oleh: Iqbal

 “bahagia itu sederhana,” kalimat kondang ini menunjukkan bahwa untuk mencapai kepuasan itu tidaklah sulit. Namun benarkah bahagia sesederhana kalimat itu? Harari, dalam bukunya Sapiens mengungkapkan bahwa kebahagiaan tidak sepenuhnya ditentukan oleh pengaruh objektif, kebahagiaan justru ditentukan oleh korelasi antara kondisi objektif dan harapan subjektif. Sederhananya, saya menginginkan nilai B dalam suatu mata kuliah dan kemudian nilai yang saya dapatkan B+, maka disini saya akan puas. Bayangkan jika nilai yang saya harapkan A. Indeed, saya tidak puas hingga mungkin depresi.

Kenyataannya bahagia yang sederhana itu tidak lagi relevan dengan perkembangan yang terjadi sekarang. Berbeda dengan generasi milenial kebelakang, tingkat kepuasan seseorang dimasa kini semakin sulit untuk dicapai. Social comparison atau perbandingan sosial menjadi salah satu faktor yang menentukan tingkat kepuasan seseorang. Teori yang diluncurkan oleh psikolog sosial ,Leon Festinger pada tahun 1954 ini menjelaskan bagaimana setiap individu mengevaluasi diri dengan cara membandingkan dirinya lewat orang lain. Bagaimanapun kita tidak dapat mengelak, sebab social compare secara tidak langsung terjadi secara otomatis. Lalu apa hubungan antara teori ini dengan tidak sederhananya kebahagiaan di masa kini?

Platform jejaring sosial berkembang mulai dari friendster, linkendin, hingga facebook, twitter, dan instagram. Diciptakannya media-media tersebut pada awalnya bertujuan untuk membangun relasi maya dengan cakupan yang luas dan tidak terbatas. Meski demikian, platform-platform tersebut telah membuat kita terjebak dengan apa yang telah dicapai orang lain. Bahkan kepuasan yang kita rasakan sangat bergantung pada seberapa banyak like dan comment dari apa yang kita unggah.

Saya yakin jika kakek saya masih hidup dan saya berikan pertanyaan demikian. Dengan mudah dia akan menjawab kurang lebih seperti ini, ” standar hidup yang saya tetapkan tidak bergantung pada banyak orang selain orang-orang sekitar dan teman-teman. Tidak sepertimu yang membandingkan diri  lewat semua teman yang ada di facebook­-mu.”  

Baca juga: Sangat Tidak Lucu Bergurau Memakai Fobia

Saya tidak dapat melakukan protes kepada kakek, sebab Wang, R., dkk (2016) dalam studinya yang berjudul ‘Let me take a selfie: Exploring the psychological effects of posting and viewing selfies and groupies on social media’ menunjukkan bahwasebagian besar orang ketika melihat foto selfie di media sosial akan melakukan perbandingan sosial tanpa memperdulikan dari kalangan mana orang tersebut dan itu menyebabkan kesejahteraan psikologis mereka menurun. Studi ini membuktikan bahwa kepuasan dan harga diri seseorang dapat dipengaruhi hanya dengan melihat foto orang lain di media sosial. namun ini berlaku jika kita melihat, lantas apa yang terjadi ketika kita membuat sebuah unggahan?

Kita tentu tidak asing dengan hormon dopamin, hormon ini memainkan peran untuk menciptakan suasana hati bahagia. Saat kita membuat sebuah postingan di media sosial, maka tanpa disadari kita akan memantau seberapa banyak like yang kita dapatkan untuk postingan tersebut. Semakin banyak like semakin banyak pula senyawa ini dilepaskan oleh otak. Sebaliknya, jika like yang kita dapatkan hanya sedikit dan atau kurang dari like di jumlah postingan sebelumnya, kita akan bertanya kepada diri kita sendiri, seperti ‘apakah caption yang aku buat tidak bagus, apakah ada kesalahan dalam unggahan saya, apakah foto yang saya upload jelek???’. Pembaca dari kalangan generasi Z tidak dapat mengelak untuk mengatakan salah akan statement diatas.

