Aku masih ingat. Itu, suatu hari di bulan Maret. Selepas jumatan, aku langsung bergegas berangkat ke Jogja. Aku ada janji untuk bertemu dengannya. Aku hanya membawa tas selempang kecil untuk menampung tiga buah buku yang mau aku kembalikan. Tenggatnya masih sepekan lagi, tapi sekalian mumpung ke kampus begitu.

Setelah satu jam perjalanan, aku sampai. Sebelum menemuinya, aku mampir ke perpus dulu. Tapi sayang, ternyata tutup. Langsung aku bergegas menjemputnya. Lima menit dari perpus, aku sudah sampai di depan gang kosnya. Tidak lama kemudian, seruan seorang gadis membuatku menoleh.

“Hai, Aryak!” sapa gadis itu dengan cengengesan khasnya.

“Dengan ibu (H.) Hajjah Virdita Silahat?” godaku.

“Ih masa ibu-ibu?”

“Nona Helena Virdita Silahat?”

“Benar! Seratus untuk Arya!”

“Sembilan puluh Sembilan aja deh”

“Kenapa?”

“Tuhan suka yang ganjil. Ayo naik. Tuan Putri, mau diantar kemana?”

“Sesuai aplikasi, mas.”

“Baik, laksanakan.”

Kami menuju ke sebuah kedai kopi. Seharusnya kedai itu sudah buka tapi begitu sampai di sana masih sangat sepi.

“Kayaknya belum buka deh.”

“Jam berapa emang sekarang?”

“Nih?” katanya sambil menunjukkan jam digital yang ada pada layar smartphone-nya. Itu pukul dua siang.

“Yaudah, mau gimana?”

“Cari (kedai) yang lain aja yuk, sambil jalan,”

Motor pun kembali melaju selaras dengan kecepatan koneksi GPS yang ada di gawainya dan aku hanya menuruti perintahnya.

“Kamu ada UTS katanya?” tanyaku.

“Iya, ngerjain soal gitu. Deadline-nya nanti jam sembilan.”

“Kalau mau UTS, harus mandi ya?”

“Enggak, ini (mandi) mah teknis. Biar kamar mandi tidak kehilangan fungsinya aja.”

Sekitar dua puluh menit mengembara, kami sampai juga. Aku masih sibuk memarkirkan motorku, sementara Dita sudah masuk. Buru-buru dia memanggilku, lalu aku mengekor seperti seekor kucing.

Setelah memesan minuman, kami pun berkompromi untuk mencari tempat duduk. Akhirnya, kami memilih sebuah gazebo. Entah, itu bisa dibilang gazebo atau tidak. Tidak seperti gazebo yang sering kulihat di kampus. Struktur dan tampilannya pun lebih mirip gubuk di sawah, menurutku.

“Disini aja ya” kata Dita sembari duduk.

“Boleh, asal denganmu.” Aku mengiyakan lalu sibuk melepaskan sepatu.

“Kamu rapi banget, kayak mau kuliah aja?” Tanya Dita

“Masa? Oh, sengaja ini, ‘kan mau rapat.”

“Dih,” jawab Dita diawali dengan wajah heran lalu tersenyum lebar. Kau harus tahu bagaimana ekspresinya waktu itu. Ah, rasanya dia memang berbeda. Ketika kebanyakan wanita menutupi ketawanya, dia justru membiarkan senyumnya dinikmati olehku. Mungkin dia sengaja ingin menularkannya dan dia berhasil.

Setelah beberapa menit duduk, minuman yang dipesan pun datang. Mendengar bagaimana pelayan memanggil pelanggannya, aku jadi ketawa.

“Diittaaaa! Dittaaa! Diiiitaa!” kata pramusaji sambil mencari-cari pelanggan yang mengangkat tangan sebagai tanda mengakui pemesanan. Itu terdengar lucu, bagiku. Seolah-olah dia sedang menawarkan Dita sebagaimana penjual tahu Sumedang di bus-bus kota. Aku coba menggoda Dita. Jadi, setiap pramusaji menyebut namanya, aku menambahkan “ckckckck” setelahnya, seperti memanggil seekor kucing. Dita hanya menggerutu.

“Eh kontakmu mau dinamain apa nih di hp-ku?” tanyaku membuka obrolan.

