Kamu tampan? Kaya raya? Terus, pacarmu cantik? Ya, lalu apa hebatnya? Itu kan maklum. Umum dan sangat tidak fenomenal. Malu ah sama Syekh Puji.

Ini bukan tentang tips and tricks memperoleh pacar melainkan ulasan historis dari terciptanya istilah “pacaran” itu sendiri. Bagaimana asal-usul dan segala macamnya.

Ini jauh lebih fundamental karena berkaitan langsung dengan realita sosial kontemporer.

Daun Pacar

Ketika menyebut kata “pacaran”, umumnya, kita akan menangkapnya sebagai pemaknaan atas status seseorang yang sedang menjalin tali asmara (di luar ikatan pernikahan) dengan orang lain atau aktivitas berasyik-masyuk antara dua sejoli itu sendiri. Namun siapa sangka bahwa istilah “pacaran” ini bermula dari tradisi budaya masyarakat Melayu.

Dulu, ketika seorang laki-laki kesengsem dengan seorang gadis dan ingin menjadikannya sebagai kekasih hatinya, ia harus menemui orang tuanya terlebih dahulu.

Kemudian, apabila sang gadis menerima, maka mereka berdua, masing-masing jari tangannya, akan dihias dengan menggunakan olahan daun pacar, atau yang kini populer dengan henna. Sehingga apabila ada pemuda lain yang juga tertarik padanya, mereka akan segera tahu bahwa dia sedang menjadi “pacar” orang.

Selama masa pacaran itulah, baik si laki-laki maupun si perempuan akan dibekali wejangan ilmu oleh orang tua dan sesepuh kampung guna mengarungi bahtera rumah tangga.

Setelah itu, sang lelaki diberi tenggat waktu sekitar tiga bulan atau selama pacar itu belum luntur dari tangan, untuk memantaskan diri dan menyiapkan banyak hal termasuk persiapan lamaran.

Jika sampai tenggat waktu yang sudah ditentukan si laki-laki belum juga melamar sang gadis atau bahkan membatalkannya, maka keduanya sudah tidak lagi dalam ikatan pacaran serta boleh untuk pacaran dengan orang lain.

Jadi, putusnya mereka itu jelas, dikarenakan batalnya agenda lamaran. Bukan karena ghosting atau saling blokir akun media sosial, ya.

Sementara itu, jika ditarik lebih luas lagi, karena pacaran merupakan fenomena sosial maka akan sangat sulit untuk mendedah secara pasti kapan dan siapa pencetus konsep pacaran itu.

Memang, aktivitas antara sepasang insan yang bermadu kasih ini tentu sudah ada sejak lama bahkan jauh sebelum kota Pompeii menghilang karena letusan Gunung Vesuvius ribuan tahun lalu. Hanya saja frasa “pacaran” belum lahir. Namun kita masih bisa menelusurinya melalui riwayat kebahasaan.

Kata “pacar” yang dipakai oleh orang Indonesia sebenarnya lebih representatif jika dibandingkan padanan serupa dalam bahasa Inggris, yang notabene merupakan bahasa Internasional.

Berdasarkan Webster’s English Dictionary, kata “boyfriend” pertama kali digunakan pada tahun 1822 sementara kata “girlfriend” baru menyusul pada tahun 1859.

Pada mulanya, istilah tersebut merujuk kepada “teman perempuan” atau “teman laki-laki” oleh kalangan remaja zaman itu. Barulah pada tahun 1922, istilah tersebut memiliki pemaknaan sebagai “kekasih”, “pasangan” atau yang sekarang kita sebut dengan “pacar”.

Jadi, meski merujuk pada makna yang sama, baik kata “pacar” atau “girlfriend” dan “boyfriend” memiliki latar belakang masing-masing.

Mengenai aktivitas fisiknya, pacaran sebenarnya merupakan semacam tindakan pemberontakan terhadap matchmaking atau tradisi perjodohan di mana pernikahan masih menjadi keputusan keluarga bukan otoritas personal.

Dalam buku Intimate Relationships, Marriages, and Families yang disusun oleh sekumpulan profesor dan pengajar studi tentang Pernikahan dan Keluarga dari Amerika Serikat, yakni F. Philip Rice, Nick Stinnett, Nancy M. Stinnett dan Mary Kay DeGenova, disebutkan bahwa sebelum abad 19, perempuan tidak diperbolehkan bepergian tanpa didampingi salah seorang anggota keluarga.

Seorang laki-laki harus menemui orang tua gadisnya dahulu, baru diperbolehkan jalan bersama. Tidak seperti sekarang yang bisa dengan gampang janjian bertemu di depan gang.

Saint Monday

Membahas tentang pacaran, tentu identik dengan “Malam Minggu”. Atau yang para bujangan lebih suka menyebutnya sebagai “Sabtu Malam”.

Saya tidak mau berdebat soal apakah yang benar hari Minggu atau hari Ahad. Yang jelas, yang saya maksud adalah hari itu. Hari setelah Sabtu itu.

Malam Minggu menjadi momentum untuk melepas penat dan bersenang-senang. Entah itu dengan pergi bersama teman, kekasih atau teman rasa kekasih. Romantisisasi Malam Minggu ini dipengaruhi oleh beragam faktor, salah satunya adalah hari libur.

