Alkisah, suatu hari, mullah Nasruddin Hoja datang ke sebuah pesta. Sesampainya di sana, ia justru diabaikan oleh tuan rumah dan tamu undangan lainnya lantaran pakaian lusuhnya.

Nasruddin lantas pulang untuk berganti pakaian, mengenakan mantel bulu elok dan kembali ke pesta. Kini keadaan berubah, ia disambut hangat dan diberi meja makan terbaik.

Namun ada yang unik dalam peristiwa tersebut. Nasruddin berulang kali mencelupkan ujung mantelnya ke dalam kuah sayur sambil bergumam, “Makanlah, Mantel, makanlah!”

Semua orang pun keheranan dan bertanya kenapa ia melakukannya.

Dengan nada jemawa Nasruddin menjawab, “aku sedang menyuapi mantelku, karena tanpanya, aku tidak akan dihargai seperti ini.”

Satire di atas adalah tamparan bagi khalayak yang masih memandang orang hanya dari tampilan fisik semata. Seolah-olah ketika seseorang mengenakan pakaian mewah lagi megah, seketika itu pula kesucian dan kemuliaannya menjadi absah. Padahal belum tentu, itu hanya muslihat impresi belaka.

Diakui atau tidak, perspektif semacam ini juga menyerang paradigma masyarakat terhadap dunia pendidikan. Disorientasi ini kerap melanda pelajar yang sedang berada dalam fase kebimbangan melanjutkan studi dan mari kita sebut itu sebagai Jacket Syndrome.

Inilah yang kerap membuat kita keliru dan silau akan kementerengan warna jaket almamater. Saya tidak tahu persis siapa pencetus pertama istilah tersebut. Saya hanya menemukannya dalam buku “Waspada Jacket Syndrome” karya Robbani Alfan, alumnus UGM yang tampaknya juga mengalami hal serupa lantas mencurahkan kegelisahannya dalam bukunya itu.

Jacket Syndrome adalah kondisi di mana seseorang lebih cenderung mengincar perguruan tinggi tertentu daripada fokus program studi yang ingin didalami sebagai prioritas tujuan melanjutkan studi. Simpelnya, Jacket Syndrome ini ya kayak Star Syndrome almamater begitulah.

Coba deh lemparkan pertanyaan “kuliah di mana” ke para mahasiswa baru (maba) itu, kalau mereka dengan lantang dan dada membusung langsung menyebut nama kampusnya, alih-alih letak geografisnya, maka sudah pasti mereka “terjangkit” Jacket Syndrome.

Pengultusan Almamater

Tidak bisa dipungkiri bahwa keberhasilan menembus kampus impian, memang nano-nano rasanya. Setelah jungkir-balik latihan soal, wira-wiri bimbingan belajar dan ratusan kali menguntal tryout, akhirnya perjuangan ngambis sekian purnama terbayar sudah.

Dan tibalah hari di mana potret diri mengenakan jas almamater kebanggaan memenuhi linimasa platform-platform media sosial dengan tagar-tagar adiluhung yang mendeklarasikan diri sebagai mahasiswa baru dari perguruan tinggi tertentu.

Nama besar kampus memang memiliki daya tarik tersendiri di mata para pelajar. Maka tak perlu heran jika sampai ada yang ikut tes berkali-kali hanya demi mengejar obsesi menyandang predikat mahasiswa kampus ternama.

Merasa senang atas suatu pencapaian tertentu itu sah-sah saja. Namun tetap bahwa segala yang berlebihan itu tidak baik termasuk dalam hal membanggakan nama besar kampus. Dari yang awalnya hanya sekadar membanggakan, lama-lama bisa berubah menjelma jadi mengultuskan almamater.

Sikap ujub semacam ini tidak bisa dipandang remeh karena dapat menumbuhkan benih-benih fanatisme yang berpotensi memadamkan nalar berpikir kritis.

Akibatnya, mahasiswa menjadi apatis dan menafikan realitas kehidupan kampus. Bertaklid buta bahwa integritas kampus adalah harga mati. Kemungkinan terburuknya adalah menjadi “kerbau” indoktrinasi yang harus selalu patuh kepada majikan.

Reputasi kampus bak selembar kertas putih nan kalis. Haram tersentuh noktah secuil zarah pun.

Pamor perguruan tinggi jauh lebih prinsipiel daripada keadilan bagi para korban kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus. Lebih urgen ketimbang persoalan transparansi alokasi dana UKT belaka.

Atau bahkan lebih sakral dari sekadar hak kebebasan berpendapat dan menyampaikan kritik.

Mati-matian membela, sementara kampus sendiri tak jarang bersikap subjektif terhadap mahasiswanya. Misal, ketika ada alumnus atau mahasiswanya yang menjadi pesohor atau public figure, maka ramai-ramailah mengundangnya sebagai pembicara seminar kampus.