“Dita anak baik”

“Ibumu namanya Baik?”

“Bukan, Sholeh!” jawab Dita yang sedikit ketus.

“Bagusan gini” kataku sambil menunjukkan bagaimana aku menamainya di kontak ponselku.

“Ditator?”

“Iya, biar kayak Adolf Hitler”

“Aku juga bisa!” gantian dia membalasku. Dinamakan kontakku sebagai ‘Manusia Aneh’. Aku hanya tertawa kecil.

Dita menghidupkan laptopnya, mencoba mengumpulkan niat untuk mengerjakan UTS, sementara aku membaca buku yang belum jadi kukembalikan tadi. Aku berusaha senyaman mungkin untuk membaca dengan mencoba bermacam posisi. Mulai dari duduk, jongkok, berdiri sampai tiduran.

“Diem bisa gak sih, kamu tuh ngapain coba?” Dita sedikit kesal.

Aku langsung duduk diam dan menundukkan kepala seperti orang bersalah yang ragu-ragu untuk menjawab kalimatnya. Oh, tenang, itu hanya bagian dari caraku untuk menaklukannya.

“Nggak ngapa-ngapain kok, Cuma mencintaimu,” kataku lalu menatap matanya.

Dita tidak berkata apa-apa tapi aku tahu, ada perasaan yang meluap-luap ketika mendengar kata-kata itu. Jelas! Itu terlihat dari bagaimana dia mencoba menahan ketawanya. Kalau dia sudah jengah, dia akan menunduk atau memalingkan wajahnya. Kemudian mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Kamu (sholat) ashar dulu gih,” katanya dengan bibir yang masih menahan senyuman itu.

“Heuh, bisanya cuma nyuruh,” sahutku.

“Kan aku nggak bisa sholat”

“Belum”

Aku lalu beranjak menuju ke surau yang tidak jauh dari tempat kami duduk. Itu seperti surau yang sering kutonton di sinetron atau film Walisongo sewaktu kecil.

“Udah?” tanyanya ketika aku baru saja kembali.

“Insha Allah”

Tak lama setelah aku kembali duduk, hujan turun. Segera aku menyingkirkan sepatuku agar tidak basah terkena hujan. Sore hari, hujan turun, dan aku sedang dengannya. Sungguh, ini benar-benar syahdu. Bahkan mampu membuatku terlelap.

Magrib pun menggema. Dita menggugahku yang terlena oleh suasana sore itu. Setelah mengumpulkan daya dan kesadaranku kembali, akhirnya mentaslah aku untuk menunaikan kewajiban. Hujan pun mereda, hanya tersisa rintik-rintik kecil yang berjatuhan.

Bakda magrib, ada pengamen dengan ukulele senar empatnya datang entah dari planet mana. Dia menyanyikan lagu yang sedikit sarkas karena menyinggung situasi kami berdua yang sedang sibuk sendiri-sendiri. Dita dengan laptopnya, aku dengan gawaiku. Aku harus berterimakasih kepada pengamen itu yang sudah membantu memecah kesunyian. Dita memberi selembar uang kepadanya.

“Dit, berdua, yaa” maksudku aku juga ikut memberi bersamaan dengan pemberiannya itu.

“Ya ‘kan dari tadi udah berdua,”

Aku senyum.

Setelah itu, hujan kembali turun membasahi bumi Jogjakarta.

“Hujan lagi” kata Dita.

“Iya”

“Jadi ke Malioboro, nanti?”

“Belum tau, ‘kan kamu juga masih ngerjain UTS. Selesain dong,”

“Biasanya ya, ilhamnya itu dateng pas mau deadline. Jadi, kayak lancer banget gitu coba”

“Iya, lagian ini ujan juga kok.”

“Kamu bawa jas ujan? Mantel gitu?”

“Hehe, enggak”

“Dasar”

Atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa, entah bagaimana, suasana jadi sungguh khidmat untuk saling bercerita. Kami seperti otomatis bercerita dan mendengarkan secara bergantian. Sunatullah.

Kami jadi lebih mengenal satu sama lain. Baru kali ini aku bertemu dengan seseorang yang membuatku yakin untuk menceritakan banyak hal tentang diriku yang bahkan belum pernah aku ceritakan kepada siapapun. Tidak hanya itu, dia juga ternyata senang mendengarku bercerita. Tidak tahu mengapa bisa begitu. Entah, seolah kami bisa menjadikan semua hal menjadi pembicaraan yang menarik. Setidaknya, bagi kami berdua.