Ternyata, libur akhir pekan merupakan fenomena modern abad 19, bukan warisan yang sudah ada sejak zaman Megalithikum. Hal ini berkaitan erat dengan dinamika kehidupan para pekerja.

Revolusi industri yang berkembang masif sejak James Watt sukses menemukan mesin uap mengambil peran penting dalam budaya kerja masyarakat modern. Jika dulu manusia bekerja hanya mengandalkan kekuatan otot dan menghafal kondisi alam, kini kehadiran mesin mulai memudahkan beban kerja dan meningkatkan produktivitas bisnis.

Dulu para pekerja hanya memiliki libur sehari, di hari Minggu saja. Nah, libur cuma sehari inilah yang dirasa menyiksa oleh banyak kalangan pekerja. Lalu, lahirlah praktik “Saint Monday” yang meracuni para pekerja di Inggris.

Saint Monday merupakan “tradisi bolos kerja” di hari Senin yang telah ada sejak abad 17 lalu. Hari di mana para pekerja sengaja meliburkan diri untuk melanjutkan istirahat atau bersenang-senang. Gerakan ini merupakan wujud protes terhadap kapitalisme para pemilik bisnis.

Mereka sadar bahwa orang-orang yang mempekerjakan mereka bahkan bisa bersenang-senang setiap harinya, jadilah mereka menuntut “hak yang sama” apalagi pada praktiknya, beban bekerja mereka lebih berat dan melelahkan secara fisik.

Gerakan ini lantas menyebar ke seluruh Eropa. Banyak pekerja meluapkan kepenatan dengan minum-minum, sabung ayam dan kesenangan lainnya. Bahkan ada lagu rakyat abad ke-18 dari Sheffield, Inggris, yang berjudul “The Jovial Cutler” yang menggambarkan semangat perlawanan kelas pekerja dan sekaligus menjelma anthem para pekerja kala mengkhidmati Saint Monday.

Mulanya, para pemilik bisnis mulai memaklumi ketika ada pekerja yang bolos pada hari Senin namun perlahan melihat produktivitas menurun dan ancaman gerakan underground yang semakin masif, mereka mulai mencari solusi agar para pekerja mau kembali bekerja secara disiplin namun tetap tidak kehilangan hak liburnya.

Ketemulah solusi untuk menetapkan hari Sabtu dan Minggu sebagai libur akhir pekan. Meskipun awalnya, hari Sabtu tidak serta-merta langsung jadi hari libur melainkan setengah hari kerja.

Kenapa hari Sabtu? Karena dulu banyak serikat pekerja yang menuntut agar hari Sabtu menjadi hari libur. Salah satunya adalah kelompok Early Closing Association yang terbentuk pada tahun 1842.

Asosiasi ini meminta waktu luang untuk Sabtu siang. Lobi bekerja setengah hari pada hari Sabtu ini menjamin konsekuensi para pekerja akan bekerja penuh pada hari Senin. Alasannya, selain untuk meminimalisir kegiatan nirfaedah yang kerap dilakukan para pekerja pada Saint Monday, hari Sabtu (Sabat) dan hari Minggu juga menjadi hari ibadah bagi para pekerja di Eropa, yang mana mayoritas dari mereka adalah penganut Yudaisme dan Katholik.

Begitulah, kemudian penetapan regulasi ini menyebar ke seluruh sektor industri di dunia hingga kini. Meskipun hal tersebut memang tidak menjamin para pemilik bisnis industri mempraktikkannya secara persis.

Deklarasi Impulsif

Yah, begitulah. Pada mulanya, “tradisi pacaran” sangat kental dengan ciri khas budaya Timur yang agamis namun perlahan benturan kebudayaan dan dinamika sosial zaman memengaruhi definisi kebahasaannya menjadi sebagaimana yang kita pahami sekarang.

Tradisi ini sebenarnya masih bisa kita temui jejaknya dalam tradisi Malam Berinai yang masih lestari di kebudayaan Minangkabau, dan tradisi nuansa Melayu semacamnya.

Mengenai mengapa Malam Minggu mendapat labelisasi romantis, rasanya itu sekadar deklarasi impulsif kaum-kaum picisan saja. Tidak lebih. Namun tetap bahwa penetapan akhir pekan sebagai hari libur jelas ikut andil.

Lantas banyak tempat-tempat hiburan yang menyesuaikan diri dengan buka lebih lama pada akhir pekan bahkan ada beberapa di antaranya yang hanya buka pada akhir pekan saja. Tujuannya jelas, meraup untung.

Sampai sekarang pun masih jamak ditemui industri hiburan yang lebih aktif di akhir pekan daripada hari-hari biasa lainnya. Apalagi di malam Minggu. Malam di mana rindu yang ditabung sudah jadi racun, kata Joko Pinurbo. Dan malam di mana hujan lebat menjadi doa paling deras yang dipanjatkan oleh kaum-kaum nelangsa lainnya.

Sejatinya, Malam Minggu itu biasa-biasa saja. Yang menjadikannya indah adalah dengan siapa kamu menghabiskannya.

Lindu A.

Penyunting: Akbar