Ketika saya masih berseragam putih abu-abu, saya adalah salah satu siswa yang paling sering mlipir dari razia rambut yang kerap digelar pasca upacara bendera hari Senin. Mulai dari alasan ‘besok potong’, sembunyi di lab sampai pura-pura sholat memakai mukena pernah saya lakukan demi mempertahankan muruah surai kepala.

Tidak berhenti di situ, dari awal ospek sampai era kuliah daring seperti sekarang pun, masalah rambut tidak lepas dari kekangan. Saya bukan kawula metroseksual atau partisan tren-tren modis. Saya hanya akan potong rambut ketika saya ingin saja.

Sudah banyak yang menasehati saya perihal kegondrongan. Dari mulai dosen, tetangga, orang tua sampai pacar teman. Semuanya mengatakan alasan yang hampir senada. Katanya, biar rapi karena kalau rapi akan terlihat lebih ganteng.

Saya tidak menampik bahwa mode rambut memang bisa memengaruhi tampilan roman tetapi seberapa besarkah persentasenya. Ganteng tidak ganteng sih bagaimana bentuk wajahmu saja. David Beckham mau gondrong, botak atau mohawk juga tetap terlihat tampan.

Toh, ketampanan tidak bisa lantas menjadi “ratifikasi” kesalehan seseorang. Mungkin Nabi Yusuf adalah pria tertampan di muka Bumi tetapi jangan lupakan ketampanan Abu Lahab yang juga diakui oleh para rawi dan mufasir.

Eksploitasi Tafsir Kata Rapi

Jamak kita temui pada regulasi-regulasi instansi tertentu seperti sekolah, kantor atau bahkan di selebaran lowongan pekerjaan yang memaktubkan “rambut rapi” sebagai syarat. Yang mana interpretasi kata tersebut telah tereksploitasi dan terpelintir dari makna hakikatnya.

KBBI sendiri menjelaskan pengertian kata “rapi” ke dalam lima definisi. Sayangnya, dari seluruh definisi tersebut tidak satu pun terdapat padanan diksi “pendek”. Maka cukup absurd bila frasa “rambut rapi” diserupakan dengan makna rambut pendek.

Jujur, saya pribadi semasa kecil pun sempat termakan doktrin negatif tentang rambut gondrong sebelum akhirnya mengetahui bahwa ayah dan kakek saya dulu juga pernah gondrong. Baguslah, dalih tradisi jadi bisa saya andalkan.

Kecurigaan saya semakin memuncak tatkala sampai pada pertanyaan; bagaimana sih awal mulanya kok rambut gondrong sampai dicap sedemikian nistanya?

Larangan Tak Tertulis Era Orba

Stigma negatif rambut gondrong sudah ada sejak zaman Orde Baru. Aria Wiratma Yudhistira dalam bukunya yang berjudul Dilarang Gondrong, Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda 1970an menyampaikan bahwa pemerintah zaman itu sangat ketat dalam membuat peraturan termasuk ihwal tata cara berpenampilan.

Tren rambut gondrong dianggap adopsi dari budaya kaum hippies yang menjunjung tinggi kebebasan individu dengan slogan populernya “Make Love Not War”.

Belum selesai sampai di situ, pengaruh band-band rock seperti Pink Floyd, Van Halen, Def Leppard hingga Axl Rose dengan Guns N Roses-nya yang masif digandrungi pada masa ayah ibu kita masih muda itu, juga turut memengaruhi gaya anak muda. Dari model celana cutbrai, kemeja kerah yang dilepas satu kancing sampai rambut gondrong para personelnya.

Karena dinilai dapat menumbuhkan spirit rebel, rambut gondrong lantas menjadi larangan tak tertulis pada era tersebut. Seolah-olah rambut gondrong begitu membahayakan stabilitas negara atau setara dengan komunisme yang harus diberangus dan dibuat punah.

