Taufik Ismail seorang sastrawan Indonesia dengan gelar Datuk Panji Alam Khalifatullah kembali menulis karya dengan judul Kami Muak dan Bosan. Karya puisi yang mengambarkan kondisi rakyat Indonesia yang sedang muak dan bosan terhadap tingkah laku pemimpin di Indonesia. Kasus korupsi yang merajalela di rumah rakyat, di jajaran kementrian dan seabrek permasalahan demokrasi Indonesia kian mempersuram harapan rakyat.

Taufik Ismail mengambarkan pemimpin Indonesia masa lalu dengan jujur dan ikhlas dalam memperjuangkan kemerdekaan rakyat, dengan kesederhanaan, kesantunan, dan kesetiakawanan, serta berlandaskan keimanan. Tapi kini pemimpin negeri ini menjadikan Indonesia sebagai lumbung harta untuk keluarga mereka. Mereka mengaku berdemokrasi padahal mereka tak tahu mengenai demokrasi. Mereka mengatasnamakan rakyat, tapi berpikir bukan untuk rakyat.

Penegakan hukum layaknya mata pisau yang tumpul di atas dan tajam di bawah, tak ada keadilan untuk rakyat. Sindiran untuk penegak hukumpun juga dilemparkan Tauifk Ismail, “Di Republik Rakyat Cina, korupsi dipotong kepala, di Indonesia, korupsi dipotong masa tahanan”. Rakyat kini sedang menanti, pembangunan opini tentang Indonesia yang lebih baik, bukan lagi terkait dengan kasus korupsi atau obral janji untuk menguasai ibu pertiwi. Rakyat sedang menunggu, menunggu wakil rakyat yang memahami akan makna pancasila buka pancaharta. [Nanang]

 

 

Kami Muak dan Bosan

Karya Taufik Ismail

 

Dahulu di abad-abad yang silam

Negeri ini pendulunya begitu ras serasi dalam kedamaian

Alamnya indah,gunung dan sungainya rukun berdampingan,

pemimpinnya jujur dan ikhlas memperjuangkan kemerdekaan

Ciri utama yang tampak adalah kesederhanaan

Hubungan kemanusiaanya adalah kesantunan

Dan kesetiakawanan

Semuanya ini fondasinya adalah

Keimanan

 

Tapi,

Kini negeri ini berubah jadi negeri copet, maling dan rampok,

Bandit, makelar, pemeras, pencoleng, dan penipu

Negeri penyogok dan koruptor,

Negeri yang banyak omong,

Penuh fitnah kotor

Begitu banyak pembohong

Tanpa malu mengaku berdemokrasi

Padahal dibenak mereka mutlak dominasi uang dan materi

Tukang dusta, jago intrik dan ingkar janji

 

Kini

Mobil, tanah, deposito, dinasti, relasi dan kepangkatan,

Politik ideologi dan kekuasaan disembah sebagai Tuhan

Ketika dominasi materi menggantikan tuhan

 

Kini

Negeri kita

penuh dengan wong edan, gendeng, dan sinting

Negeri padat, jelma, gelo, garelo, kurang ilo, manusia gila

kronis, motologis, secara klinis nyaris sempurna, infausta

 

Jika penjahat-penjahat ini

Dibawa didepan meja pengadilan

Apa betul mereka akan mendapat sebenar-benar hukuman

Atau sandiwara tipu-tipuan terus-terus diulang dimainkan

Divonis juga tapi diringan-ringankan

Bahkan berpuluh-puluh dibebaskan

Lantas yang berhasil mengelak dari pengadilan

Lari keluar negeri dibiarkan

Dan semuanya itu tergantung pada besar kecilnya uang sogokan

 

Di Republik Rakyat Cina,

Koruptor

Dipotong kepala

Di kerajaan arab saudi,

Koruptor

Dipotong tangan

Di Indonesia,

Koruptor

Dipotong masa tahanan

 

Kemudian berhanyutanlah nilai-nilai luhur luar biasa tingginya

Nilai Keimanan, kejujuran, rasa malu, kerja keras, tenggang rasa, pengorbanan,

Tanggung jawab, ketertiban, pengendalian diri,

Remuk berkeping-keping

Akhlak bangsa remuk berkeping-keping

Dari barat sampai ke timur

Berjajar dusta-dusta itulah kini Indonesia

Sogok Menyogok menjadi satu,

Itulah tanah air kita Indonesia

 

Kami muak dan bosan

Muak dan bosan

Kami

Sudah lama

Kehilangan kepercayaan