“Kamu se-kos ya sama Novi?” tanyaku.

“Iya”

“Sejak kapan kamu pindah (kos)?”

“Juli deh kayaknya”

“Dia pasti seneng banget sekarang”

“Kenapa?”

“Nggak ada yang nggangguin”

“Kan ada kamu, korban selanjutnya”

“Heuh, untung sayang”

“Sayang banget?”

“97,5 %”

“Kok 97,5?”

“Yang 2,5 % persen buat yang membutuhkan”

“Ohh”

“Tapi kayaknya kamu lebih membutuhkan deh”

“Iya!!! Sangaaaattt!!!”Dita tersenyum lebar.

Waktu berlalu, jam menunjukkan pukul setengah Sembilan malam. Aku membiarkan Dita fokus untuk menyelesaikan UTS-nya. Sementara aku asik menulis entah apa itu. Mungkin puisi, mungkin bukan. Pokoknya seperti itu. Aku menuliskannya pada buku kosong yang sengaja kubawa dari rumah. Dita tampak penasaran dengan apa yang aku tulis. Kasihan, jadi nggak fokus dia. Beberapa kalimatnya seperti ini,

PADA AWALNYA, BUMI DICIPTAKAN UNTUK ADAM DAN HAWA. TAPI MALAM INI, KHUSUS KITA BERDUA AJA DEH. BOOKING BUMI!

SIAPAPUN KAMU, AKU SUKA! SIAPAPUN AKU, KAMU SUKA! SEMOGA!

SELAMAT, HELENA VIRDITA SILAHAT!!! ANDA TELAH BERHASIL MENGALAHKAN 3,78 MILIAR WANITA DI BUMI UNTUK MENJADI KEKASIHKU!

MENCINTAI DAN MEMILIKI ADALAH DUA HAL YANG BERBEDA KONTEKS. TAPI KALAU KAMU MAU SEPAKET SEKALIAN, YA GAPAPA, SIH. BISA DIATUR.

“Udah?” tanyaku ke Dita mengenai UTS-nya.

“Udah, ehe”

“Alhamdulillah”

Dita lantas mematikan laptopnya. Sekarang dia sudah ada di hadapanku. Kami saling menatap. Aku merasa ini waktu yang tepat untuk menjelaskan dan memperjelas apa yang sedang terjadi di antara aku dan dia. Aku yakin, baik aku maupun dia, sudah sama-sama paham apa yang akan dibicarakan. Harus ada hitam atau putih, bukan abu-abu.

“Helena Virdita Silahat” aku memanggil namanya dan menatap serius matanya.

“Iya” kurasa Dita sudah mafhum aku akan mengatakan suatu hal yang berkaitan dengan dirinya dan itu serius.

“Kita sudah sama-sama paham tentang apa yang sedang terjadi, tanpa perlu dijelaskan lagi (bahwa) kita sama-sama mau satu sama lain…,” belum selesai aku bicara, Dita menyela.

“Tapi aku masih takut..”

“Iya, aku mengerti perasaanmu.”

“Iya, tapi aku sayang kamu.”

“Ya sudah, kita magang aja dulu.”

“Hah? Magang?”

“Iya, magang jadi pacar satu sama lain. Nanti kalau udah siap, baru jadi pacar tetap.”

“Bisa?”

“Bisa, bisa” itu kata-kata khas Dita, aku coba menirunya. “Kamu bawa materainya?”

“Bawa. Buat apa, sih?” Dita bingung.

“Sebentar”

Dita duduk diam disampingku, menyaksikan bagaimana aku menuliskan kalimat di halaman tengah buku yang tadi. Lagi-lagi dia tersenyum.

SURAT PERNYATAAN MAGANG

Dengan ini, kami, Arya & Dita menyatakan bersedia untuk magang menjadi pacar satu sama lain. Hal-hal yang berkaitan dengan romantisme dan kebahagiaan akan dilaksanakan dengan penuh rindu dan cinta.

Demikian, surat pernyataan magang ini dibuat. Semoga bisa menjadi acuan untuk mantap dan yakin menjadi pacar tetap yang senang dan suka.

