tekno60 copy

Makrab terkendala dana

Dana khusus malam keakraban (makrab) bagi maba tidak dianggarkan pihak universitas, melainkan diserahkan ke fakultas. Tahun lalu dana makrab diperoleh dari Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN), namun kini dana tersebut tidak ada lagi. Sehingga makrab hanya dilakukan bila fakultas mempunyai alokasi dana, atau tergantung kebijakan masing–masing fakultas. Misal Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) serta Fakultas Ilmu Sosial (FIS) makrab ganti dengan siang kekaraban (sikrab). “Bulan Juni pak WD 3 menyampaikan tidak ada makrab, karena memang dari pihak universitas itu keputusannya tidak ada makrab dan keputusan untuk diadakan makrab atau tidak diserahkan masing-masing pihak fakultas,” ujar Bani Asroffudin selaku Ketua BEM FT.

Sementara itu di teknik UNY, dana diambil dari pengembangan softskill mahasiswa hasil lobi BEM dengan Budi Tri Siswanto selaku wakil dekan 3, agar makrab tetap bisa jalan. Perlu diketahui dana awal untuk softskill telah dialokasikan 150 ribu rupiah. Agenda itu sudah mendapat ijin dekanat dan BEM bertanggungjawab untuk mengkoordinasi himpunan jurusan (hima-red). “Kalau tahun ini tidak ada makrab pasti mahasiswa banyak yang kecewa minimal kita ada walaupun sikrab. Dari ngeloby Pak WD 3 dapet dana dari pengembangan softskill leadership yang diadakan setiap angkatan kemudian saya melobi, gimana kalau dana ini untuk kita pak” ujar Bani Asrofudin.

Menurut Bani Asrofudin dana makrab tersisa 50 ribu rupiah per mahasiswa. Sementara itu, pihak hima tentu keberatan akibat dana yang terlalu kecil, padahal persiapan sudah dilakukan jauh hari. Bahkan tempat, kaos dan transportasi sudah membuat kesepakatan. Atas dasar itulah dilakukan lobi lanjutan ke bagian keuangan sehingga ada tambahan 40 ribu, jadi permahasiswa 90 ribu. “Ketika teman-teman hima mengajukan proposal ternyata dana tersebut sudah dipake dua kali untuk kreativitas dan leadership bulan Juli dan acara tersebut juga hanya ada sedikit yang datang jadi dana tinggal 50 ribu,” ujar Bani Asrofudin.

Awalnya hima sudah mempersiapkan segala kebutuhan makrab dengan estimasi 150 ribu permahasiswa, akhirnya mencari solusi untuk menutupi kekurangan. Raditya Nugroho selaku ketua DPM FT menyarankan penyederhanaan makrab karena tidak mungkin jika mengambil dari maba, yang saat ospek mengeluarkan dana lumayan besar untuk penugasan. Sedangkan menurut Bani Asrofudin, bagi yang belum terlanjur pesan tempat agar konsep makrab disesuaikan sesuai budget sebesar 90 ribu.

Perubahan mendasar dilakukan jurusan pendidikan teknik boga dan busana (PTBB) dengan mengadakan sikrab di kampus. Lalu iuran panitia seperti di jurusan pendidikan teknik sipil dan perencanaan (PTSP) dan Pendidikan Teknik Mesin (PTM). “Dari awal juli itu pihak BEM bertanya apakah benar dana makrab fix 150 ribu per anak, tapi setelah ditanyakan, ternyata dananya dipotong menjadi 50 ribu per anak akhirnya nego menjadi 90 ribu per anak,” ujar Sandy Gymnastiar selaku ketua hima mesin.

“Walaupun 90 ribu untuk menutupi kekurangan dana para pengurus melakukan iuran dana. Mungkin KM lain ada simpanan dana, kalau di Mesin sendiri tidak ada sama sekali karena sistemnya semua dana ketika ada acara, total disana sehingga tidak ada dana sisa,” Sandy Gymnastiar menambahkan.

