Judul               : Terbenam dan Tersingkir Di Paris dan London

Penulis             : George Orwell

Penerbit           : DIVA press

Tahun              : 2019

Tebal               : 312 halaman

Guru atau orang yang kita anggap bijak pasti pernah memberi nasihat hidup yang intinya seperti ini, “Hidup di dunia itu berputar seperti roda. Adakalanya di atas, adakalanya di bawah.”

“Di atas” dan “di bawah” adalah dua hal dengan makna yang berlawanan. Seperti senang dan sedih, sempit dan luang, kaya dan miskin, dan sebagainya. Kenyataan hidup seperti inilah yang membuat hidup kita dinamis, selalu bergerak seperti roda, dan muncul apa yang dinamakan perubahan.

Kemiskinan adalah salah satu kenyataan hidup yang akan dirasakan seseorang ketika roda kehidupannya berada di bawah.

Dalam KBBI, kemiskinan adalah suatu situasi di mana seorang manusia bertahan untuk hidup pada tingkat yang minimum. Seseorang pada situasi ini hanya mampu menyanggupi kebutuhan primernya saja.

Kemiskinan ini pernah dialami oleh George Orwell, esais sekaligus novelis Inggris, yang terkenal lewat karyanya yang berjudul 1984 dan Animal Farm, pernah berada di fase hidup itu sebelum ia menjadi seorang yang masyhur.

Kehidupan seperti itu ia jalani beberapa bulan lamanya. Tepatnya, setelah ia melepas profesinya sebagai polisi imperial Inggris di Burma –akibat bertentangan dengan hati nuraninya- dan mendapat kemalangan dalam perantauannya untuk menjadi penulis di Paris.

Akhirnya, ia pun memutuskan untuk pulang ke Inggris.

Diakuinya pada sebuah pengantar dalam novel Animal Farm untuk terbitan Ukraina, dia pernah hidup berdampingan dengan gelandangan dan pelaku kriminal di suatu wilayah yang miskin.

Dia juga pernah turun ke jalan untuk mengemis atau mencuri demi kebutuhan hidupnya.

Pernyataan ini menyatakan bahwa Orwell pernah menjadi seorang gelandangan dan tentunya berada di dalam lingkaran kemiskinan itu sendiri.

Selama pergaulannya dengan orang-orang yang kekurangan uang itu, dia merasa tertarik dengan gaya hidup mereka. Dia pun menuliskan pengalamannya dan apa yang ditemuinya menjadi sebuah novel.

Novel inilah yang menjadi permulaan seorang yang bernama Eric Arthur Blair merubah namanya menjadi George Orwell sebagai nama pena, kemudian masuk ke kancah sastra Inggris, bahkan dunia.

Karya perdananya ia beri nama Down and Out in Paris and London (Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London)

Kemiskinan Ala Orwell

Budianta dkk. (2008) menerangkan kenyataan pada karya sastra merupakan cara pandang penulis dalam melakukan pengingkaran atas realitas sosial dialaminya.

Sehingga sastra disajikan sebagai potret sosial yang menyajikan realitas masyarakat, di mana disampaikan dengan ciri khas penulisnya (Atma Sri Wahyuni, dkk. 2020 : 2).

Penjelasan Budianta tersebut ada kaitannya dengan novel yang akan dibahas ini.

Mengambil tema kemiskinan dan berlatar kota Paris dan London pada tahun 1930an, Orwell menarasikan kehidupan seseorang yang tiba-tiba menjadi miskin –mungkin ini adalah potret dari dirinya sendiri ketika hidup susah- akibat suatu kasus pencurian dalam hotelnya, di mana sebagian besar uangnya dicuri dan hanya menyisakan 47 franc saja.

Kejadian pencurian tersebut menjadi sebuah gerbang pembuka si tokoh –yang sama sekali belum pernah hidup susah- dengan kemiskinan.

Kau pikir hidup miskin sederhana, nyatanya hidup miskin sangat rumit. Kau pikir hidup miskin menakutkan, nyatanya hidup miskin menjijikan dan membosankan. Adalah betapa rendahnya kemiskinan yang kau jumpai terlebih dahulu, bagaimana ia mengubah dirimu, bagaimana kejamnya ia, bagiamana kau harus mengais sisa-sisa makananmu (hlm 26).”

Kerumitan dalam kemiskinan dalam cerita ini ialah bagaimana cara mengelola 47 franc untuk waktu satu bulan.

Pada era itu, di kota besar semacam Paris, minimal untuk seseorang melewati satu hari memerlukan 6 franc.

Itupun dengan tidak merasakan transportasi umum atau memakan kentang rebus tanpa garam, karena uang untuk membeli garam dipergunakan untuk membeli bahan bakar kompor. Jika direnungkan, apabila ia benar hidup sehari dengan 6 franc, maka uang si tokoh itu hanya mampu untuk bertahan satu minggu.

Kerumitan hidup juga didapat si tokoh utama ketika pulang ke kampung halamannya di Inggris. Karena tidak memiliki tempat tinggal dan menanti sebuah pekerjaan yang dijanjikan, maka tokoh utama memutuskan untuk menggelandang di jalanan London.

Ia menjalani hidup secara nomaden, berpindah dari satu spike –semacam rumah penampungan tunawisma- ke spike yang lain. Sebagai keterangan, kegiatan menginap di spike hanya untuk satu malam saja.

