Langit begitu mendung saat saya sampai di sebuah kedai susu, menatap ke arah rumput yang dikelilingi pagar besi milik daerah yang terkenal istimewa.

Saya satu-satunya pelanggan, sampai seorang perempuan dengan jaket jin denim bergabung dengan saya. Mandana Devananti (20), seorang perempuan yang dengan percaya diri mengaku bahwa ia menolak membuang sampah pada tempatnya.

Mandana terseyum ramah, sembari bertukar sapa ia melepas jaket jinnya, menampilkan atasan berwarna putih tulang. 

“Bentar kunci motorku,” serunya lalu kembali ke pakiran.

Selesai dengan kuncinya, ia duduk dan kembali terseyum ramah. Setelah meminta salah seorang pegawai untuk mengecilkan volume musik, kami berdua mulai bercakap.

Saya mempertanyakan soal seringnya ia memajang stori yang membahas soal kerusakan dan bagaimana menjaga lingkungan.

Jawabannya sederhana, stori-stori yang mejeng itu berasal dari kekesalannya soal banyaknya sampah di rumah maupun di jalan, juga kebiasaan orang-orang yang hanya sekali menggunakan barang yang sebenarnya bisa digunakan berkali-kali sebelum berakhir ke tempat sampah, contohnya adalah plastik.  

Bagaimana Menjaga Lingkungan Lewat Eco Enzyme

Bicara soal menjaga atau mencintai lingkungan, ia menjawab singkat, “Jangan ngerusak, gimana cara biar kita nggak ngerusak, yaitu merawat.”

Dalam keputusan merawat inilah akhirnya Mandana memulai kegiatannya membuat eco enzyme sejak Desember tahun 2019 sampai saat ini. Eco enzyme merupakan cairan fermentasi yang bisa digunakan sebagai pembersih rumah tangga dan perawatan tanaman. 

“Kenapa sih mbak mesti Eco Enzyme?” tanya saya kepada Mandana.

Ia memaparkan alasannya memilih eco enzyme adalah karena sampah yang menumpuk di rumahnya, terutama sampah plastik berasal dari bungkus cairan pembersih yang ia gunakan. Ia pun menjelaskan manfaat eco enzyme.

Eco enzym itu cairan yang bisa buat gantiin itu semua (Pembersih). Dia ( Eco enzyme) bisa buat nyuci baju, dia bisa buat nyuci piring, sayur sama buah, dia bisa buat ngelap furniture, bisa buat ngepel lantai. Kalau di dapur ada minyak-minyak bekas tuh bisa buat ngebersihin juga. Bisa buat bersihin toilet kotor juga dan itu hanya dalam satu cairan, berarti sampahnya (bungkus cairan pembersih) lebih minim dong.”

Mandana juga mengatakan limbah eco enzyme yang mengalir ke sungai tidak akan bersifat polusi layaknya limbah detergen.

Sisa eco enzyme dari kegiatan mencuci yang dialirkan ke sungai akan membersihkan air sungai.

Bahkan belum lama ini, penuangan eco enzyme ke sungai dilakukan untuk membersihkan air di anak sungai Citarum dan anak sungai Cisangkuy, Kabupaten Bandung dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Jangan Khawatir, Buat Eco Enzyme Itu Gampang

Saya manggut-manggut menyimak penjelasan Mandana mengenai segudang manfaat eco enzym, untuk menuntaskan rasa penasaran, saya mempertanyakan soal aromanya.

“Aku bawa contohnya nih kalau kamu mau cium?” ucap Mandana antusias menunjukkan sebotol contoh cairan eco enzyme yang sedari tadi sudah cukup mencuri perhatian saya.

Saya menahan napas saat membuka tutup botol, dan perlahan mendekatkan hidung saya ke lubang botol.

“Iya mbak, wangi kek jeruk ya mbak,” ujar saya berbarengan dengan keberanian saya berhenti menahan napas. Terima kasih Gusti, saya sudah khawatir kalau tidak sengaja memberi reaksi mual.

Mandana menjelaskan bahwa pembuatan eco enzyme bisa dari fermentasi buah atau sayur.

