Bukan, bukan kabar tentang geger gedhen Partai Biru yang akan kamu baca di sini. Bukan juga tentang gugurnya perjalanan Messi dan Ronaldo dalam meraih trofi Liga Champions musim ini. Bukan.

Ini tentang ada apa di hari ini. Hari Kamis (11/3) yang tanggalnya berwarna merah di almanak. Oh, hari libur nasional! Lalu apakah yang menyebabkan hari ini menjadi hari libur nasional? Tidak lain tidak bukan adalah peringatan Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW.

Tetapi tahukah kamu apa yang dimaksud dengan Isra’ Miraj itu?

Isra’ Miraj adalah perjalanan istimewa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa lalu naik ke Sidratul Muntaha menembus langit ketujuh untuk menerima perintah sholat lima waktu.

Peristiwa ini terjadi hanya dalam satu malam saja pada tanggal 27 Rajab pada tahun kedelapan kenabian Rasulullah SAW.

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa Isra’ Miraj merupakan peristiwa pelipur lara bagi Rasulullah SAW setelah beliau kehilangan dua orang terkasihnya, yakni sang paman, Abu Thalib dan Khadijah, istri tercintanya. Keduanya adalah sosok penting yang menyokong Rasulullah baik secara materiil maupun moril.

Dispensasi Sholat

Rasulullah dibersamai oleh Malaikat Jibril menaiki Buraq dalam perjalanan Isra’ Miraj.

Selama itu pula beliau mengalami banyak hal menakjubkan seperti bertemu nabi-nabi terdahulu di masing-masing tingkatan langit.

Beliau bertemu Nabi Adam di langit pertama, Nabi Isa dan Yahya di langit kedua, Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris di langit keempat, Nabi Harun di langit kelima, Nabi Musa di langit keenam dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh.

Setelah menembus langit ketujuh, Rasulullah akhirnya sampai di Sidratul Muntaha untuk menerima perintah sholat. Namun ada yang unik dalam peristiwa ini.

Mufasir asal Mesir, Jalaluddin Al-Mahalli dalam kitab Tafsir Al Jalalain memaparkan proses ‘tawar-menawar’ perintah sholat ini.

Mulanya, Allah SWT mewahyukan sholat lima puluh waktu dalam sehari kepada Rasulullah SAW. Setelah menerima wahyu, beliau turun dan ketika di langit keenam ditanya oleh Nabi Musa.

Mendengar pengakuan Rasulullah SAW, Nabi Musa menganggap itu adalah beban bagi umat sebab ia sendiri telah melihatnya kepada umatnya, Bani Isra’il, tidak sanggup menunaikannya dan menyarankan Nabi Muhammad SAW untuk kembali meminta keringanan bagi umatnya.

Allah SWT pun memberi dispensasi dengan mengurangi lima waktu sholat. Rasulullah SAW pun kembali turun dan dicegat lagi oleh Nabi Musa dengan pertanyaan yang sama.

Lagi-lagi Nabi Musa mengatakan hal yang sama. Nabi Muhammad SAW pun kembali naik untuk meminta dispensasi lagi bagi umatnya. Begitu seterusnya sampai akhirnya berhenti di perintah sholat lima waktu.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, ketika Rasulullah SAW bertemu lagi dengan Nabi Musa di langit keenam dengan pertanyaan yang sama, Rasulullah SAW menjawab bahwa beliau malu karena mondar-mandir menawar terus.

Esoknya, ketika Nabi Muhammad SAW mengabarkan peristiwa yang dialaminya tersebut, kaum Quraisy tidak ada yang percaya karena itu muskil sekali terjadi di zaman tersebut yang jauh dari modernitas teknologi transportasi seperti sekarang ini.

Meskipun sampai sekarang belum dapat dijelaskan dengan gamblang secara ilmiah namun fenomena tersebut sangat mungkin diteliti di zaman seperti sekarang ini.

Kemajuan sains dan teknologi memungkinkan untuk membongkar fenomena tersebut. Kecepatan cahaya, teori relativitas dan revolusi zaman telah melahirkan banyak inovasi.

Betapa cepat kita dapat bertukar pesan dan bertatap muka melalui perkembangan aplikasi. Berapa banyak astronaut yang sudah bolak-balik mudik bumi-bulan-bumi. Bahkan rencana untuk hidup di planet lain seperti Mars pun semakin riil dan rasional sekarang.

