Judul               : Autobiografi Tan Malaka Dari Penjara Ke Penjara

Penulis            : Tan Malaka

Penerbit          : Penerbit NARASI

Tahun              : 2017

Tebal               : 560 halaman

Apa yang terlintas di pikiran kalian saat mendengar nama Tan Malaka? Apakah seorang pahlawan? Penulis buku? Atau seorang pejuang yang hingga akhir hidupnya tidak menikah?

Apapun itu, terlepas dari seluruh lintasan bayangan pikiran kalian, Tan adalah seseorang yang tidak pernah lepas dari sejarah negara ini. Sumbangsih Tan pada masa pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan pun kiranya tidak bisa dianggap sepele. Mulai dari perjuangan fisik hingga perjuangan pemikiran yang dia buktikan melalui buku-bukunya.

Menyoal buku itu sendiri, disebutkan bahwa Tan memiliki buku yang secara khusus membahas tentang profil hingga sepak terjangnya sebagai seorang yang dia sebut “Pengelana”. Buku tersebut berjudul “Dari Penjara Ke Penjara”.

Perlu diketahui, lahirnya buku Dari Penjara Ke Penjara ini pada mulanya tidak dikehendaki oleh Tan sendiri. Menurutnya, ada tiga alasan yang mendasarinya. Pertama adalah karena masih banyak pekerjaan yang lebih penting daripada menuliskan kisah hidupnya.

Kedua karena Tan beranggapan bahwa terlalu berat menuliskan kembali kisah hidupnya dari awal hingga umur lima puluh tahun, yang mana diakuinya lebih banyak turunnya daripada naiknya, lebih banyak susahnya daripada enaknya.

Ketiga karena Tan sendiri waktu itu hidup secara nomaden, sehingga dia tidak diizinkan berhenti sejenak untuk menulis. Tan dihadapkan pada kemungkinan bahwa apa yang ditulisnya berpotensi akan disita jika ditemukan. Lebih dari itu, dia berfikir bahwa apa yang telah ditulis mengenai dirinya juga akan dijadikan alat oleh lawan untuk menjatuhkan atau memfitnahnya.

Alasan ketiga itu sendiri lebih didasari atas kehati-hatian dalam menjaga keselamatan dirinya. Maklum, selama 20 tahun Tan hidup sebagai buronan polisi imperial internasional, berkelana dari negara satu ke negara lain dari benua Eropa hingga Asia dan sewaktu-waktu pula dapat ditangkap hingga dibunuh oleh mereka yang mengejarnya.

Oleh sebab itu buku ini awalnya diurungkan kelahirannya. Seperti kata Tan yang diuraikan setelah menerangkan tiga alasan tersebut “Atas pertimbangan itu, mulanya sejarah saya hendak diserahkan kepada Sang Sejarah sendiri”.

Lantas, apa tujuan utama mengapa akhirnya buku ini dilahirkan?

Untuk mengentaskan pertanyaan ini, maka cobalah untuk melihat pendahuluan pada buku Madilog. Meskipun tidak akan ditemukan diksi yang menyatakan secara gamblang menunjukan untuk tujuan apa buku Dari Penjara Ke Penjara ini ditulis, akan tetapi jika lebih teliti lagi, pembaca akan memukan pernyataan Tan yang memiliki korelasi dengan buku ini.

Mengutip pernyataan Tan itu sendiri, disebutkan bahwa dirinya setelah tiba di Indonesia dari pengelanaan panjangnya di luar negeri, ia memiliki niatan untuk melahirkan trilogi buku. Selain itu, endapan pikiran yang menumpuk dalam otaknya selama pelarian menjadi alasan utama lainya mengapa harus dituangkan menjadi sebuah buku.

Prosesnya pun tidak sesederhana itu, baru pada tahun 1947, niatan untuk menuliskan beberapa kisah pengalamannya baru dapat direalisasikan. Tepatnya pada saat Tan mendekam di penjara untuk kesekian kalinya di daerah Magelang.

Baca Juga:

Don Quixote si “Pahlawan”

Pada sebuah sel yang sunyi senyap dan tidak dicampur dengan tahanan lain, ditambah disediakan pena, kertas, meja oleh sipir dan bujuk rayu kawan seperjuangan yang berada di luar sel, Tan akhirnya menulis sejarah hidupnya —yang dikatan oleh kawanya— agar dapat dijadikan pelajaran untuk generasi mendatang.

Walhasil, niatan Tan untuk menyerahakan kisah hidupnya kepada sang sejarah sendiri luntur. Timbulah niatan Tan untuk menulis meski hanya untuk mengisi waktu luang dan menghabiskan masa hukuman. Setelah menulis dan dirangkai sedemikian rupa, kumpulan tulisannya pun ia beri judul “Dari Penjara Ke Penjara.”

Seperti apa Dari Penjara Ke Penjara itu?

Buku ini terdiri dari dua bagian, yang mana bagian I menjelaskan sepak terjang Tan ketika masih mahasiswa di Harlem, kemudian masa perjuangan di Hindia Belanda hingga dirinya dibuang, pengalaman hidup di Belanda, Jerman, Rusia, Filipina, dan Kanton (Guangzhou).

Bagian II menjelaskan pengalamannya semasa di Shanghai, Hongkong, Amoy (Xiamen) dan menyingkir ke pedalaman China, Birma, Singapura, hingga kembali pulang ke Hindia Belanda. Tentunya kedua bagian tersebut menceritakan Tan yang berada di berbagai penjara.

Meski merupakan jenis buku autobiografi, namun ditinjau dari isi, Tan tidak menuliskan seluruh sejarah hidupnya dari kanak-kanak hingga dewasa. Sebaliknya, Tan hanya meyampaikan beberapa bagian kisah hidup yang dituliskan. Itupun hanya yang berhubungan dengan upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Lebih mengerucut lagi, yang begitu  berkaitan dengan kondisi politik dan ekonomi.

Karena itu pula, jangan kaget apabila tengah menikmati jabaran kisah hidup seorang Tan Malaka, tiba-tiba meloncat pada sebuah analisis terkait politik, sosial, bahkan sejarah sebuah lokasi atau situasi dimana Tan berada untuk kemudian akan dilanjutkan kembali pada sambungan kisahnya.

Lebih lanjut, pembaca pun akan menjumpai beberapa sisipan penggunaan bahasa Belanda, Jerman, dan Inggris meskipun jumlahnya sedikit. Selain itu, terdapat juga susunan kalimat dengan gaya dialek Indonesia lama. Sehingga, diperlukan sedikit kesabaran bagi pemula yang ingin mencoba memahami setiap makna dari kata tersebut.

Terakhir, meskipun pada akhirnya buku ini tidak sepenuhnya dapat dianggap sebagai sebuah autobiografi yang utuh, namun lebih dari itu, bagi yang penasaran akan detail kejadian disetiap kisah hidup seorang Tan Malaka, buku ini akan menghilangkan sedikit kegundahan tersebut.

Penulis: Airlangga Wibisono

Editor: Teguh Perdana