Suara Warga Negara Ukraina tentang Nestapa Negerinya

Ilustrasi oleh Krysna Yudha Maulana

Percakapan itu terjadi pada Senin (21/3) dini hari. Ketika para serigala sedang keranjingan melolong di tengah belantara hutan; ketika Barcelona asyik ancang-ancang bersiap menggebuk Real Madrid di Santiago Bernabeu; dan ketika selisih lima jam zona waktu antara Ternopil dan Yogyakarta terpangkas melalui pertemuan virtual telekonferensi.

Percakapan yang saya maksud adalah percakapan kami (tim Wartafeno) dengan Yuliia Mykulych (25), seorang warga negara Ukraina perihal situasi terkini yang terjadi di sana.

Obrolan bermula dengan Yuliia yang berkisah mengenai sebab awal ia bisa tertarik mempelajari Bahasa Indonesia.

“Saya memutuskan belajar Bahasa Indonesia karena menurut saya, (Bahasa Indonesia) itu eksotis─sesuatu yang baru dan tidak biasa di Ukraina─dan mungkin juga karena untuk pergi ke Indonesia. Akan tetapi, ketika saya sudah belajar Bahasa Indonesia, saya (justru) jatuh cinta sama sejarah, sastra, dan budaya Indonesia,” ujar Yuliia dalam Bahasa Indonesia yang fasih.

Alasan itulah yang mengantar Yuliia mengambil studi Bahasa dan Sastra Indonesia sejak awal masuk kuliah strata satu hingga kini program doktoral yang tengah ditempuhnya di Fakultas Filologi, Taras Shevchenko National University.

Dari Kyiv ke Kremenets

Operasi militer Rusia yang menyasar kota Kyiv dan beberapa titik lain di Ukraina pada Kamis (24/3) lalu, memaksa Yuliia untuk mengevakuasi diri. Sehari setelahnya, ia bersama suaminya lantas meninggalkan apartemen dan pulang ke rumah orang tuanya di Ukraina Barat. Tepatnya, di kota Kremenets, Oblats (Provinsi) Ternopil.

Ia menjelaskan bahwa situasi di Kremenets dan kota-kota lain di wilayah Ukraina Barat cenderung lebih kondusif dan aman. Kehidupan sosial berjalan seperti biasa. Toko-toko tetap buka dan keterjangkauan kebutuhan bahan pokok masih mencukupi. Hanya saja, dengung sirene darurat kini tiap hari jadi lebih sering terdengar dan kotanya terasa lebih padat lagi sekarang.

Kremenets dan kota-kota lain di wilayah Ukraina Barat menjadi tujuan evakuasi bagi warga Ukraina yang tempat tinggalnya terancam bahkan sudah porak-poranda oleh hunjaman Kremlin.

“Ada banyak asrama guna menampung orang-orang yang dievakuasi dari Ukraina Timur. Banyak juga warga lokal yang membuka pintu rumahnya untuk merangkul sesama. Banyak sekolah juga terima anak-anak dari wilayah yang berbeda untuk belajar. Namun, sekarang situasi nasional sedang sulit sekali. Masih banyak sekolah yang harus libur panjang karena perang masih berlangsung. Bangunan-bangunan sekolah ini lantas banyak didirikan barak-barak pengungsian di dalamnya guna mengakomodasi orang-orang dari Mariupol, Kharkiv, dan kota-kota lainnya yang sudah hancur lebur oleh misil Rusia,” tutur Yuliia.

Selain ke Ukraina Barat, ada juga warga negara Ukraina yang menyebrang ke negara lain─seperti Polandia dan Hungaria─untuk mencari suaka. Baik pemerintah Ukraina maupun pemerintah negara penerima sama-sama membuka tangan lebar untuk menolong. Mulai dari teknis menyebrangi perbatasan sampai penempatan titik evakuasi. Namun, itu hanya berlaku untuk kalangan wanita dan anak-anak. Kaum laki-laki Ukraina tidak diperkenankan meninggalkan negara mengingat situasi nasional sedang genting.

