Hari akan berganti, ketika truk besar yang aku kemudikan mulai memasuki wilayah Nganjuk. Kota Angin adalah sapaan akrab untuk kota kecil di Jawa Timur ini. Kendaraan-kendaraan besar lalu lalang dari dua arah berbeda. Laiknya jalan-jalan nasional di Jawa Timur pada umumnya.

Jeritan turbo dan diesel yang menderu selalu mengiringi perjalanku setiap pedal gas diinjak agar roda tetap berotasi. Di belakang, beban yang diangkut truk besar ini sama beratnya dengan kelopak mata yang sesekali memaksa terpejam karena sudah tak sanggup membawa kantung yang kian besar.

Beban terasa makin berat dan mesin seolah ngos-ngosan. Bagaimana tidak, dari Cibitung, Bekasi, sampai Nganjuk, truk besar yang mengangkut puluhan sepeda motor ini hanya istirahat dua kali. Sekali ketika sarapan di Batang, sekali lagi di Boyolali. Itupun masing-masing hanya setengah jam.

Tapi nasib truk ini lebih baik ketimbang dua mataku yang dipaksa harus tetap siaga. Karena sedikit saja meleng, banyak nyawa yang dipertaruhkan. Aku juga harus mengejar jadwal bongkar lebih cepat, supaya ada waktu libur lebih lama untuk istirahat di rumah sembari menunggu jadwal aktivitas kampus kembali normal setelah digempur pandemi biadab ini.

Malam di Nganjuk biasa saja. Tiada beda dengan malam-malam di kota lain yang biasa aku lewati. Jalanan mulai dipadati kendaraan-kendaraan berat yang membawa beragam muatan. Tidak jarang, bus Sugeng Rahayu dan Mira menyalip dari kanan dengan perhitungan yang nekat. Siapa yang tidak tahu keberingasan sopir dua bus Surabaya-nan itu? Ketahuilah, makin malam, mereka makin jahanam.

Perjalanan ke Magelang Utara: Pembelajaran Daring di SDN Ketunggeng 1 dan Sepotong Kisah Seorang Pendidik

Aku yang masih sayang nyawa dibuat berkali-kali menarik tuas rem mesin darurat karena tingkah mereka. Untuk selamat, aku tak punya pilihan lain selain mengerem mendadak dan memberi ruang mereka supaya tidak terjadi adu kepala bus dengan kendaraan-kendaraan dari arah berlawanan. Sikap yang heroik, bukan?

Baru setelah beberapa kilometer memasuki wilayah Nganjuk, aku mulai bisa menemukan perbedaan kota ini dengan kota-kota lain. Pertama, ada lebih banyak perpotongan antara jalan raya dengan rel kereta api. Satu hal yang menarik, Nganjuk memiliki sebuah kawasan hiburan malam di daerah Guyangan. Tepatnya di jalur lingkar pendek yang wajib dilewati kendaraan berat karena harus melewati jembatan timbang. Meski jembatan timbang itu kini tak lagi beroperasi, namun para sopir masih tetap menjadikan jalur lingkar pendek ini sebagai rute utama mereka.

Kawasan hiburan itu memanjang sekitar satu kilometer di sepanjang jalur lingkar pendek. Jalanan rusak, bergelombang, dan berlubang, dipadati kendaraan berat yang parkir di tepi kanan kirinya. Tukang tambal ban dan toko aksesoris kendaraan buka sampai malam. Semakin malam, warung-warung kopi makin meriah dengan kerlap-kerlip lampu tumblr dan disko yang menyala merah, kuning, dan hijau bergantian.

Suara bass dari sound system menggelegar, sahut-sahutan, tak ingin kalah dengan suara sound system dari warung sebelah. Ini adalah tempat yang sempurna bagi para pejalan, yang hidupnya bergantung pada roda setir, serta pedal gas dan rem. Bagi mereka yang setiap hari dan malam berkejaran dengan waktu demi bisa pulang dan bertemu keluarga lebih cepat. Sangat puitik.

Bagi mereka yang sudah punya kavling surga, biasanya akan menganggap Guyangan sebagai tempat maksiat. Tempat di mana para pendosa dan ahli neraka berkumpul.

Potret Literasi dari Lereng Merapi

Guyangan memang dikenal sebagai wisata lendir di Nganjuk. Orang-orang menamainya sebagai tempat prostitusi berkedok warung kopi. Ya, seperti Pasar Kembang (Sarkem) di Yogya, kafe Khayangan di Pejaringan Jakarta, Wuni di Batang, atau Dolly di Surabaya. Guyangan seperti titik gelap bagi Kota Angin. Tapi bagiku, ini sekadar warung kopi. Tempat aku istirahat sejenak, meregangkan otot-otot yang kaku, dan meminum kopi hitam kental supaya mata tetap terjaga karena perjalanan masih panjang.

Di salah satu warung, mataku menyapu ke setiap mata angin. Di depan sebuah warung, terlihat sebuah meja yang di sekelilingnya terdapat bangku memutar. Sebuah botol minuman yang aku sangat akrab merknya, tampak dituangkan ke setiap gelas yang ada di atas meja oleh seorang perempuan.

Selain menuangkan minuman, perempuan itu juga bertugas mengiringi para lelaki di meja itu bermain remi. Ada tawa dari mereka yang menang, tapi juga selalu ada wajah murung dari mereka yang malam itu kurang beruntung. Barangkali, malam selanjutnya nasibnya lebih baik.

Di dalam warung, tampak seorang pria paruh baya sedang menari dan bernyanyi ditemani seorang perempuan yang aku taksir usianya sudah 40-an lebih. Yang pasti, sudah tidak muda. Bagiku, ini adalah pemandangan menyakitkan karena dulu, nenekku juga pernah membuka warung di pinggir jalan sampai malam untuk menyekolahkan Bulikku. Ya, meskipun bukan warung esek-esek seperti ini.

Tapi mau bagaimana lagi, mau seperti apapun, selama masih ada yang membutuhkan jasanya, prostitusi akan tetap ada. Bagi orang-orang yang merasa sudah tak punya pilihan, itu adalah ladang rezeki di tengah himpitan ekonomi dan lapar yang kian menjadi. Apalagi, biaya sekolah makin tinggi juga.

Aku teringat sebuah ceramah dari Kyai Anwar Zahid. Dia menceritakan kisah seorang pelacur yang menitipkan anak gadisnya untuk bersekolah di pondok pesantrennya di Bojonegoro.

“Tidak ada orangtua yang berharap anaknya menjadi orang bejat walupun dia tahu bahwa dirinya adalah termasuk orang bejat,” begitulah ceramahnya di salah satu lapas dengan jamaah narapidana di kabupaten Gresik.

Ah, apakah orang-orang seperti itu akan tetap masuk neraka? Berdosa mana mereka yang menjual tubuhnya demi makan dan sekolah sang anak dengan mereka yang membabat hutan dan mengeruk gunung sehingga menyengsarakan orang banyak?

Berdosa siapa, mereka, atau aku yang merasa lebih suci dari mereka?

Tanggal sudah berganti ketika truk besarku pelan tapi pasti keluar dari lingkar Guyangan. Malam semakin dingin, tapi dadaku bergemuruh. Panas dan sesak. Air mata jatuh di sepanjang jalan Nasional menuju Kota Santri, Jombang.

Penulis : Ade Listanto

Editor : Widi Pradana