Pelarangan rambut gondrong ini bahkan disampaikan oleh Panglima Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) Jenderal Soemitro dan disiarkan oleh TVRI pada tanggal 1 Oktober 1973.

Jenderal yang juga menjabat sebagai Wakil Panglima ABRI tersebut mengatakan bahwa kebijakan ini dibuat lantaran fenomena pemuda gondrong dapat berpotensi melahirkan onvershillig (sikap acuh tak acuh) yang ditakutkan akan berimbas meningkatkan angka kriminalitas.

Bahkan di Sumatra Utara, sang gubernur kala itu, Marah Halim Harahap sampai membentuk Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong (Bakorperagon) sebagai langkah serius dalam upaya “sterilisasi” rambut gondrong.

Sebelum pernyataan Jenderal Soemitro di TVRI pada Oktober 1973 tersebut, Soeharto mengirimkan radiogram yang dikhususkan teruntuk seluruh anggota ABRI dan karyawan sipil yang bekerja di lingkungan militer beserta anggota keluarganya untuk tidak berambut gondrong.

Tenggat waktunya pada hari ulang tahun ABRI, yakni tanggal 5 Oktober. Walhasil, para tukang pangkas rambut kala itu kebanjiranorder untuk mencukur rambut anggota militer dan polisi beserta putra-putranya.

Pelarangan yang bersifat “ekslusif” ini perlahan justru meruak menjadi tagah yang ekstensif. Mula-mula artis yang berambut gondrong dilarang tampil di TVRI.

Lambat laun konvensi ini meluas menjelma regulasi gaib yang menyusup ke gedung-gedung pemerintahan, instansi pendidikan dan tempat publik. Mahasiswa yang gondrong terancam gagal skripsi.

Seniman gondrong diasingkan dari layar kaca. Pesepakbola digertak bakal didepak dari skuat tim nasional. Hingga masyarakat yang diintimidasi tidak akan mendapat pelayanan publik di kantor pemerintahan.

Rene Louis Conrad

Pada tanggal 6 Oktober 1970 sore itu, seorang cowok Indo gondrong yang mengendarai motor Harley Davidson tengah melintasi jalan sekitar kampusnya, ITB. Tiba-tiba saja recikan ludah meluncur dari salah seorang dari dalam bis yang lewat.

Rombongan tersebut adalah kumpulan taruna yang baru saja takluk dua gol tanpa balas selepas bertanding sepak bola dalam “laga persahabatan” melawan tim dari mahasiswa ITB.

Pemuda Indo tersebut tidak tahu-menahu perihal pertandingan tersebut namun kejadian yang baru saja terjadi itu tidak bisa ia terima. Ia lantas memekik, menagih siapa aktor yang melakukan aksi durjana tersebut.

Namun tidak ada satu pun yang menjawab. Pemuda tersebut lalu menyentak para taruna tersebut untuk turun.

Bis yang baru akan keluar dari arena kampus ITB tersebut lantas menghamburkan isinya. Pemuda Indo tersebut seketika jadi santapan keroyokan para taruna. Insiden ini rupanya disaksikan oleh mahasiswa lain dari kejauhan namun ketika hendak merapat, aparat kepolisian yang berjaga di kampus sore itu menghalang-halangi mereka.

Sampai-sampai beberapa mahasiswa harus terluka bahkan letupan senapan juga mengudara mewarnai kaos petang itu.

Pemuda Indo tersebut lantas meninggal di tempat. Ia bernama Rene Louis Conrad. Fakta tentang penyebab kematian Rene pun masih menjadi pertanyaan hingga kini. Apakah ia mati karena pengeroyokan atau dugaan penembakan oleh oknum.

Sebelum pengeroyokan yang menewaskan Rene, aparat kepolisian Bandung sedang masif melakukan razia terhadap mahasiswa dan pemuda yang berambut gondrong. Banyak di antaranya yang ditangkapi di jalan-jalan, seketika digunduli begitu saja.