Tidak apa-apa jika tidak jadi akademisi atau insan cendekia, asal follower berjibun dan mampu mengangkat popularitas nama kampus, kenapa tidak? Bukankah memang begitulah mahasiswa teladan yang baik itu?

Lalu, ketika ada kebusukan yang dapat menodai marwah kampus, lekas-lekas mengubur kabar dan mengeksekusi para penyintas.

Barang siapa berani menyingkap kasus dosen plagiator, niscaya surat skorsing melayang. Barang siapa berani melaporkan rektor korup, niscaya laju drop out dipercepat. Dan barang siapa berani mendedah skandal basah civitas academica, bersiaplah ucapkan sayonara pada restu wisuda.

Miris.

Perguruan tinggi bukan lagi pada hakikatnya sebagai universitas magistrorum et scholarium melainkan telah menjelma tirani diktatorial kaum elitis kampus di hadapan putra-putrinya sendiri.

Ya, ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Nama besar kampus tidak lantas menjamin keamanan dan kenyamanan mahasiswanya. Reputasi tak lebih dari sekadar ilusi eksistensi belaka.

Salah Jurusan

Terlalu berambisi mengejar kampus idaman bisa berakibat fatal dan berakhir salah jurusan. Akibatnya, potensi minat dan bakat terkubur karena kenaifan diri sendiri.

Fenomena salah jurusan sebenarnya adalah problem klasik yang tak jua punah. Sebuah riset oleh Indonesia Career Center Network pada tahun 2017 menyatakan bahwa sebanyak 87 persen mahasiswa mengaku salah jurusan. 87 persen! Itu artinya, kamu banyak temannya, eh maksudnya, fenomena ini sudah menjadi rahasia umum dalam perkuliahan duniawi.

Salah jurusan dapat berdampak serius terhadap kondisi psikologis mahasiswa. Gairah belajar dan intensitas menjalani studi tidak optimal bahkan minim, mencium titik nadir.

Ketika masih semester awal, semangat IPK 4.0 seorang Maba masih begitu menggebu deras sekencang arus revolusi industri. Pun masih punya sempat waktu untuk haha-hihi dan hangout ke sana-kemari.

Lalu, lambat laun tuntutan kuliah yang semakin ra mbejaji itu perlahan akan menghantam pikiran dan mental secara bertubi-tubi.

Antusiasme kuliah makin curam. Alur hidup monoton. Berangkat-presensi-pulang, berangkat-presensi-pulang. Begitu terus sampai Ya’juj dan Ma’juj muncul. Alih-alih sebagai wadah mengembangkan minat dan bakat, kampus justru menjelma distopia bagi mahasiswa salah jurusan.

Bagai hidup dalam labirin kusut dan tak berujung.

Beruntung bagi mahasiswa yang segera sadar kalau dia salah jurusan dan bisa ikut tes masuk lagi, lah, kalau tidak? Atau bagaimana jika mahasiswa tersebut punya latar belakang ekonomi kurang mampu dan bisa kuliah pun karena dapat beasiswa?

Simalakama jadinya. Mau ikut tes lagi, beasiswa hangus plus dicap tidak tahu terima kasih. Lanjut kuliah, kok rasanya kayak romusha. Sudahlah, fatum brutum amor fati. Mencari distraksi sebagai pelarian.

Ada yang lantas aktif di organisasi, sibuk berwirausaha, ujug-ujug jadi trader dadakan, nongkrong seharian di wifi corner atau malah asyik berburu dara jelita.

Bukan hanya risiko menjadi mayat hidup di kampus, salah jurusan juga menimbulkan perasaan bersalah yang mendalam. Kesempatan studi yang belum tentu semua orang bisa dapatkan, justru disia-siakan begitu saja. Apalagi kalau kamu mahasiswa jalur beasiswa, wah, bisa berlipat ganda beban di pundak.

Eling, guilty mboten sare, Bos!

Sungguh merugi orang yang hanya mengejar gengsi semata tanpa menimbang konsekuensi dan risiko yang akan ditanggungnya. Hanya demi prestise menyandang predikat mahasiswa kampus ternama sampai mengabaikan hakikat belajar yang sesungguhnya.

Fenomena ini selucu seorang laki-laki yang ingin merasa gagah hanya karena menunggangi motor model terbaru.

Hey Bung, bukan kamu yang harus merasa keren karena menaiki motor model kayak apa, tetapi motormu-lah yang harusnya bangga karena dinaiki oleh seorang “kamu”.

Nama besar kampus adalah rayuan paling delusionil dari stereotip dunia pendidikan. Padahal, ah, apalah artinya sebuah nama? Mawar tetaplah mawar.

Bukan begitu, Juliet?

Lindu A.

Penyunting: Farhat Akbar