Cahaya mentari siang bersinar cerah di Bundaran UGM kemarin siang (20/10), menyinari para massa aksi yang saat itu menunggu di sekitaran “panggung rakyat” yang sedang dipersiapkan. Aksi kali ini adalah lanjutan dari aksi yang telah dilakukan di Depan Gedung DPRD kemarin (08/10). Terdapat empat narasi yang disuarakan. Empat narasi tersebut adalah Turunkan Rezim Jokowi-Ma’ruf Amin; Pencabutan RUU Cipta Kerja; Bubarkan DPR; dan Bangun Dewan Rakyat. Penyampaiannya melalui cara orasi atau mementaskan seni.

Aksi pada kali ini memang dikonsep santai. Karena itu saat persiapan hingga jalannya aksi, dapat dilihat banyak penjual kaki lima yang hadir. Warung-warung di sekitar lokasi aksi masih buka dan menerima pelanggan seperti biasa. Penjual air mineral berjalan wira-wiri menawarkan dagangan diantara massa aksi yang duduk menyaksikan pentas. Momen ini tercipta bersamaan dengan barikade yang terpasang dan jajaran petugas jaga.

Samadi Abdullah (45), penjual es putar tradisional mengutarakan beberapa hal pada kami. Dia menjelaskan tidak ada kekhawatiran untuk berjualan pada aksi kali ini.

“Saya gak khawatir mas, saya yakin aman.”

Dia juga berkomentar terkait aksi sebelumnya yang rusuh. Menurutnya dalang kerusuhan sendiri bukanlah mahasiswa baik itu luar atau yang asli Yogya. Melainkan pecundang yang menyusup dalam massa aksi.

“Saya mendukung mahasiswa aksi. Setuju. Karena pro rakyat, pro buruh, pro perempuan yang tertindas,”ujar penjual es putar yang telah berjualan sejak 1991 ini.

Tio (27),  penjual es dawet asal Banjarnegara juga mengutarakan hal yang sama. Dia pun mendapat informasi juga aksi ini akan berjalan damai.

“Saya gak takut jualan disini. Tadi katanya berjalan damai hari ini,” jelasnya.

Mosi Tidak Percaya Kembali Didengungkan oleh Aliansi Rakyat Bergerak

Kedua penjual es ini berada dilokasi sedari awal. Tio sendiri mengaku telah di lokasi sejak jam 10 pagi. Dia berpindah-pindah tempat mangkal. Sedang Samadi, terus menggenjot gerobak sepedanya mengelilingi lokasi aksi sebelum acara dimulai dan setelah dimulai dia baru memutuskan untuk mangkal.

“Sampe habis dagangannya. Maju tak gentar membela yang haus dan yang lapar,” ujar Samadi.

Terkait omzet keuntungan tentu ada kenaikan. Tio, ketika diwawancara pada pukul empat sore diakuinya sudah menjual 100 gelas dawet.

“Alhamdulillah, keuntungan lumayan. Udah 100 gelas. Nyetok cukup banyak juga. Mending lah kalau ada kaya gini,” ujarnya pada kami bersamaan dia sedang melayani konsumen.

Penulis : Airlangga

Editor : Akbar