat tidak adil apabila kita sampai menyamakan fobia dengan ketakutan biasa.

Fobia berakar dari ketakutan luar biasa yang dialami oleh beberapa orang yang mengidapnya. Nevid, dkk (2005) menyebut bahwa ketakutan luar biasa ini akibat dari pikiran irasional yang mengintensifkan keterangsangan otomik, mengganggu rencana, memperbesar aversitas stimuli, mendorong tingkah laku menghindar, dan meurunkan untuk efikasi diri. Sangat berbeda dengan ketakutan biasa yang terjadi pada peristiwa tertentu yang mengejutkan atau menjijikan.

Sangat disayangkan apabila masih banyak orang yang belum tahu-menahu bahkan tidak peduli dengan fobia dan dampak yang akan ditimbulkanya. Padahal, fobia adalah salah satu gangguan psikologis yang umum dialami oleh sekitar 7-10% populasi manusia (APA dalam Nevid dkk., 2015).

Baca Juga: Pesimis Positif, Seni Hidup Baik-Baik Saja

Dari wawancara yang telah dilakukan bersama orang dengan fobia tertentu, dia menyebut bahwa fobia yang dialami terkadang sampai berdampak ke fisiknya. Dia pun menambahkan, ketika fobia tersebut sedang terasa, maka tubuh secara spontan akan memberikan respon berupa tubuh melemas, dada sesak, terasa ingin menangis sejadi-jadinya, anggota gerak kesemutan dan sulit dikontrol. Tidak berhenti disitu, fobia akan menyerang kejiwaan seperti trauma berat sampai ketakutan berlebihan meskipun sudah tidak bertemu dengan phobianya.

Lebih parahnya lagi, justru banyak yang  menjadikan fobia sebagai bahan gurauan atau mungkin menjadikanya sebagai eksperimen sosial (prank) yang sama sekali tidak lucu untuk melihat bagaimana orang dengan fobia ini merespon. Sebuah ironi memang, tapi mau bagaimana lagi, terkadang orang tidak percaya dengan adanya fobia sampai benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri, atau mungkin mereka berasumsi karena dia adalah sahabatnya, maka gurauan seperti ini dianggap biasa dan lumrah dilakukan.

Orang yang berani mengatakan bahwa dirinya seorang pengidap fobia bukan berarti dia bangga memamerkan “wahh saya punya fobia”. Salah! Mereka berkata demikian untuk meminimalisir agar gurauan dan cara bermain yang akan dilakukan orang lain terhadapnya tidak akan melebihi batas. Dan ada hal yang paling penting,  jika orang dengan fobia telah memberi kepercayaan terhadap orang lain untuk tahu akan fobianya, maka gunakanlah kepercayan tersebut untuk membantunya menghadapi keadaan yang teramat menakutkan baginya, bukan malah dijadikan seagai bahan gurauan atau bahkan prank murahan.

Bagi orang yang memiliki fobia, kalian adalah orang istimewa yang diberi kelebihan untuk memiliki fobia tertentu. Kalau pun kalian tidak ingin mengambil resiko untuk orang lain tahu fobia yang kalian miliki, tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Anggaplah bumi ini milikmu sepenuhnya yang artinya kalian diberi jalan kebebasan untuk melakukan apapun, namun jika terpaksa karena tidak tahan maka katakan sejujurnya, katakan dengan serius dengan orang di sekitarmu.

Terakhir, Apabila kalian telah membaca tulisan ini, maka sampaikan kepada orang-orang tentang betapa hebatnya dirimu melawan fobia selama ini, tidak semua orang mampu setangguh dan setegar dirimu.

Penulis: Resti

Editor: Teguh