Dahulu, sikap wait and see mungkin bisa dijadikan patokan di era sebelum teknologi canggih merambah berbagai sektor yang biasanya dihuni manusia. Modernisme, sistem otomasi, dan perdagangan bebas yang menjangkiti setiap negara adalah tanda bahwa  pola hidup manusia, mulai dari cara berfikir, memecahkan masalah hingga berorganisasi telah sepenuhnya berubah.

Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia pernah menyinggung hal tersebut, menurutnya untuk menghadapi masa depan setiap negara harus bisa bekerja sama dan bersaing dalam seluruh sistem. Perubahan-perubahan yang terjadi bukan lagi dalam skala kecil, tapi perubahan yang mampu membawa lompatan jauh ke masa depan (leap frogging).

Dinamika perubahan era tersebut lumrah kita sebut sebagai era distrupsi. Era ini memiliki corak utama dimana perubahan cepat terjadi bukan lagi dalam hitungan tahun atau bulan, tapi dalam hitungan hari, jam, bahkan menit. Beragam pertanyaan pun muncul, apakah sebenarnya yang menjadi pemicu utama munculnya era distrupsi?

Bower dan Christensen menjelaskan bahwa pemicu utama adalah inovasi teknologi. Menurutnya, beragam inovasi teknologi yang diciptakan manusia tidak saja membawa perubahan dalam teknologi itu sendiri, namun lebih jauh, telah menjamah kehidupan manusia.

Memang, sejak revolusi industri tahun 1845 dengan dimulai adanya mesin uap, corak kehidupan telah banyak berubah. Apalagi saat revolusi industri kedua dengan dimulai adanya listrik, dilanjut revolusi industri tiga dengan sistem komputasi dan informasi serta terakhir revolusi industri empat dengan dikembangkanya kecerdasan buatan, corak kehidupan yang dalam bayangan kita tidak mungkin terjadi, justru menjadi kebiasaan, menetap, hingga menjadi kebutuhan bagi masyarakat.

Salah satu contoh bagaimana inovasi teknologi dapat membawa perubahan signifikan terhadap kehidupan manusia adalah hadirnya telepon pintar. Barang kecil yang cukup satu genggaman ini bukan saja dapat memudahkan kita dalam berkomunikasi dengan orang lain, namun juga memudahkan kehidupan manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Di era sekarang kita dapat melihat bagaimana telepon pintar dapat memudahkan manusia ketika melakukan perdagangan.

Baca juga:

Problematika Peserta Didik Belajar dari Rumah di Mata Psikologi

Olehnya, kita tidak terpaut jarak. Serta transaksi bisa terjadi dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun. Karena dahulu, lumrahnya orang akan menghampiri penjual untuk memenuhi kebutuhanya. Namun kini, dengan sistem teknologi yang canggih orang hanya tinggal ongkang-ongkang dan barang yang dibutuhkan akan sampai kepada pembeli.

Dilain sisi, kehebatan inovasi teknologi juga banyak mengubur banyak hal. Dari Inovasi teknologi sebelumnya hingga pekerjaan manusia sekalipun. Masih lekang dalam ingatan bagaimana Blackberry Messenger (BBM) merajai pasar dalam kurun waktu dua tahun dan setelahnya habis tidak bersisa karena kurangnya inovasi baru yang ditawarkan pada pasar.

Tidak hanya itu, yang paling merasakan dampak dari inovasi teknologi adalah manusia sendiri. Banyak pekerjaan yang telah terganti dan akibatnya, krisis tidak hanya akan menimpa pada satu individu akan tetapi menimpa komunitas lebih-lebih industri.

Sebut saja industri musik. Sebelum hadir dalam bentuk Mp3, musik biasa didengar melalui kaset. Begitupun dengan industri fotografi, setelah hadir telepon pintar dengan kualitas kamera yang baik, semua orang dapat menjadi fotografer.

Pengembangan paradigma dan pola organisasi dalam kegiatan ekonomi pun akan berubah dari penekanan owning menjadi sharing (kolaborasi). Sebagai contoh besar adalah Asean Economy Community (AEC) dimana pola organisasi yang diterapkan adalah kolaborasi dengan cara mengintegrasikan satu negara dengan negara lain dalam satu kawasan.

Pola kolaborasi ekonomi tersebut juga kiranya akan membangun karakterisktik utama yang saling menguatkan seperti ekonomi yang terpadu dan terintegrasi penuh, mampu memiliki daya saing, inovatif, dan dinamis serta memiliki peningkatan konektivitas terhadap kerjasama sektoral.

Lalu, dengan majunya perkembangan tersebut, bagaimana kita bisa bertahan hidup?

Seperti yang telah diurai diatas, Indonesia sebagai bagian dari komunitas dunia harus siap menghadapi berbagai kemungkinan perubahan yang akan terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan cepat. Hanya saja, untuk dapat menghadapi perubahan secara cepat tersebut, faktor sumber daya manusia adalah titik tolak awal yang wajib dibenahi.

Pembenahan sumber daya manusia pasti akan dimulai dari perubahan pola pikir. Hal ini sangat penting, mengingat pola pikir akan mempengaruhi pengambilan keputusan. Perubahan pola pikir juga akan meningkatkan kesadaran dari elemen lain dalam satuan organisasi atau komunitas.

Baca juga:

Integrated Farming: Pembaruan yang Menjanjikan

Kesunyataan sebagai manusia dan negara konsumtif juga perlu diubah dan dialihkan menjadi manusia dan negara inovator. Sebagai inovator, kiranya akan menuntun kita tidak saja menjadi negara dan manusia yang merdeka dan mandiri, lebih dari itu, akan menuntun kita menjadi pemain utama dalam kancah perkembangan teknologi dan ekonomi global.

Untuk mendorong itu, diperlukan keseriusan lebih baik dari individu dan pemerintah dalam pengembangan riset. Riset ini penting guna memetakan suatu peluang ataupun persoalan. Karena dari pemetaan peluang yang tepat, akan menghasilkan pengambilan keputusan yang tepat pula.

Dari kedua hal tersebut, resiko terbesar yang mungkin akan dihadapi adalah semakin kompleksnya persaingan antar individu. Sehingga, untuk menjaga persaingan tetap sehat dan menuju arah positif, jadikanlah kolaborasi sebagai strategi ampuhnya.

Dengan kolaborasi, tidak hanya menjadikannya ruang interaksi dan strategi partnership, namun juga memungkinkan untuk satu kolaborasi dapat menghasilkan laba yang lebih besar.

Penulis: Teguh Iman Perdana