Jogjakarta, 25 Rajab 1441

Atas nama cinta dan kasih sayang,

Arya                                                                                                    Dita

(Manusia)                                                                                          (Manusia juga)

Dita hanya tertawa tidak habis pikir dengan apa yang kutulis itu. Aku memanfaatkan lidahku untuk merekatkan materai, lalu kami berdua membubuhkan tanda tangan masing-masing.

“Ini magangnya sampai kapan?” Tanya Dita yang masih menyisakan tawa.

“Ya, sampai kamu siap, sebulan atau dua bulanlah, ya. Tapi, kalau kinerjanya bagus, bisa dipertimbangkanlah, ya, buat jadi pacar tetap.”

“Ahahaha, kayak PI (Praktik Industri) aja,” selepas tawanya mereda, ia bertanya “Kalau gagal gimana?”

“Diiiit,” aku memanggil namanya dengan i-nya sepanjang tiga harokat. “Mencintai dan memiliki itu dua hal yang berbeda konteks. Tapi, kalau kamu mau sekalian ya nggak papa, sih. Bisa diatur.”

Dita senyum.

“Ujannya awet, nggak jadi ke Malioboro nih” kataku.

“Gak papa, asal denganmu”

Ahaha, sial, dia meminjam kata-kataku. Aku hanya tersenyum.

“Ah, ini mah sengaja deh kayaknya (ujannya) biar aku sama kamu”

“Iya ya, mungkin.”

“Gih, bilang ‘Makasih’ ke Hujan” aku mencoba memerintahnya.

“Makasih Hujan” dia menurut saja.

“Ahahaha” kami ketawa.

“Kamu besok jadi kerumah Budhemu, Dit? Yang di mana itu? Lupa aku,”

“Jepara. Iya jadi, besok pagi”

“Oh Jepara, kirain Kahyangan.”

Dita tersenyum.

Baca Juga: Rindu

Ada banyak cerita yang menemani kami menunggu hujan reda malam itu. Kami juga saling terbuka menceritakan masa lalu kami masing-masing. Aku menceritakan padanya soal Airin, pacarku dulu sebelum dengannya. Mendengar aku cerita tentang Airin, aku melihatnya seketika menjadi kurang percaya diri dan overthinking. Memang benar aku mencintai Airin. Bahkan kalau boleh aku katakan, sangat mencintainya. Tetapi itu ada di masa yang lalu. Sedangkan, kini aku milikmu. Bahkan, aku juga tidak ingin membenci Airin hanya karena jalinan cinta yang putus. Maksudku, ketahuilah bahwa selalu ada satu orang khusus yang akan membuatmu merasa istimewa, tenang dan bahagia bersamanya dalam suatu dimensi waktu tertentu dan cukup satu, menurutku. Rasa cinta memberi kebebasan dalam bertanggung jawab. Itu bagus, membuatmu tahu diri harus bagaimana kepadanya. Masa lalu biarlah tetap di masa lalu. Mengajari kita untuk menjadi lebih baik di hari yang esok.

Dita bercerita bahwa dia pernah “dekat” dengan Bara, orang yang juga kukenal. Dita juga mencoba menggodaku ketika membahas tentang Gilang. Tapi, mereka sudah saling mengenal dan akrab jauh sebelum aku mengenalnya.

“Aku pernah pulang malem banget karena jalan sama Gilang” Dita berusaha membuatku cemburu, mungkin.

“Oh ya? Wow!”

“Dih, gitu” Dita seperti kesal karena usahanya membuatku cemburu gagal.

Entah, memang aku tak bisa cemburu, atau memang tak ingin. Maksudku, aku pun bingung dengan konsep cemburu itu sendiri. Cemburu itu berat, harus memiliki. Sementara, ketika kau sudah mau untuk kumiliki, apa sesungguhnya yang perlu aku risaukan? Menurutku, cemburu jadi semacam bentuk ketidakyakinan terhadap kualitas diri sendiri. Imajinasi buruk yang berlebih yang hanya menimbulkan rasa cemas. Hal yang menakutkan adalah ketika kau menduga-duga suatu perkara yang belum jelas kebenarannya. Berubah menjadi sebuah syak wasangka. Kemudian, kau akan merasa seolah-olah ditampar oleh Al-Hujurat(12) sebagaimana benar-benar sebuah tamparan.