Contoh lain adalah kebutuhan untuk merokok dan menikmati secangkir teh. Karena keterbatasan uang maka si tokoh utama harus mengais puntung rokok bekas di jalan, kemudian dikumpulkan dalam sebuah wadah kaleng.

Sisa tembakau dari puntung rokok inilah yang dijadikannya sebagai persediaan tembakau demi kebutuhannya merokok.

Sedangkan untuk secangkir teh, ia harus mendapatkannya dengan mengikuti sesi doa yang diadakan sukarelawan gereja. Yang mana ia dan gelandangan lainnya melaksanakannya jauh dari rasa serius.

Mereka melakukan itu bukan untuk memenuhi kebutuhan spiritual melainkan demi mendapat secangkir teh gratis.

Keseharian seperti inilah yang membuat optimisme hidup seseorang menurun dan terjebak dalam jurang kelesuan yang dalam.

“Kau berkenalan dengan rasa bosan yang tak dapat dipisahkan dari kemiskinan; ketika kau menjadi pengangguran dan, karena kurang makan, tak mampu memaksa diri untuk merasa tertarik pada apapun (hlm29).”

Kemiskinan akan membuat seseorang mudah untuk berbohong. Kita tahu seseorang tidak senang dikatakan miskin oleh orang lain, meski ia sadar situasinya memang begitu adanya.

Akibat gengsi atau agar harga diri tidak dipandang rendah oleh lingkungannya, mungkin juga didorong suatu niat jahat demi keuntungan pribadi, atau keadaan yang mendesak semisal kekurangan pangan, seseorang itu akan berbohong sebagai upaya bertahan hidup.

“Tiap hari, tiap waktu, kau mengatakan kebohongan, kebohongan yang mahal harganya (28).”

Dengan begitu ia merasa selamat dari pandangan sosial terhadapnya atau mampu melanjutkan hidupnya, walaupun tidak mengeluarkannya dari jerat kemiskinan. Malah menambah susah akibat upaya bertahan tersebut erat kaitanya dengan sikap pemborosan, konflik dengan lingkungannya, bahkan tindak kriminalitas.

Tetapi kebahagiaan juga hadir ketika seseorang hidup di lingkaran kemiskinan. Rasa bahagia yang dimaksud adalah rasa lega dan hilangnya rasa khawatir akan sesuatu yang bersifat materialistik.

Orwell menyatakan bahwa dalam batas-batasan tertentu uang adalah salah satu sumber kekhawatiran seorang manusia.

”Aku pikir semua orang yang pernah miskin pernah merasakannya. Kemiskinan mendatangkan perasaan lega –mendekati senang, malah- karena kau mengetahui dengan pasti bahwa dirimu dan bahkan hidupmu telah benar-benar terbenam dan tersingkir (hlm 32).”

Ketenangan yang didapat ini seperti seorang yang berpunya yakin bahwa hidupnya akan baik-baik saja asal memiliki uang.

Bagi seorang yang miskin, ketenangan yang didapat karena ketidakmungkinan untuk menggapai asa meski berusaha semaksimal mungkin tidak akan mengubah apapun.

Ketenangan yang dirasakan kaya dan miskin dilandasi satu aspek yaitu kepastian. Kepastian adalah suatu sifat yang membawa seseorang terhindar dari kebimbangan.

Kemiskinan selalu menjadi hal yang tidak menarik bagi kehidupan seorang manusia. Bahkan menjadi sumber ketakutan bagi seorang yang berpunya. Tetapi meski buruk dan menakutkan, kemiskinan adalah hal yang nyata adanya.

Sebagian dari kita sedang mengalaminya sekarang.

Sebagian lagi mungkin memikirkannya pun tidak.

Tetapi jika kalian mempercayai hidup itu berputar, bukankah ini adalah sebuah keniscayaan yang akan terjadi pada diri kalian suatu saat nanti? Entah itu kemiskinan yang bersifat materi atau non materi.

“Kau sering berpikir tentang kemiskinan seumur hidup. Kau merasa takut terhadapnya dan kau tahu cepat atau lambat ia akan datang kepadamu (hlm 26).”

Terbenam Dan Tersingkir Di Paris Dan London adalah karya klasik yang sarat akan nilai hidup dan perspektif Orwell dalam melihat kemiskinan.

Membaca tiap babnya seperti membaca catatan harian milik Orwell sendiri, meski saya yakin setiap kisah yang dituliskan tidak selalu dialami Orwell sendiri melainkan adalah hasil pengamatannya atau hanya sebatas karangannya saja.

Ditulis dengan gaya satire dan penuh ironi didalamnya, membuat karya perdana Orwell ini semacam pembalasan dendamnya ketika hidup miskin.

Seperti apa yang yang dikatakan filsuf sekaligus tokoh feminis Simone de Beauvoir, “sastra dapat membalaskan dendam pada kenyataan dengan menjadikannya budak fiksi.”

Airlangga Wibisono

Penyunting: Lindu A.

Daftar Pustaka

Orwell, G., 2021. Animal Farm. Yogyakarta: Immortal Publishing.

Wahyuni, A. S., Anshari & Mahmudah, 2020. Gambaran Kemiskinan Dalam Novel Yorick Karya Kirana Kejora (Pendekatan Sosiologi Ian Watt). Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, 1(1), pp. 1-9.