Siang hari, dalam perjalanan menuju kampus untuk sebuah urusan, saya berhenti di Perempatan Bulak Sumur tepatnya di lampu merah sisi barat. Beberapa polisi terlihat sedang berdiri dan bersiaga di depan.

Lampu merah berganti hijau dan saya segera melaju ke para polisi yang berdiri itu. Benar saja, beberapa motor diberhentikan, tidak terkecuali motor yang saya tumpangi.

Saya mencoba menepuk saku belakang untuk memastikan dompet yang berisi surat-surat penting ada pada tempatnya. Polisi itu memberi salam, meminta saya turun dari motor, dan membuka jok.

“Maaf, Pak ada acara apa kok ada pengecekan?”

“Di Bundaran sedang ada aksi, Mas, kami sedang memastikan tidak ada barang yang disembunyikan dan dibawa kesana.”

“Loh, Pak ada aksi?” jawab saya heran sambil membuka jok motor. Tangan pak polisi mulai memeriksa, membolak-balik bagasi motor yang berisi jas hujan lusuh dan sedikit basah akibat lupa dikeluarkan.

Aksi yang dimaksud polisi tersebut adalah aksi long march dari Bundaran UGM menuju Pertigaan Gejayan untuk memperingati Hari Perempuan Internasional.

Sebelum saya melanjutkan ke kampus, saya memilih jalan memutar hanya untuk menilik situasi di Bundaran UGM. Benar saja, massa telah berkumpul di sisi utara Bundaran UGM dan sedang mempersiapkan keberangkatan.

Jam menunjukan pukul setengah dua, setelah memarkirkan motor di Plaza UNY, saya melangkah ke selatan, menuju Pertigaan Gejayan. Samar-samar dari jauh terlihat kerumunan massa. Setibanya disana, massa sudah membentuk lingkaran.

Spanduk dan poster dengan berbagai macam keluh kesah suara hati perempuan yang ditindas dapat dijumpai. Panggung aksi berupa mobil pick up sedang dipersiapakan untuk pusat orasi. Polisi sudah berjaga-jaga dengan membentuk barikade, duduk, maupun mengatur lalu lintas jalan.

Agenda dibuka. Orator dari berbagai organisasi yang tergabung dalam agenda ini mulai bergantian berorasi dan mengemukakan argumennya. Saat jalannya aksi, massa juga menyempatkan salam tiga jari ke atas sebagai bentuk solidaritas atas perjuangan di Myanmar.

Terkait acara

Aksi long march dan orasi di Pertigaan Gejayan ini dilaksanakan oleh Komite International Women’s Day (IWD) Yogyakarta. Aksi tahun ini tidak sama seperti tahun sebelumnya. Dengan adanya PERGUB DIY Nomor 1 Tahun 2021, membuat IWD berpindah lokasi penyelenggaraan.

“Biasanya IWD itu dari tahun ke tahun selalu long march nya dari Abu Bakar Ali sampai Titik Nol,” kata Viola selaku humas IWD.

Sebanyak 23 organisasi turut bergabung dalam acara, yang terdiri dari NGO dan berbagai organisasi lingkup mahasiswa Universitas di DIY. Aksi ini pun hanya dilakukan di DIY karena bukan merupakan aksi serempak nasional. Viola memastikan jumlah peserta yang ikut aksi sebanyak 150 hingga 200 orang.

Dalam pers rilisnya, aksi ini menyoroti berbagai masalah nasional sebagai landasan tuntutan seperti: omnibus law, pembatasan ruang berekspresi, meningkatnya kekerasan anak dan perempuan, dampak pandemi, dan eksploitasi alam yang melahirkan 22 butir tuntutan aksi setelah adanya konsolidasi.

Secara garis besar, tuntutan-tuntutan umum seperti pengesahan RUU PKS, mencabut omnibus law, pemberian layanan kesehatan gratis, dan penegakan HAM masih disuarakan.

Baca juga

Menilik Data Kekerasan Terhadap Perempuan di Peluncuran Catatan Tahunan 2021

Tuntutan yang menyangkut tentang perempuan meliputi perlindungan perempuan di zona konflik, pemberian hukum yang jelas bagi pelaku kekerasan berbasis gender secara online, tuntutan merevisi usia minum dalam Undang-Undang perkawinan, dan hentikan pernikahan paksa pada anak.

Terdapat juga seruan untuk menghapuskan diskriminasi pada masyarakat karena dalam masyarakat kita dirasa belum mampu menerima keberagaman gender ataupun orientasi seksual yang dapat memicu kekerasan terhadap perempuan sendiri.

Konsep SOGIESC yang diusulkan di dalam tuntutan dianggap sebagai jalan keluar permasalahan ini. SOGIESC sendiri adalah konsep pemahaman mengenai ketubuhan, orientasi seksual, dan gender.

Viola menyatakan bahwa tuntutan-tuntutan yang dibawa memang menyentuh berbagai sektor, namun itu semua masih memiliki keterkaitan dengan penindasan terhadap kaum perempuan.

“Ketika kita ngomongin penindasan perempuan, semisal kita pergi ke Wadas, mungkin bentuk penindasan terhadap perempuan yang nampak disana adalah perebutan lahan. Ketika pergi ke kampus yang kita lihat adalah bagaimana kekerasan seksual belum ditangani pihak kampus. Kemudian yang di Papua disana banyak perempuan yang ditindas,” lanjutnya.

“Kalo berbicara isu itu semua tidak terlepas dari penindasan secara sistemik. Bagaimana perempuan sebenarnya dipinggirkan oleh sistem sendiri. Meskipun ada penindasan yang sektoral tapi secara luas kita bisa melihat kita ditindas dengan sistem. Makanya isu yang Papua kita diangkat. Karena semua lini ada perempuan, ketika di semua lini itu perempuan masih ditindas maka perempuan belum bebas.”

Viola pun berharap agar penindasan kepada perempuan yang dilakukan oleh berbagai lini harus dilawan.

Setelah melakukan wawancara dengan Viola, saya kembali mengikuti jalannya aksi hingga selesai. Aksi selesai sekitar pukul empat sore dengan mundurnya massa bersama polisi dari Pertigaan Gejayan.

Saya pun kembali menuju plaza, diiringi hujan yang mulai jatuh dan terlihat lalu lintas Jalan Gejayan mulai normal kembali.

Penulis: Airlangga

Penyunting: Akbar