“Aku ngerti kok, kamu pernah deket sama Bara, kamu akrab sama Gilang. Cuma, yaudah kan udah terjadi, apa yang perlu dipermasalahin? Aku mencintai kamu yang sekarang. Biar bagaimanapun, masa lalu sudah mengajari banyak hal, sekali pun itu pahit.”

“Iya” Dita mengangguk takzim. “Kamu tau banyak soal aku. Ih, curang ih.”

“Aku ‘kan agen CIA”

“Oh ya? Aku baru tahu.”

“Ya bagus, wawasan untukmu.”

“Kok bisa kamu tahu (banyak) soal aku?”

“Aku ingin menjadi seperti orang yang memegang senter dalam kegelapan. Aku bisa melihat dengan jelas dari kegelapan tanpa orang lain tahu dari mana dan siapa pemegang senter itu.”

“Gak usah sok misterius gitu, aku jadi takut.”

Hujan pun mereda jua. Hari sudah mau larut malam. Kami pun memutuskan untuk beranjak dari kedai tersebut. Aku bilang ke Dita kalau aku lapar sekali. Dita menyarankan untuk cari makan di luar (kedai) saja dan aku setuju.

Kami kembali menyusuri jalan yang sama ketika berangkat tadi. Banyak lubang di sana-sini tapi itu mungkin bagus jadi membuat motorku melaju lebih pelan yang membuatku punya waktu lebih dengannya di atas motor itu.

“Arya, kamu tau gak, dulu tahun 1950, kafe itu belum ada loh,” katanya sambil menunjuk sebuah kafe yang kami lewati.

“Masa’? Ah, kamu aja belum ada.”

“Ahahaha, kamu juga.”

“Iya. Tapi aku beruntung.”

“Mengapa?”

“Karena hidup sezaman denganmu. Coba aku hidup zaman Nabi Nuh, pasti aku nggak akan sama kamu kayak sekarang ini.”

“Karena?”

“Sibuk ngobrol sama temen-temen kebun binatang di bahtera Nabi Nuh.”

“Ahahaha”

Motor terus melaju. Belok kiri, belok kanan, kini melaju menapaki jalan Selokan Mataram.

“Arya, tau nggak?”

“Apa?”

“Si Gilang pernah bilang gini ke aku,”

“Bilang gimana?”

Kalau kamu muslim, udah aku pacarin, Dit. Gitu, katanya.”

“Heuh, payah.”

“Kok?”

“Iya, dia hanya mau menunggumu di gerbang tanpa bersedia mengantarkanmu menuju ke sana.” Kataku kepada Dita yang khusyuk sekali mendengarkanku dengan menaruh dagu di bahuku.

Suasana sejenak hening. Dita tidak berkata-kata, tapi aku yakin, dia sedang tersenyum.

“Kalau kamu gimana?”Tanya Dita.

“Aku? Itu sih, tergantung kamunya. Mau atau tidak diantar olehku?”

“Em,, mungkin,” Dita menggumam.

“Insha Allah,” jawabku.

“Arya,” Dita memanggilku.

“Iya”

“Kalau kita masuk Surga, Surga kita sama nggak ya?”

“Belum tahu, beda komplek saja mungkin, paling sampingan,” jawabku mencoba mengajaknya bercanda.

“Ahahaha” Dita ketawa.

“Tugasku hanya mendoakan, bukan jadi panitia Surga.”

“Iya” Dita tersenyum.

Aku hanya mengikuti arahan Dita untuk mencari tempat makan yang sesuai inginnya. Kami berputar-putar mengelilingi kompleks lingkungan sebuah kampus swasta. Kampus itu hanya berseberangan dengan kampus kami. Setelah ke sana kemari, kami mendapati banyak tempat makan sudah tutup. Suasana Jogja pun juga sungguh sunyi malam itu. Seolah-olah seperti sedang mempersilakan kami untuk menikmati romantisme ini, dan itu menakjubkan.

Sampai akhirnya, kami pun berhenti di sebuah warung makan. Tempat seperti itu populer dengan sebutan “Warmindo” atau “Burjo”. Itu tempat makan yang sering aku sambangi juga, persis di depannya ada sebuah masjid. Setelah parkir dan menyopot helm basah itu, aku langsung memesan.

