Kamis (08/10) Aliansi Rakyat Bergerak (ARB), melakukan aksi longmarch dari bundaran Universitas Gajah Mada (UGM) menuju kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Yogyakarta. Aliansi tersebut terdiri dari mahasiswa berbagai kampus di Yogyakarta, Serikat Buruh, dan Pelajar. Aksi tersebut merupakan bentuk dari penolakan Omnibus Law Cipta Kerja yang baru saja disahkan pada tanggal 5 Oktober.

Namun yang menarik perhatian bukan hanya massa aksi yang ribuan banyaknya, atau tuntutan-tuntutan yang dibawa oleh peserta aksi, namun juga terlihat relawan kebersihan dan Kesehatan yang sibuk bekerja membantu jalannya aksi tersebut.

Kematangan panitia penyelenggara aksi diuji dengan bagaimana mereka menanggulangi korban-korban yang terjadi sewaktu berjalannya aksi. Seperti halnya yang dialami oleh Ilyas Zulian dari Indonesia Escorting Ambulance, yang menjadi salah satu dari relawan kesehatan yang hadir. Dia menjelaskan apa saja yang dia persiapkan untuk pertolongan pertama jika terjatuhnya korban pada aksi kali ini.

“Kami mempersiapkan P3K untuk pertolongan pertama, oksigen, dan satu unit ambulance,” ujar Ilyas.

Aksi Damai MPBI Yogyakarta Mendapat Sambutan Positif Dari Fraksi Demokrat dan PKS

Ilyas pun menyatakan bahwa alat-alat kesehatan ini dibeli dari hasil patungan dan kas organisasi. Dia pun menjelaskan terkait keanggotaannya ada yang berasal dari mahasiswa, pekerja, bahkan pelajar. Apabila ketika aksi ada kontributor yang ingin bergabung menjadi relawan boleh diikutsertakan.

“Boleh, pasti, tetap terbuka untuk umum.” Ujarnya

Berbeda dengan Ilyas, Sokib seorang pelajar kelas 3 SMA 1 Playen yang merupakan anggota kelompok panti asuhan Playen, menjadi relawan kebersihan dengan inisiatif pribadi, untuk menjaga kebersihan selama aksi dilakukan.

“Ya kalau saya inisiatif pribadi, tapi kalau kelompok, tadi membagikan roti dan minuman. Kami di panti asuhan mendirikan warung sedekah Al-Maidah,” jelasnya.

Sokib dan enam anggota panti asuhan lainnya sengaja turun dari Gunung Kidul ke Daerah Seputaran Tugu untuk mengabdikan diri sebagai relawan Kebersihan. Dia berharap dengan aksi ini pemangku kekuasaan tidak mengulang kesalahan yang sama dalam pembuatan UU.

“Semoga aparat dan menteri-menteri diatas bisa kapok, soalnya sangat merugikan,” harapnya.

Penulis : Airlangga

Editor : Willy