Identitas novel:

  • Judul                           : Hujan
  • Penulis                        : Tere Liye
  • Penerbit                      : Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun terbit               : cetakan pertama januari 2016 cetakan ke-26 juli 2017
  • Jumlah halaman       : 320 halaman

Jalan cerita 

Kalender di bumi menunjukan angka 2042, yang mana saat itu manusia merayakan kelahiran bayi yang kesepuluh milyar. Siapa sangka bahwa perayaan itu berubah menjadi petaka, ketika Lail, gadis 13 tahun yang berada di kapsul bawah tanah berdampingan dengan ibunya saat terjadi letusan gunung dan disusul gempa bumi yang menyebabkan kehancuran yang cukup parah. Lail bertemu dengan Esok, laki laki 15 tahun yang sama-sama berhasil selamat dari kapsul bawah tanah. Mulai hari itu Lail menjadi yatim piatu sedangkan Esok harus kehilangan keempat kakak serta Ibunya yang kehilangan kedua kakinya. Esok dan Lail menjalani kehidupan di tengah perbaikan dunia yang sedang mengurangi jumlah populasinya, mereka berdua ikut hidup di pengungsian serta mereka aktif membantu marinir.

Satu tahun setelah kejadian gunung meletus dengan kekuatan 8 VEI (The Volcanic Explosivity Index), Lail dan Esok harus terpisah. Lail harus ke panti sosial, sedangkan Esok diadopsi oleh keluarga wali kota yang siap membiayai sekolah serta kehidupan Esok dan ibunya. Di panti sosial Lail bertemu Maryam dan mereka menjadi teman dekat, intensitas Lail betemu Esok pun berkurang, hanya satu kali setiap satu bulan. Sampai di pertemuan mereka pada tahun 2044, Esok memberi tahu bahwa ia harus berkuliah di ibu kota. Sehingga intensitas pertemuan mereka semakin berkurang yang awalnya satu bulan sekali menjadi hanya saat libur panjang. Lail akhirnya memulai semuanya kembali bersama Maryam. Keduanya mengikuti pelatihan untuk Organisasi Relawan. Semua berjalan mulus, Lail dengan pelatihan relawannya, dan Esok dengan kuliahnya.

Pada suatu hari disebuah pertemuan, Esok membawa Lail mengunjungi stadion. Kemudian dia menyampaikan kepada Lail bahwa sekitar satu minggu lagi akan diluncurkan kapal raksasa. Dan hanya sepuluh ribu orang yang terpilih secara acak yang dapat menumpangi kapal tersebut. Esok mendapatkan dua tiket. Wali Kota meminta Lail supaya bisa membujuk Esok agar salah satu tiket yang dimilikinya diberikan kepada anaknya yang bernama Claudia. Hingga pada jadwal keberangkatan kapal, Lail mendengar informasi dari Istri Wali Kota bahwa tiket esok diberikan kepada Claudia. Lail pun beranggapan bahwa Esok pergi bersama Claudia. Lail merasa hatinya seperti tercabik-cabik. Namun kenyataannya Claudia sebernarnya tidak pergi bersama Esok melainkan dengan Ibunya Esok.

Lail langsung memutuskan untuk menghapus ingatannya tentang Esok. Maryam panik dan langsung menyusul Lail untuk menghentikan perbuatannya. Akan tetapi, sudah terlambat. Lail sudah memulai melakukan terapinya. Elijah dokter senior yang menangani tentang penghapusan ingatan Lail menjelaskan sekali lagi kepada Lail bahwa melupakan bukan jadi masalahnya, tetapi menerima apa yang ada.

Akhirnya, Lail selesai melakukan terapi tersebut. Ternyata, ingatan Lail tentang Esok dan Maryam tidak ikut terhapus. Melainkan menjadi benang biru yang menunjukkan kenangan yang menyenangkan. Semua kenangannya, dipeluk erat-erat oloh Lail ketika terapi terakhir dilakukan.

Satu bulan kemudian, Esok dan Lail menikah di tengah teriknya matahari. Esok berjanji kepada Lail kalau dia tidak akan meninggalkan dia lagi.

Kelebihan novel:

Novel ini menggunakan alur maju mundur yang terususun rapi sehingga memudahkan pembaca untuk memahami alurnya “… Elijah memperbaiki posisi duduknya, bersiap kembali mendengarkan lanjutan cerita.” (halaman 20) disini alur menunjukkan saat ini dan disini pula terjadi transisi yang menjelaskan bahwa bagian selanjutnya merupakan flashback “Di dalam kapsul kereta yang melesat. Delapan tahun lalu…” (halaman 20) kata delapan tahun lalu sangat jelas menunjukkan bahwa alur mundur transisi dilakukan secara jelas sehingga tidak membingungkan pembaca.

 “… Persis ketukan jari itu diangkat, lantai di sebelah kursi kembali merekah, kali ini dari tempat yang berbeda dengan belalai robot sebelumnya. Dua jengkal dari sopfa hijau, tiang berbentuk bulat seperti pipa stainless muncul….” ( halaman 8) Disini penulis menggambarkan teknologi masa depan dengan detail serta bahasa yang mudah dipahami sehingga pembaca mudah menghayalkan kejadian tersebut.

“…Ibunya memeriksa lengannya. Tidak ada jam tangan konvensional, melaikan layer sentuh berukuran kecil, yang menunjukkan pukul 07.46 …” (halaman 6) disini digambarkan teknologi yang mungkin akan ada dimasa depan. Dengan adanya penggambaran teknologi yang mungkin akan ada dimasa depan menjadikan novel ini memiliki daya tarik tersendiri untuk dibaca.

Kekurangan:

Karena merupakan gambaran masa depan yang tidak kita ketahui sehingga, membuat kita membayangkan hal terlalu berat. “…Pemindai itu mulai memetakan saraf otak pasien yang duduk di sofa hijau…” (halaman 19) pada bagian ini kita diminta untuk membayangkan hal yang mungkin lumayan berat. Pada bagian ini tidak dijelaskan bagaimana bentuk pemetaan otak yang dimaksud.

Untuk orang yang tidak terbiasa dengan alur maju mundur akan sedikit kesulitan memahami cerita. Transisi antara flashback dan masa kini dapat terjadi pada bagian awal chapter atau akhir chapter. Pada chapter 9 dimulai dari masa kini lalu kembali flashback. Pada chapter 14 dari chapter 9 yang flashback berlanjut hingga chapter 14 dan pada bagian akhir chapter 14 terjadi transisi ke masa kini. Jadi perlu perhatian yang lebih dalam mengikuti alur ceritanya.

Siapa sangka sekarang bumi juga sedang melakukan hal yang sama, pengurangan jumlah populasi manusia dengan adanya pandemic dan beberapa bencana yang terjadi. Saya membaca buku ini pada 2017, saya berfikir ah mungkin ini bisa saja terjadi pada tahun berikutnya pada jangka waktu yang lama, namun saya salah pengurangan penduduk yang ditulis tere liye terjadi 2042 ternyata terjadi pada 2020 hingga sekarang. Untuk semua orang stay safe ya.

Penulis : Lestari

Penyunting : Airlangga