“Aa’! Nasi telor yak, satu. Dit, makan nggak?”

“Enggaaaaak. Teh anget aja,” kau harus tahu bagaimana dia mengucapkan kata “enggak” yang dibuat-buat seperti bagaimana aku biasa mengucapkannya. A-nya tiga harokat. Aku tersenyum.

“Sama teh anget,satu, A’!,” kata ku ke Aa’ Burjo.

Tidak butuh waktu lama, pesanan pun datang. Sudah malam dan sepi, bahkan ketika pesananku datang, seorang pelanggan lain beranjak pergi. Sehingga hanya menyisakan kami berdua.

“Kenapa nggak makan?” tanyaku kemudian memasukkan suapan pertama ke mulutku.

“Nanti aja di kos”

“Oh,” aku mengangguk.

Dita tampak kedinginan, itu kelihatan dari bagaimana gelas itu dilingkarinya menggunakan kedua telapak tangannya. Ditambah dia terlihat intens sekali memperhatikanku makan. Dita juga terus bertanya padaku bagaimana setelah ini. Maksudnya, setelah aku mengantarkannya pulang, apakah aku pulang atau tidak. Hari sudah larut malam. Kalau pun tidak, tidur di mana. Dia berulang kali menayakan itu, seperti sangat cemas bahkan melebihi cemasnya diriku sendiri. Sedangkan aku hanya membalas dengan jawaban yang sama.

“Gampang, kan tinggal merem,” jawabku.

“Tapi di mana?” Tanya Dita yang terus saja cemas.

“Gampang,” pungkasku.

Setelah selesai makan, aku pun mengantar Dita pulang. Aku bilang padanya kalau dia harus segera istirahat karena besok pagi ia harus berangkat ke Jepara.

Selepas mengantar Dita, aku langsung menuju masjid Al-Munawar. Aku memang sering menginap di situ kalau terlalu letih dan larut malam untuk pulang. Handphone-ku mati, aku tidak bawa charger. Aku tidak bisa mengabari Dita untuk menjawab kecemasannya tadi. Sudahlah, aku masukkan ponselku ke tas, lalu kutaruh tas itu ke loker penitipan barang masjid. Aku lalu tidur di saf belakang dan terbangun ketika azan subuh. Selepas sholat, cuci muka dan memastikan kantukku sudah hilang, aku pun pulang.

Dan kini, aku sedang berada di kamarku dengan suasana malam yang sunyi. Hanya berteman beberapa lagu yang aku play secara acak dan segelas kopi. Sekarang, lagu yang kudengar adalah lagu Bob Dylan – Blowin’ In The Wind yang seolah-olah seperti menjawab kegelisahanku.

The answer, my friend, is blowin’ in the wind

The answer is blowin’ in the wind…

Mengenang hari itu, aku seperti tidak habis pikir lagi. Bagaimana bisa hari itu terjadi. Aku seperti sedang bersamanya malam ini. Hidup tidak pernah semenyenangkan ini. Aku hanya tinggal duduk dan menikmati obrolan dengannya, kemudian sudah. Aku ingin selamanya seperti itu saja. Biarlah sederhana, asal ada dirinya.

Ketika aku teringat akannya, seketika muncul hasrat ingin bersamanya. Dialah penyebabnya tapi mengapa aku yang harus merasakannya. Sungguh, benar-benar tidak bertanggung jawab. Serius, ini merepotkan. Aku tahu aku sedang merindukannya. Kemajuan teknologi? Oke, mungkin sedikit membantu. Tetapi tetap saja tidak ada yang bisa menandingi kebahagiaan ketika bertemu langsung.

Semoga menjadi mengerti untuk apa Tuhan menciptakan Hawa. Menjelaskan bagaimana Dia sangat memahami apa yang Adam rasakan bahwa rasa sunyi benar-benarlah sebuah kutukan, bahkan ketika kau berada di Sorga sekalipun.

Entahlah, terakhir, aku hanya ingin bilang,

Kau, berterimakasihlah kepadamu yang sudah mampu membuatku bahagia menyayangimu.

Aku ingin selalu denganmu, Dita.

Aku merindukanmu, seperti deras hujan sore itu.

Penulis: Lindu