Ada kisah menarik tentang belenggu media sosial, kisah ini saya dapatkan dari blog pribadinya, ‘Lets be Game Changers’ . Essena O’Neill, gadis australia ini pada pada awalnya merupakan pecandu facebook. Dia mengikuti beberapa akun terkenal yang memiliki pengikut dan jumlah like yang banyak dalam setiap postingan. Ia bermimpi untuk menjadi salah satu dari orang terkenal seperti mereka yang diikutinya, “saya iri pada mereka hingga saya berupaya keras untuk menjadi salah satu dari mereka,” tulis O’Neill. Siapa sangka impiannya tercapai, dan kemudian ia menjadi salah satu selebriti instagram terkenal di Australia.

Dia merasa berhasil ketika jumlah pengikut yang didapatkan saban hari semakin bertambah. Namun lama kelamaan O’Neill menyadari ada yang salah dengan media sosial. Bertambahnya pengikut justru membuat ia merasa kesepian, hari berjalan dan candu itu terus menggerogotinya. Saat melakukan pemotretan ia mengambil banyak gambar, namun yang di unggah hanya foto yang ia anggap sempurna. Tidak jarang adik atau bahkan teman-temannya dimaki jika foto yang diambil kurang baik.

Baca juga : Pesimis Positif, Seni Hidup Baik-Baik Saja

Oktober 2015  O’Neill membuat publik heboh, saat itu ia menonaktifkan akun instagramnya. Sontak ini menjadi perbincangan heboh di dunia maya. Bagaimana tidak, seorang model temaja ini dikenal sebagai salah satu selebriti instagram sukses yang telah mengiklankan banyak produk serta menjadi brand ambassador.  Hal ini dilakukannya karena ia merasa hidup dalam ketidakjujuran, rela menurunkan harga diri hanya demi ‘like’ semata. O’Neill bahkan menghapus banyak sekali foto, dan sebagian lagi di-recaption dengan keadaan yang sebenarnya terjadi saat foto tersebut diambil, “lihatlah, bokong dan perutku harus dibuat seindah mungkin, padahal kenyataannya tidak seperti ini. Aku terlihat senang dan ceria dengan senyum lebar. Tapi ini aku lakukan tanpa tujuan. Aku terpaksa tertawa di pakaian mini ini.”

Sebagian besar caption yang ia tulis ulang menyertakan kalimat ini disetiap ujungnya, “Kita hanya dididik untuk terus mengonsumsi dan mengonsumsi, tanpa peduli hal ini berasal dari mana dan untuk apa.”

Sebegitu beringaskah dunia maya. Apakah kita dapat bijak menggunakan pisau bermata dua tersebut. Tidak mudah, namun ada banyak cara yang dapat dilakukan, mulai dari puasa media sosial, membatasi waktu dan teman maya, atau bahkan menetapkan tujuan saat berselancar dan melakukan meditasi diri untuk menciptakan pagar pembatas dengan carut marut media sosial. cara ketiga merupakan cara yang penulis gunakan, yang dikemudian hari mungkin akan ditulis lebih detail, karena tips tersebut harus diberi pengantar dari suatu aliran filsafat, filosofi teras atau lebih dikenal dengan stoisisme.

Tidak rindukah kamu dengan mainan masa kecilmu. Lompat tali, dimana yang kamu lompati adalah karet bukan standar hidup orang lain. Petak umpet, bersembunyi dari penjaga bukan bersembunyi dari kenyataan. Seberapa besar bahagia ketika rela jongkong dan memperhatikan kapal klotok-klotok yang mengitari baskom, tidak sebanding dengan apa yang kita dapatkan saat menatap postingan di media  sosial.

Tak beda dengan rokok, alkohol, dan narkoba. Media sosial itu candu ! O’Neill menimpuk, “media sosial adalah ilusi !”