Rum Aly dalam bukunya Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter menuturkan bahwa kala itu pihak aparat kepolisian telah menggenalisir bahwa mereka yang berambut gondrong adalah seorang kriminal.

Hal inilah yang melahirkan ketegangan antara polisi dan mahasiswa. Mahasiswa mengecam bahwa pengguntingan arbitrer tersebut merupakan pemerkosaan hak-hak asasi personal.

Benarkah Gondrong Itu Mengganggu Aktivitas?

Selain alibi “rapi”, rambut gondrong juga sering dianggap mengganggu aktivitas. Tetapi benarkah demikian?

Saya pernah mendengar dari seorang guru kalau rambut dapat mengganggu jalannya kegiatan belajar-mengajar. Oke, saya setuju, kalau, rambut tersebut sebesar buah labu sehingga mengganggu penglihatan siswa di belakanganya atau rambut yang sudah setahun tidak dikeramas sehingga telah menjelma jadi taman safari kutu kepala dan spesies insekta lainnya.

Tapi kalau alasannya hanya karena mengganggu pemandangan, ya sudah, gampang saja tinggal dikucir. Beres kan?

Rambut gondrong lebih make sense untuk dipermasalahkan oleh pesepakbola daripada siswa. Hal itu karena rambut panjang berpotensi dapat menghalangi pemain dalam melihat kawan dan mengamati lawan ketika bermain. Namun, fakta di lapangan justru tidaklah demikian.

Banyak pesepakbola berambut gondrong. Dari mulai Budi Sudarsono, Paolo Maldini, Pavel Nedved hingga Filippo Inzaghi hampir selalu kita lihat kibasan rambutnya tatkala bermain di lapangan hijau dan hal tersebut tidak menghalangi mereka untuk tampil maksimal di setiap laga.

Nama mereka justru melegenda di dunia persepakbolaan baik lingkup nasional dan internasional.

Pledoi Historis

Kalau dikatakan berambut gondrong merupakan adaptasi budaya barat, hal tersebut tidak sepenuhnya dapat disetujui begitu saja. Ketahuilah bahwa seorang Patih Gajah Mada sekalipun juga berambut gondrong.

Ketika kolonial Belanda datang ke tanah air, para serdadu kompeni hampir seluruhnya berambut pendek sebagaimana orang Eropa pada umumnya sehingga pemuda pejuang yang berambut gondrong dicap sebagai ekstrimis dan ‘tukang pemberontak’ oleh mereka.

Cobalah lihat potret menir-menir Belanda seperti Cornelis de Hotman, Herman Willem Daendels, Jan Pieterzoon Coen atau Johannes Van den Bosch. Adakah di antara nama-nama tersebut yang berambut gondrong?

Peraturan rambut pendek lantas diteken oleh kolonial Belanda dalam sistem pemerintahan Hindia Belanda kala itu, khususnya bagi yang bekerja di urusan perkantoran dan administrasi. Begitu dan lambat laun diadaptasi oleh bangsa ini dalam beragam aspek kepegawaian dengan dalih menjaga penampilan yang bermoral.

Biar bagaimana pun stigma negatif rambut gondrong sudah membantu beberapa orang membuka jasa pangkas rambut di bilik rumahnya. Atau sudah mendorong kaum gondrong untuk melarisi penjual kucir rambut di warung-warung sederhana.

Dan setidaknya sedikit memudahkan kaum Adam dalam mengincar mangsa. Kalau semua orang gondrong, mungkin pria di seluruh dunia bakal kelabakan dan sering salah tebak dan salah tembak. Sampai tulisan ini diterbitkan, saya masih gondrong.

Kalau pun besok saya sudah cukur rambut itu bukan karena saya mau PPL, ya. Tetapi lebih karena menuntaskan kerinduan sang pemangkas rambut langganan yang sudah setahun lebih tidak menyentuh rambut saya. Hehehe.

Penulis: Lindu

Penyunting: Fairuz