Hanyalah panas terik mentari yang menemani langkah saya menuju Gamplong Studio Alam Sleman (GSAS) pada Kamis siang (1/7) lalu. Tempat wisata satu ini lokasinya berada di Dusun Gamplong, Sumberahayu, Moyudan, Sleman.

Sebagian besar studio berdiri di atas lapangan Desa Sumberahayu sedangkan sebagian lain, tepatnya pada sisi bagian selatannya dulu merupakan lahan perkebunan warga.

Bumi Manusia

Barulah terjadi perombakan bangunan pada tahun 2017. Penyebabnya karena GSAS menjadi lokasi syuting film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta besutan sutradara Hanung Bramantyo yang rilis setahun berselang.

Pasca kelarnya proses syuting, bangunan-bangunan semi permanen yang berdiri karena keperluan film itu tidak dirobohkan begitu saja melainkan dihibahkan kepada pemerintah daerah setempat sebagai tanda terima kasih sekaligus harapan agar hibah tersebut dapat membantu mengangkat taraf perekonomian daerah tersebut.

Pada tahun 2018, Presiden Joko Widodo datang langsung guna meresmikan GSAS menjadi tempat wisata. Nama GSAS menjadi semakin naik daun ketika Hanung Bramantyo kembali menggunakan tempat ini sebagai lokasi syuting film Bumi Manusia.

Terbukti, film yang menampilkan Iqbaal Ramadhan sebagai tokoh Minke, karakter utama dalam film yang merupakan adaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer dengan judul sama tersebut, sukses menembus angka 1,3 juta penonton dan masuk dalam 12 nominasi penghargaan film dalam ajang Festival Film Indonesia 2019 lalu.

Langkah saya terhenti sebelum resmi menginjakkan kaki ke dalam lokasi.

Seorang petugas penjaga pintu masuk mewajibkan saya untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Tidak hanya itu, pengecekan suhu tubuh dan himbauan untuk senantiasa menjaga protokol kesehatan juga menjadi upacara penyambutan pengunjung yang lainnya.

Nuansa klasik seketika merasuki mata tatkala saya mulai bergerak menyusuri bangunan-bangunan di dalamnya.

Mulai pemukiman kumuh sampai perkotaan masa Kolonial Hindia Belanda dan bermacam gaya arsitektur bangunan padu padan di sini. Rasanya seperti sedang berkunjung ke masa lampau. Masa ketika modernitas masih asing dan gedung-gedung kaca pencakar langit belum menjadi primadona zaman.

Sebuah lokomotif tua membelah studio bak melukis khatulistiwa di tengah belantara bangunan yang berjajar-jajar. Para petugas hilir mudik ke setiap spot bangunan dengan segenggam tiket di tangannya. Di setiap sudut banyak penjual menempati bangunan dan menjajakan aneka panganan.

Es Tebu Yang Memahit

Saya terus bergerak mengamati setiap titik lokasi. Selayang pandang saya seperti menemukan sebuah oase bagi dahaga saya. Mirip sebuah bar dengan tulisan huruf kapital mencolok mata yang berbunyi; “ES TEBU”.

Segera saya hampiri dan seorang perempuan berdiri menyambut kedatangan saya. Ia adalah Yudesti, pemudi penjaja es tebu yang juga merupakan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri di bilangan Sleman.

Yudesti bersama keluarganya sudah berjualan sejak studio ini dibangun. Saat pihak studio masih menggunakan tempat ini untuk proses syuting film, ayah Yudesti berjualan setiap Sabtu dan Minggu malam di warung yang berada di pasar, tepat utara studio.

Karena ramai pembeli akhirnya setelah proses syuting selesai muncul prakarsa untuk bergeser ke timur studio, bersamaan dengan penjual lainnya sebelum akhirnya pindah ke dalam studio.

Mayoritas pedagang di GSAS ini merupakan warga yang berdomisili di sekitar Dusun Gamplong.

Sayang seribu sayang, pagebluk Corona mengacaukan aktivitas ekonomi mereka. Pandemi memukul berbagai lini kehidupan manusia termasuk sektor pariwisata.

