Setiap kampus umumnya pasti selalu melakukan perubahan yang lebih baik dari tahun ke tahun. Termasuk UNY, kampus kita yang tercinta ini juga selalu melakukan perbaikan dari tahun ke tahun. Apalagi dengan memiliki rektor yang super millennial ini, pastilah beliau akan paham apa apa saja yang dibutuhkan para mahasiswanya.

Tahun 2019 sayup-sayup terdengar kabar bahwasannya Universitas Negeri Yogyakarta akan membangun kampus baru di Kabupaten Gunungkidul. Tujuan diadakanannya program ini “katanya” untuk pemerataan pendidikan di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bukan hal yang buruk tentunya, mengingat banyak sekali mahasiswa UNY yang memang berasal dari Kabupaten Gunungkidul. Adanya kampus baru di Gunungkidul tentu dapat membantu masyarakat disana untuk tetap berkuliah tanpa harus jauh-jauh ke Kota Yogyakarta. Ya, setidaknya mungkin dapat mengurangi biaya hidup untuk sewa kos. Dan berita ini ternyata bukan hanya sekedar angin lalu, pada jumat 21 Februari 2020 pembangunan gedung baru di kampus Gunungkidul resmi dilakukan.

Seperti kita ketahui bersama, 2019 lalu UNY juga baru saja membuka prodi baru untuk jenjang D4 yang ditempatkan di Kampus Wates. Hal ini menuai banyak sekali pro dan kontra dari para mahasiswa. Banyak mahasiswa yang menganggap Kampus Wates belum memadai baik dari segi fasilitas maupun dari tenaga pengajar.

Awal tahun 2020 rektor UNY menjawab semua komplain dari mahasiswa terkait fasilitas kampus wates. Perbaikan ruang praktik khususnya untuk Fakultas Teknik sudah dilakukan di beberapa program studi. Alat-alat praktik sudah dilengkapi sehingga mahasiswa dapat nyaman menggunakan. Para dosen teori maupun dosen praktik pun sudah mulai tertib untuk masuk kelas dan mengajar. Kini mayoritas mahasiswa D4 sudah dipusatkan di Kampus Wates, melakukan kuliah teori dan praktik di Kampus Wates. Namun meski begitu ada beberapa prodi D4 yang mahasiswanya masih harus pulang pergi Jogja-Wates untuk melakukan praktek dan teori. Masih sama seperti tahun 2019 beberapa prodi ini masih mengharuskan mahasiswanya untuk melakukan teori di Wates dan praktik di pusat. Ternyata belum semua fasilitas di sana memadai untuk setiap prodi yang ada. Maka dengan adanya hal ini pihak kampus mengambil jalan keluar dengan menambah jumlah shuttle bus yang ada. Sehingga mahasiswa dapat menggunakan bus dengan nyaman, dan tidak takut kehabisan tempat duduk seperti yang terjadi di semester 1 tahun 2019. Tapi, nyatanya itu juga masih belum cukup membantu. Bus–bus yang beroperasi ternyata masih sering telat berangkat hal ini juga menyebabkan mahasiswa sering terlambat masuk ke kelas.

Baca Juga: Menanggapi Aksi Demo #watesadalahkita, Rektor: Iklim Vokasi Berbeda Dengan Pendidikan Akademik

Lalu UNY sudah akan membangun kampus baru di Gunungkidul? Apakah hal ini sudah tepat? Atau malah akan menuai pro kontra lagi?

Pemerataan pendidikan di Kabupaten Gunungkidul memang bukanlah suatu hal yang buruk. Karena memang nanti atau sekarang pemerataan pendidikan semacam ini memang harus dilakukan. Tapi apakah waktunya sudah tepat? Ini mungkin bukan keputusan yang buruk tapi apakah tidak sebaiknya menyempurnakan dulu yang sudah ada? Mungkin sebaiknya lebih dulu menyediakan tempat praktik yang lengkap dan memadai bagi semua program studi. Karena rasanya kurang adil apabila sebagian mahasiswa sudah dapat tenang dan nyaman dengan melakukan kuliah di satu kampus, sedangkan sebagian mahasiswa lainnya masih harus kuliah dengan pulang pergi 2 kampus. Apalagi dengan tuntutan kewajiban yang sama, apakah hal ini dapat di terima? apakah pembangunan kampus di Kabupaten Gunungkidul memang sudah diperlukan untuk tahun tahun sekarang ini atau ada unsur politik di dalam pembangunan kampus baru ini? Apapun itu tapi semoga sudah ada pertimbangan yang matang dari pihak kampus terkait pembangunan kampus di Gunungkidul.

Hal yang kini menjadi keresahan beberapa mahasiswa adalah, ditakutkan nantinya akan terjadi kembali ketidak nyamanan fasilitas yang ada dikampus baru seperti yang dulu terjadi di kampus wates. Ya, semua memang butuh proses namun apakah mahasiswa baru akan menganggap ini juga sebuah proses yang harus mereka jalani. Mereka pastinya akan merasa memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan mahasiswa UNY lainnya. Apabila nantinya fasilitas dan tenaga kependidikan di kampus Gunungkidul juga belum memadai pastilah hal ini akan menimbulkan pro dan kontra lagi dari para mahasiswanya. Kita tidak dapat menyalahkan pihak kampus ataupun menyalahkan mahasiswa baru nantinya. Pihak kampus pastilah akan menganggap hal ini sebagai proses pembangunan gedung kampus yang baru. Namun, dari pihak mahasiswa pasti juga merasa harus mendapatkan hak hak mereka sebagaimana mestinya atau dalam artian setara seperti mahasiswa lainnya.

Pembangunan kampus baru seperti ini memang harus dipikirkan matang – matang dari segala persiapannya. Agar nantinya tidak menimbulkan masalah seperti yang terjadi sebelum sebelumnya. Mungkin akan lebih baik bila menyempurnakan dulu 2 kampus UNY yang sudah ada. Khususnya untuk kampus yang ada di Wates, memang mayoritas sudah memadai maka beruntunglah mereka mahasiswa yang sudah dapat berkuliah dengan nyaman. Tapi bagaimana dengan mahasiswa yang masih harus pulang pergi Jogja-Wates? Tapi apa boleh buat pembangunan di Kampus Gunungkidul juga sudah berjalan, kita tunggu saja kabar baiknya. Semoga tidak menuai masalah seperti yang terjadi sebelum sebelumnya.

Oleh: Albi Febita
Editor: Akbar Farhatani