Sementara itu, panitia hima PTSP menuturkan, untuk menutupi kekurangan dana dengan iuran 50 ribu. “Kalau ada panitia ditanya kenapa iurannya 50 ribu jadi begini kaos itu kan sekitar 30 ribu, makan panitia untuk dua hari 20 ribu, sebenarnya kalau dana turun 150 ribu panitia cukup hanya membayar kaos 25 ribu,” ungkap Zaky Mubarok Izzudin Ketua hima PTSP. Zaky Mubarok Izzudin juga mengungkapkan pihak universitas sebenarnya sudah tidak menyediakan dana untuk makrab melainkan dana sikrab. “Penarikan dana untuk panitia jika mendesak menurut saya tidak apa-apa, yang penting mahasiswa baru nggak ditarik dana,” ujar Adam Bagus panitia makrab hima PTSP.

Lalu, Hasna Nur Maulani maba PTBB mengaku tidak mengetahui urusan perihal pemotongan dana makrab, namun tahu kalau jatahnya 90 ribu. Lalu, Yuda Adidana maba PTSP mengungkapkan sempat dimintai tanda tangan pencairan dana makrab. “Kemarin sempat dimintai tanda tangan untuk pencairan dana makrab sebesar 90.000.” ujarnya.

Jurusan pendidikan teknik elektro sendiri sudah tidak ada makrab sejak tahun lalu sebagai gantinya adalah wisuda osilsi sekaligus Kegiatan Program Pengabdian Masyarakat (PPM). “Makrab ditiadakan dari elektro karena bukan hanya jurusan kita tapi UNY juga memandangnya dengan kesan negatif, sehingga konsep dan namanya diganti menjadi program pengabdian masyarakat sekaligus wisuda osilasi,” kata Tomy Candra Hermawan ketua hima elektro.

Kemudian untuk eksistensi makrab dari jurusan PTSP dan PTM sendiri tidak setuju jika makrab dihilangkan. “Tidak setuju sekali yang namanya makrab itu dihilangkan. Malam keakrabaan kalau di mesin disebut Malam Gemilang Teknik atau magitek. Kalau nggak ada pengenalan kurang solid dapatnya solidaritas itu ya dari bersosialisasi, dalam magitek juga datang para alumni yang banyak memberikan motivasi-motivasi selain itu ada dari segi kemandirian maba juga akan menjadi bed,” ujar Sandy Gymnastiar. Senada dengan Sandy Gymnastiar, Zaky Mubarok Izzudin menuturkan makrab juga memiliki fungsi memperjelas kembali materi ketekniksipilan.

Raditya Nugroho mengatakan tahun ini makrab akan dievaluasi dari sudut pandang birokrasi dan mahasiswa. Semua terjadi akibat birokrasi takut akan adanya penyelundupan dan perpeloncoan dalam makrab. Selama makrab tidak melanggar kode etik dan pelaksanaanya positif makrab masih akan diselenggarakan. Lalu, Bani Asroffudin belum bisa memastikan terkait ada atau tidaknya makrab tahun depan, mengingat akan terjadi pergantian di jajaran birokrasi UNY. “Harapannya makrab bukan hanya tujuan utama dengan keakrabaan tapi dengan tujuan yang lebih tinggi, kalau sudah kumpul bareng dan dikasih materi semoga materinya dapat dan keakraban juga dapat. Apalagi bagi yang mau ikut BEM dan hima diusahakan ada karena softskill itu penting, kalau hanya kuliah saja tidak akan mendapatkan softskill,” ujarnya.

Zaky Mubarok Izzudin berharap semoga makrab tidak ada perpeloncoan dan fakultas merubah kebijakan anggarannya. “Tidak usah 150 ribu lah paling banyak 120 ribu saja kita sudah sangat berterimakasih, momen makrab sangat jarang didapatkan. Mengumpulkan satu angkatan dalam satu acara itu sangat jarang maka sebaiknya dimaksimalkan. Agenda makrab dibuat sebaik dan semenarik mungkin agar birokat yang datang menilai positif,” ujarnya. Sementara itu, Sandy Gymnastiar mengharapkan tahun depan informasi terkait dana diisosialisasikan segera agar dapat mencari tempat sesuai dana yang diberikan. [ Diah, Ida]