Hal ini karena Ukraina memberlakukan 4 fase kemiliteran. Apabila sudah memasuki fase keempat, semua laki-laki Ukraina (usia 18-60 tahun) harus melaksanakan wajib militer. Namun, situasi saat ini masih berada di fase pertama yang mana hanya tentara dan sukarelawan yang punya pengalaman militer saja yang diperkenankan ikut turun ke medan pertempuran.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba mengatakan bahwa ada lebih dari 20 ribu sukarelawan dari 52 negara yang turut berjuang untuk Ukraina. Antusiasme ini membuat Yuliia merasa takjub dan terenyuh sekaligus.

“Kami tidak pernah punya banyak sukarelawan sebanyak yang kami punya hari ini. Semua orang─termasuk wanita─ingin membela negaranya sendiri. Itu luar biasa, tetapi pastinya ada kualifikasi tertentu untuk bisa bergabung dengan pasukan Ukraina,” jelas perempuan yang kini bekerja sebagai project management office associate di SoftServe, perusahaan teknologi yang berdiri sejak tahun 1993 di Lviv, Ukraina itu.

Nelangsa Donbas dan Krimea

Pasca aneksasi Semenanjung Krimea pada tahun 2014 lalu, perpecahan merembet hingga ke wilayah Donbas. Revolusi Maidan yang berhasil menggulingkan Viktor Yanukovych dari kursi kepresidenan delapan tahun lalu, menjadi momentum bagi kelompok separatis pro-Rusia untuk melancarkan ekspansi wilayah.

Dampaknya, wilayah Donetsk dan Luhansk terbagi menjadi dua kubu: kubu separatis pro-Rusia di sebelah Timur, dan kubu pemerintah Ukraina di sebelah barat. Pertempuran terus terjadi dan belasan ribu nyawa sudah melayang serta lebih dari dua juta orang melarikan diri dari Donbas.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui kemerdekaan Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk pada Senin (21/2) lalu. Proklamasi Donbas oleh kelompok separatis pro-Rusia itu, berimbas serius terhadap kehidupan sosial di sana.

“Bayangkan saja, ketika Anda telah tinggal lama di kampung halaman Anda selama puluhan tahun atau bahkan sejak ratusan tahun sebelumnya─ketika kakek-buyut Anda juga tinggal di rumah dan atap yang sama─lalu, hanya dalam satu momen saja, Anda harus lari pergi meninggalkan kampung halaman─yang menyimpan banyak kenangan hidup─begitu saja. Itu adalah keputusan yang sulit sekali bagi banyak orang,” kata Yuliia dengan logat Slavia Timur yang khas.

Tim Wartafeno ketika wawancara dengan Yuliia Mykulych melalui konferensi video pada Senin (21/3).

Meski sudah banyak yang angkat kaki dari Donbas, tetapi tidak sedikit pula yang terpaksa harus bertahan di sana. Mereka dijejali ketakutan karena bukan tidak mungkin mereka akan segera terpojok dan dipaksa untuk angkat senjata dan bergabung dengan pasukan separatis pro-Rusia. Kalau kamu tahu betapa mengerikannya sindikat kartel Los Zetas dalam merekrut kadernya, pasti bisa membayangkan ketakutan macam apa yang saya maksudkan.

Putin dalam esainya yang bertajuk On the Historical Unity of Russians and Ukrainians, secara tersirat mengakui kemerdekaan Ukraina. Hanya saja, menurut Putin, Ukraina telah mengambil daerah-daerah yang seharusnya menjadi milik Rusia, yakni Donbas dan Krimea.

Pernyataan ini berlainan dengan hasil referendum kemerdekaan Ukraina tahun 1991 yang mana, mayoritas masyarakat Krimea, Donetsk, maupun Luhansk, setuju untuk bergabung dengan Ukraina.

Sumber: Seventeen Moments in Soviet History

Hal inilah yang juga membuat Yuliia muntab dan mengutuk pencaplokan Krimea yang arbitrer serta menganggap bahwa deklarasi kemerdekaan Donbas (Republik Rakyat Donetsk) itu hanya manipulasi antek-antek Rusia saja, bukan murni berasal dari kedaulatan rakyat Donbas.

“Proklamasi kemerdekaan di Donetsk dan Luhansk itu palsu. Anda harus mengerti itu. Itu bukan orang yang (sengaja) pergi untuk pemilu, dan memilih bahwa mereka ingin menjadi negara yang merdeka. ‘Merdeka’ juga secara palsu karena seluruh pemerintahannya sama dengan Rusia,” papar Yuliia.