Jumlah pengunjung GSAS menurun drastis akibat pandemi. Himbauan social distancing, limitasi kuota pengunjung serta berkurangnya orang yang berwisata keluar kota merupakan beberapa faktor penyebabnya.

Yudesti pun mengamini hal tersebut. Dirinya merasa dirugikan dengan adanya Covid-19. Bahkan ketika awal pandemi, GSAS sempat ditutup selama 4 bulan.

Menurutnya, pembatasan jumlah orang di tempat umum memanglah tepat mengingat taraf kesehatan masyarakat yang mengkhawatirkan namun di sisi lain, sektor ekonomi mengalami imbas yang signifikan.

“Kalau dari sisi ekonomi ngaruh gede banget, tapi buat sisi kesehatan ya memang bagusnya seperti itu” ujar Desti dilematis.

Yudesti berkisah bahwa sebelum pandemi, ketika akhir pekan atau musim liburan sekolah, ia bisa menjual sebanyak 6 sampai 8 longsong cup yang tiap cupnya berisi 50 pcs. Datangnya pandemi membuat angka penjualan mengerdil.

Kini, dalam kondisi ramai saja, hanya bisa menghabiskan 2-3 longsong bahkan kalau sedang sepi, setengah longsong pun kadang tak habis. Tak pelak bila es tebu manis ini perlahan mulai “memahit” karena dihantam pandemi.

Dampak PPKM

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mulai berlangsung dari 12 Juli 2021 s.d. 20 Juli 2021 sesuai yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Airlangga Hartarto.

Hal ini menambah panjang daftar persoalan baru bagi Yudesti. PPKM membuat GSAS tutup sementara demi mematuhi aturan pemerintah yang sedang berlaku. Menyikapi hal tersebut, Yudesti berinisiatif untuk berjualan di warung meskipun dengan berat hati. Mau tidak mau, ia harus bersikap realistis.

“Pastinya beda. Yang dijual, beda. Yang beli, beda. Daya belinya juga beda apalagi jualan di tempat wisata dan tidak, jelas beda harga. Harus menyesuaikan lagi,” terang Yudesti.

Yudesti dan para pedagang dan karyawan di GSAS merasakan betul dampak PPKM bagi kelangsungan usaha mereka. GSAS telah menjadi sumber penghasilan bahkan mata pencarian bagi sebagian warga sekitar.

Masuk GSAS tidak dikenakan biaya alias gratis.

Di dalamnya ada Museum Bumi Manusia, Museum Habibie & Ainun dan Gallery Antiques & Ruang Rahasia. Jika ingin masuk ke salah satu bangunan tersebut, harus membeli tiket dahulu seharga sepuluh ribu rupiah.

Sebelum menyelesaikan perjalanan sana di GSAS, saya menjelajahi Museum Habibie & Ainun.

Saya duduk di balkon rumah Ainun. Dari lantai atas, mata leluasa bergeliat menjelajahi tiap sudut studio, baik bangunan maupun orang yang sedang beraktivitas.

Dokumentasi Penulis

Ada pedagang, karyawan studio, pengunjung dan orang yang sedang melaksanakan prosesi syuting. Dari kejauhan, saya menyaksikan anak-anak sedang fokus memainkan peran.

Ada yang berpakaian adat Jawa komplet dengan segala tata riasnya. Ada pria berpakaian khas Cina sedang memainkan biolanya yang mengalun indah. Kamerawan yang lihai mengarahkan kamera serta dua penjaga berbadan tegak yang mengamankan jalannya prosesi syuting.

GSAS juga tidak jarang menjadi tempat untuk menggelar berbagai kegiatan seperti pre wedding, syuting film, pemotretan hingga acara pertemuan. Tentu banyak orang yang menjadi bagian di dalamnya.

Eksistensi GSAS menyangkut hajat hidup banyak orang. Dari mulai pelaku industri perfilman sampai para pedagang yang notabene warga sekitar.

Lantas ketika aktivitas operasional di tempat ini harus terhenti, akankah mereka berjalan di tempat? Sayangnya tidak dengan tuntutan hidup yang harus tetap berjalan.

Ikhwan Jati

Penyunting: Lindu A.