Kontroversi Supersemar

Selain bertepatan dengan 27 Rajab 1442 H, hari ini juga merupakan hari di mana Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) lahir 55 tahun silam.

Supersemar merupakan mandat yang diberikan Soekarno kepada Soeharto selaku Panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan guna memulihkan stabilitas keamanan negara yang kala itu tengah diguncang berbagai gerakan propaganda pasca Gestapu.

Soeharto kemudian bertindak cepat dengan membubarkan PKI sehari setelah instruksi Supersemar diterimanya. Tidak berhenti sampai di situ, Soeharto juga ‘menunggangi’ Tritura yang menuntut perombakan kabinet Dwikora. Soeharto pun ‘bersih-bersih’ dan menangkap 15 menteri loyalis Soekarno.

Kelimabelas nama tersebut adalah Sumarno Sostroatmodjo (Mendagri), Junius  K. Tumakaka (Sekjen Front Nasional), Armunanto (Menteri Pertambangan), Sutomo Martopradopo (Menteri Perburuhan), Astrawinata (Menteri Kehakiman), Jusuf MD (Menteri Bank Sentral), Surachman (Menteri Irigasi dan Pembangunan Masyarakat), Mayjen Achmadi (Menteri Penerangan), Imam Sjafei (Menteri Keamanan Rakyat), Oei Tjoe Tat (Menteri Negara), Sumardjo (Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan), Achadi (Menteri Transmigrasi dan Koperasi), Setiadi Reksoprodjo (Menteri Listrik dan Ketenagaan), Chaerul Saleh (Wakil Perdana Menteri III) dan Subandrio (Wakil Perdana Menteri I).

Mereka ditangkap atas tuduhan beraliran kiri, diragukan kejujurannya dalam membantu presiden dan dinilai hidup amoral dan asosial. Dari sinilah kontroversi Supersemar meruak dan disinyalir menjadi ‘surat sakti’ Soeharto dalam melegitimasi kekuasaan Soekarno.

Selain dampak fungsional, kontroversi Supersemar juga menyangkut otentisitas naskahnya sendiri masih menjadi enigma hingga saat ini.

Sampai saat ini, terdapat empat versi Supersemar yang tersimpan di ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia) dan dari semua versi tersebut, tidak ada satu pun yang terbukti otentik.

Muhammad Asichin, Kepala ANRI (periode 2010-2013) menyatakan bahwa keempat naskah tersebut telah diperiksa oleh laboratorium forensik Mabes Polri dan hasilnya nihil sehingga penelusuran historis masih terus dilakukan.

Asichin juga menegaskan bahwa naskah versi Puspen TNI AD pedoman Soeharto sama sekali tidak asli sebab dibuat memakai mesin komputer dan diduga ditulis pasca tahun 1970-an.

Benang Merah Sejarah

Terlepas dari beragam misteri, teori maupun kontroversi yang meliputinya, baik Isra’ Miraj maupun Supersemar memiliki satu benang merah, yakni refleksi sejarah terhadap kehidupan masa kini.

Bagi yang percaya terjadinya Isra’ Miraj, tentu itu sedikit-banyak akan berdampak pada keimanan dan kecintaan terhadap junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.

Kemudian banyak budaya dan tradisi dari berbagai belahan dunia yang lahir dalam rangka memperingati peristiwa bersejarah tersebut.

Sedangkan bagi yang tidak mempercayai, paling tidak fenomena tersebut telah menyumbang satu hari tanggal merah di kalender nasional tiap tahunnya.

Ya walaupun bagi sebagian besar orang, sekarang mau tanggal merah atau bukan itu sama saja, tetap diam di rumah dikoyak-koyak sepi.

Sementara ihwal Supersemar serta apa yang terjadi pada dan pasca 11 Maret 1966 lalu, itu merupakan dinamika pergolakan politik yang ikut membentuk stigma terhadap fakta historis yang masih mencari kepingan mosaiknya yang terselip entah di mana.

Dan bagi siapa saja yang terkait peristiwa pada masa itu atau pun yang hidup jauh setelahnya adalah saksi sejarah keberlangsungan bangsa dan negara ini.

Kebenaran sejarah tidaklah hilang. Ia hanya tertimbun reruntuhan puing-puing rekayasa oknum-oknum dan kaum elitis.

Penulis: Lindu

Penyunting: Akbar