Semakin tampak betapa Putin dengan entengnya menyepelekan Minsk Agreement. Ditambah, manuver sena Kremlin yang kini mulai meringsek masuk ke kota Kherson juga mengindikasikan pola yang serupa.

Diaspora Uni Soviet dan Senandika Egoisme Putin

Pada kalimat pertama dalam esai Vladimir Putin yang telah disebut sebelumnya, eks agen KGB tersebut secara eksplisit menegaskan bahwasanya bangsa Ukraina dan Rusia merupakan satu kesatuan karena memiliki tilas sejarah yang sama-sama berakar pada kerajaan Kievan Rus, belasan abad silam. Oleh karena itu, Putin merasa bahwa bangsa Ukraina dan Rusia itu seharusnya berada dalam satu payung (negara) yang sama─sebagaimana zaman Uni Soviet dulu.

Menanggapi hal ini, Yuliia menilai bahwa invasi Rusia ke Ukraina itu hanyalah egoisme Putin semata. Tak lebih dari implementasi kebencian terhadap bangsa-bangsa lain. Alasan denazifikasi yang dilontarkan Putin juga hanyalah alasan yang konyol dan tidak masuk akal. Sebab, Presiden Ukraina sendiri, Volodymyr Zelenskyy adalah seorang Yahudi berbahasa Rusia yang berhasil memenangkan pemilihan presiden mengalahkan kandidat petahana non-Yahudi dengan selisih suara yang cukup besar.

“Ya, menurut saya, itu egoisme saja. Dia (Putin) sangat ingin Rusia menjadi imperium (USSR) seperti dulunya, tetapi Uni Soviet itu sama dengan penjajahan dan skenarionya selalu sama: ‘menyelamatkan orang-orang’. Sama seperti yang pernah terjadi di Chechnya, Georgia, Dagestan, dan tempat lainnya,” terang perempuan berambut pirang sebahu itu.

Lepas dari bayang-bayang Rusia adalah cita-cita rakyat Ukraina dalam meniti kedaulatan negerinya. Hal tersebut bisa kita saksikan dari bagaimana Revolusi Oranye pada tahun 2004 terjadi dan memunculkan nama Viktor Yushchenko sebagai wajah presiden anyar Ukraina yang sejalan dengan ideal-ideal tersebut.

Luluh Lantak Mariupol

Nada suara Yuliia perlahan berubah memilu kala mendengar kata “Mariupol”. Kota yang sudah luluh lantak dihajar bala tentara Kremlin. Ia sedikit tertegun dan menjamah ekor mata kanannya. Barangkali hendak menormalkan kadar air mata yang mulai mengembang di balik kacamatanya itu.

“Hari ini, satu teman saya datang ke rumah, mengobrol saja. Dia punya keluarga di Mariupol karena dia memang berasal dari sana. Namun, lama tinggal di Kyiv. Dan sekarang, dia sudah dua minggu tidak mempunyai koneksi dengan keluarganya di sana. Internet tidak jalan, listrik padam, bahkan menelepon pun tidak bisa. Dan dia tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak. Itu benar-benar situasi sulit,” ungkap Yuliia berusaha agar tidak terbata-bata.

Yuliia kembali membetulkan kacamata dan mengusap kelopak matanya. Barangkali hendak memastikan sekali lagi bahwa tidak ada linang yang turun melintasi pipi.

Ia kemudian bercerita tentang pemboman Teater Drama (Donetsk Academic Regional Teathre of Drama) di Mariupol pada Rabu (16/3) lalu. Ia menyeranah Angkatan Udara Rusia yang tega mengebom tempat yang sudah dengan jelas memampang informasi bahwa di dalam gedung tersebut terdapat banyak anak-anak dan kaum wanita yang berlindung di sana.

Situasi sebelum Teater Drama di Mariupol dibom.

Akibat serangan itu, 300 orang tewas. Kepanikan mencekam banyak orang di dalamnya. Para ibu hamil yang berlindung di dalam gedung tersebut─karena rumah sakit bersalin sudah dibom lebih dulu─dan seorang ayah yang harus kehilangan putranya, hanyalah segelintir kemasygulan yang menyelimuti teater yang telah berdiri sejak tahun 1938 itu.

