Identitas Buku

Judul                       : Almond

Penulis                     : Sohn Won Pyung

Penerbit                   : Grasindo (Indonesia)

Jumlah Halaman    : 236

Aku memiliki “Almond”. Kau pun juga memilikinya. Seseorang yang paling kau hargai atau bahkan kau kutuk juga memilikinya. Namun tak seorangpun dapat merasakannya.

“Almond” dalam kepalaku berbeda. Ia terlalu kecil untuk dapat membantuku merasakan emosi. Dalam dunia medis, ini dikenal dengan istilah Alexitimia. Jika ada yang bercanda, menangis, atau bahkan terbunuh, aku tidak akan bereaksi apa-apa. Bukan, bukan karena aku kejam. Aku hanya tak tahu harus merespon bagaimana. Namun tetap saja, orang memanggilku monster meski tahu aku tak bermaksud demikian.

Pada intinya, ini adalah cerita mengenai pertemuanku dengan “monster” lainnya.

Makin Populer Berkat Boygroup Bangtan Sonyeondan

Buku best-seller Korea ini mulai booming di tanah air semenjak debut dalam program reality show Korea Selatan, BTS in The Soop. Ceritanya padat tapi dikemas dengan santai. Won Pyung seolah sudah tahu jika suatu saat buku ini akan dibaca oleh salah satu idola remaja, Suga. Maka bersiaplah Won Pyung untuk menerbitkan karyanya dengan judul “Almond” dan siapa sangka bahwa buku ini dapat berkelana ke penjuru dunia berkat Suga. Tentu pada kenyataannya tidak seperti itu, saya hanya bercanda. Kisah di balik terbitnya buku ini telah Won Pyung tuliskan dengan apik pada lembar akhir bukunya.

Almond ditulis dengan gaya bahasa yang menarik dan sederhana. Won Pyung juga menceritakan setiap kalimat dan peristiwa dengan detail. Hal ini sangat membantu pembaca dalam membangkitkan imajinasi. Selain itu, pada bab pertama Penulis juga menerangkan tokoh dan latar cerita dengan sangat baik. Bahkan kita dibuat seolah sangat mengenal sosok Yoonjae (tokoh utama buku), neneknya, ibunya, dan dapat berimajinasi tentang tempat tinggal mereka.

Dalam buku ini, kerap kali Penulis menyisipkan nama-nama masakan khas Korea Selatan. Tak perlu khawatir, karena Penulis selalu memberikan catatan kaki pada setiap nama makanan atau istilah dalam Bahasa Korea. Hal ini memberikan daya tarik sendiri bagi pembaca yang punya minat khusus terhadap dunia kuliner. Cukup menambah wawasan seputar hidangan oriental dari Negeri Ginseng.

Berbagi Perspektif dengan Tokoh-Tokoh di dalamnya

Almond merupakan novel remaja tujuh belas tahun ke atas yang sarat akan makna kehidupan. Kita seperti diajak bertukar pikiran dengan Yoonjae, pengidap Alexitimia yang hidup dengan segala kepolosan perasaannya. Kehadiran tokoh lain dengan kisah berbeda juga menambah “kekayaan” novel ini. Penggunaan sudut pandang orang pertama membuat pembaca merasa sedang mendengar cerita dari seorang teman yang bijak tanpa sama sekali menggurui.

Yoonjae tak bisa merasakan simpati karena penyakitnya, tapi bukan berarti ia tidak bisa menilai sesuatu. Pada halaman 207, Yoonjae mengatakan, “Biasanya orang-orang tidak peduli atas kemalangan orang lain dengan alasan terlalu jauh, namun mereka juga tidak melakukan hal apa pun atas kemalangan yang terjadi di hadapan mereka dengan alasan rasa takut yang begitu besar. Kebanyakan orang tidak melakukan apa pun ketika merasakannya dan dengan mudah melupakan rasa simpatinya. Bagiku, itu bukanlah sikap yang benar. Aku tidak ingin hidup seperti itu.”

Hal ini menjadi tamparan keras bagi kita yang masih belum pandai dalam mengolah empati. Seorang yang tak dapat merasakan emosi seperti sosok Yoonjae saja paham caranya bertindak atas kemalangan orang lain. Bahkan hewan yang tak diberi hati nurani oleh Tuhan pun bisa bersikap amat peduli. Lantas kita manusia dengan bagian amigdala di kepalanya baik-baik saja, kenapa tidak bisa?

Penulis       : Mawar

Penyunting: Nia