Produk Eco Enzyme

Eco enzyme yang berasal dari fermentasi sayuran memiliki aroma yang kurang enak oleh karena itu cocok digunakan untuk menyemprot tanaman menggantikan pestisida sementara eco enzyme yang berasal dari fermentasi buah kalau berhasil akan menghasilkan aroma yang segar, cocok untuk menyuci baju atau mengepel lantai.

Seandainya dalam pembuatan eco enzyme yang berasal dari fermentasi buah gagal, maka akan menghasilkan cairan yang beraroma sangat busuk. Produk gagal ini bisa digunakan sebagai pupuk.

Terkait fungsinya sebagai detergen, Mandana meyakinkan bahwa eco enzyme bisa membersihkan pakaian kotor, namun seperti detergen pada umumnya ia memiliki kelemahan pada noda kopi dan tinta.

Membuat eco enzyme juga bukan hal yang ribet dan memakan banyak waktu, bagi Mandana hal yang ribet adalah saat sampah sudah menumpuk.

Jika ingin memulai membuat eco enzyme, Mandana menekankan bahwa botol yang digunakan haruslah berbahan plastik, tidak boleh kaca.

Mengingat proses pembuatan eco enzyme ini melalui fermentasi yang akan menghasilkan gas. Penggunaan botol kaca akan memungkinkan wadahnya pecah sebelum eco enzyme selesai fermentasi. 

Mandana membagikan cara membuat eco enzyme versinya. Pertama siapkan botol plastik, potongan buah/sayur yang telah dicuci, gula pasir, dan air.

Perbandingan bahan yang digunakan adalah 1:3:10. Proses pembuatannya adalah campurkan 100 gram gula pasir, 300 gram sayur/buah, dan 1000 ml air ke dalam botol. Tutup botol, tunggu selama tiga bulan, dan buka tutup sekali setiap bulan. Membuka tutup botol setiap bulan sekali ini bertujuan untuk mengurangi gas yang dihasilkan selama proses fermentasi. Setelah tiga bulan saring campuran, pindahkan ke botol lain, dan cairan eco enzyme siap digunakan.

Selain Eco Enzyme Dan Tetangga yang Skeptis

Mandana menceritakan bahwa tetangganya masih skeptis soal kegiatan membuat dan memanfaatkan eco enzyme yang ia lakukan. Suara-suara tetangga seperti “kok sampah untuk ngebersihin?,” menjadi keraguan yang susah disangkal sebelum mencoba.

Meski begitu, ada beberapa tetangga dari kalangan ibu-ibu yang mulai menaruh penasaran pada eco enzyme yang ia buat, bahkan ada yang ikut belajar membuatnya. 

“Kalau untuk jual enggak, kalau minta pasti aku kasih” ucap Mandana, saya manggut-manggut, dalam hati sedikit berharap.

Selain membuat eco enzyme sudah 4 bulan ini Mandana mengumpulkan sampah plastik untuk kebutuhan eco brick yang ia buat. Sebuah benda dari hasil daur ulang sampah plastik yang dipadatkan ke dalam botol.

Di akhir obrolan kami di kedai susu itu Mandana memaparkan rasa khawatirnya mengenai eco brick yang sedang ia jalankan, “Gimana aku buat ini tapi nggak jadi konsumtif untuk membeli sesuatu yang nantinya ngehasilin sampah plastik buat eco brick”.

Contoh nyatanya adalah adik kandungnya sendiri, semenjak mulai mengumpulkan sampah plastik, si adik jadi lebih doyan jajan makanan yang menyumbang sampah plastik. Alasannya adalah untuk membuat eco brick.

Membuat eco enzyme sejak Desember 2019 lalu disusul eco brick yang sudah 4 bulan berjalan dan pemahamannya mengenai buruknya  sampah mengubah cara pandang Mandana mengenai sampah.

Baginya membuang sampah pada tempatnya bukanlah solusi, sampah adalah tanggungjawab dari siapa yang menghasilkan sampah tersebut.

Adzan maghrib menjadi alarm berakhirnya pertemuan kami di kedai susu, Mandana memberikan sebotol eco enzyme yang ia bawa kepada saya.

Yak! dia berdusta, dia bilang kalau minta pasti dikasih, padahal saya tidak minta tapi tetap dikasih. “Makasih ya mbak,” jawab saya.

Naufalda Zaina Hanum

Penyunting: Airlangga W.