Situasi setelah Teater Drama di Mariupol dibom.

Ketika ada banyak warga yang mencari suaka ke Polandia, Hungaria, dan negara-negara lain, Yuliia dengan tegas berkata bahwa ia tidak akan pindah ke mana pun seandainya kecamuk perang semakin meluas.

“Di sini saya berasal. Ini tanah air saya. Jika pasukan Rusia datang ke rumah saya, saya akan melindungi rumah saya. Saya akan ambil senjata dan saya akan berjuang sendiri karena itu adalah rumah saya. Saya tidak bisa memberikan rumah tempat di mana saya berasal kepada satu orang gila (Putin) yang memutuskan bahwa dia adalah Tuhan!” tandas Yuliia.

Perihal Russophobia

Tidak seperti tragedi Perang Bubat yang melahirkan stereotip negatif mengenai relasi antara orang Jawa dan Sunda, warga Ukraina tidak memiliki hal serupa yang merujuk kepada sentimen anti-Rusia─setidaknya sebelum invasi Rusia pada Februari lalu.

Yuliia mengatakan bahwa orang Ukraina itu tidak anti-Rusia. Masih banyak orang Ukraina yang mengobrol menggunakan Bahasa Rusia. Banyak pula keluarga dari pasangan Rusia-Ukraina lahir. Hubungan bilateral Ukraina-Rusia juga bagus dan para pekerja seni Rusia diperbolehkan mengadakan konser di Ukraina.

“Setelah tahun 2014 pun, banyak orang Ukraina tetap tidak membenci Rusia. Memang, pasti kami lihat ada banyak propaganda, banyak orang ‘gila’, tetapi ada banyak yang menyadari situasi yang sebenarnya dan tidak terkecoh propaganda tersebut. Paman dan sepupu saya tinggal di Rusia─karena sejak zaman Uni Soviet bekerja di sana─dan hubungan kekeluargaan kami baik-baik saja,” papar Yuliia.

Yuliia melanjutkan bahwa stereotip tersebut justru sangat mungkin merebak pasca invasi Rusia yang tengah berlangsung saat ini. Ia mengaku kecewa terhadap orang-orang Rusia yang seharusnya bisa bersuara atas nama kemanusiaan.

“Saya yakin bahwa tidak ada satu pun gadis atau wanita Ukraina yang ingin menikah dengan laki-laki Rusia (sekarang). Setiap orang─laki-laki maupun wanita─akan membenci Rusia pada umumnya─pemerintahannya termasuk orang-orangnya. Karena orang-orang di Rusia, seharusnya bisa menghentikan semua ini. Mereka bisa bersuara dan memprotes tindakan keji pemimpinnya, tetapi mereka tidak melakukannya,” kecam Yuliia.

Kini, Yuliia aktif menyuarakan kabar dan informasi terkini seputar Ukraina melalui akun media sosial pribadinya. Yuliia berpesan agar kita selalu berhati-hati dalam menyaring informasi dan berita aktual. Pandai-pandai memisahkan mana hoaks dan mana fakta.

Di satu sisi, huru-hara di Ukraina membuka mata kita akan bagaimana Dunia (Barat) bersikap. Akan tetapi, ini bukan saja tentang Ukraina semata. Perang─di mana pun itu─tetaplah sebuah degradasi moral dan kemanusiaan. Ia adalah bukti kebusukan geopolitik global.

Mau di Yaman, Libya, Irak, Suriah, Palestina, ataupun Ukraina, perang tetaplah perang. Siapa pun yang menang, tetap warga sipil yang akan sengsara. Dan rakyat adalah manusia dengan nyawa, keluarga, dan cinta. Bukan statistik angka indikator kuasa.

Kini, 33 hari sudah warga Ukraina dirundung duka. Mengantongi trauma dan nestapa ke manapun diri mereka melangkah. Serta berusaha agar tetap tertawa dan ceria meski rudal bisa kapan saja mampir ke langit-langit rumah mereka.

Penulis: Lindu Ariansyah

Penyunting: Fais H.

Baca juga: Ponpes Al-Fatah: Tempat Waria Mencari Suaka, Menilik Potensi Kemukus di Desa Margoyoso, dan liputan menarik lainnya di rubrik Liputan.

Lindu Ariansyah

Ekspatriat Vrindavan.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.