IMG copy

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kurikulum merupakan seperangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Ibaratnya kurikulum adalah jantung sekaligus urat nadi dunia pendidikan. Kurikulum memberikan runtutan dan arahan mengenai output akhir dari bahan belajar-mengajar. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) menargetkan untuk jangka 4-5 tahun kurikulum di Perguruan Tinggi haruslah ditinjau kembali. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) baru saja menerapkan kurikulum baru, dalam hal ini kurikulum 2014 dibuat untuk menggantikan kurikulum 2009. UNY mulai meninjau kembali kurikulum baru yang mulai diterapkan tahun ajaran 2014 hingga lima tahun mendatang. Kurikulum yang baru diharapkan mampu meng-upgrade dan menggantikan kurikulum yang lama yakni kurikulum 2009.

Kurikulum baru dibuat dengan penyesuaian terhadap kebijakan terkait kualifikasi lulusan Perguruan Tinggi. “Iya benar akan adanya kurikulum baru mengacup ada Surat Keputusan Presiden tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), hal ini untuk membuat penyesuaian output lulusan dengan KKNI. Outputnya yakni lulusan Strata-1 sasarannya menjadi guru, instruktur, tenaga kependidikan atau staf kepala laboratorium, sedangkan lulusan Diploma-3 menjadi teknisi yang andal di Industri,” ujar Soenaryo Soenarto selaku Wakil Dekan I FT UNY bidang akademik. “Dengan kurikulum baru ini diharapkan lulusannya memiliki kompetensi dengan standar yang sama, jadi diakui secara standar dalam ruang lingkup regional maupun global,” tambahnya. Sedangkan landasan dasar yang turut mendasari terjadinya perubahan kurikulum tahun ini adalah UU Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan, UU Nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tingggi, UU Guru dan Dosen, Perpres Nomor 8 tahun 2012 tentang KKNI, Permendikbud Nomor 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, Permendikbud nomor 50 tahun 2014 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.

Perbedaan mencolok antara kurikulum lama dengan yang baru ialah pada penerapan KKN/PPL.Esensidari KKN/PPL itu sendiri adalah untuk pengabdian diri sebagai mahasiswa dimasyarakat sekaligus pengaplikasian hasil belajar saat kuliah dilapangan/yang sebenarnya. Merunut pada esensi tersebut, Moch. Bruri Triyono selaku Dekan FT UNY menuturkan bahwa KKN/PPL pada kurikulum baru dilaksanakan pada semester 7 dan memakan waktu selama 6 bulan, dengan kata lain hanya diisi mata kuliah lapangan. Sebagai tambahan, PPL tetap dilaksanakan mahasiswa di sekolah-sekolah yang telah ditunjuk pihak UNY. Perbedaan yang lainnya yakni adanya tiga magang. Magang pertama terkait manajemen pendidikan, magang kedua terkait microteaching yang dilakukan langsung di lapangan, lalu magang terakhir ialah PPL. Perlu diketauhui pula, masing-masing magang bernilai 3 sks. Kemudian, judul skripsi yang biasanya mahasiswa ajukan di semester 7, pada kurikulum baru pengajuan dapat dilakukan pada semester 5. Beliau juga menambahkan bahwa demi menunjang keberhasilan kurikulum baru, strategi yang tepat diberlakukan adalah dengan bertahap merevitalisasi tenaga pendidik dan peralatan, dengan cara training baik didalam maupun diluar.

Berbeda halnya dengan pihak birokrasi yang mendukung penerapan kurikulum baru, Novan Muslimin, mahasiswa jurusan teknik mesin justru berpendapat sebaliknya.“Kurikulum yang terbaru sayasudah tahu, tetapi hanya yang di SMK. Kalau di Perguruan Tinggi belum tahu. Untuk kurikulum terbaru kita lihat saja isinya apakah dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran di Indonesia. Namun dengan adanya isu PPL 6 bulan bagi mahasiswa 2014, saya rasa bukankah nanti malah bentrok dengan mata kuliah lain? Karena itu mohondikaji ulang”.

Kegiatan perkuliahan akan semakin padat dan mahasiswa dituntut untuk aktif dan fokus di setiap semester, kesempatan mengulang matakuliah di semester berikutnya semakin sempit karena masa studi hanya dibatasi 3-4 tahun untuk D3 dan 5 tahun untuk S1. Perubahan kurikulum juga harus diikuti perubahan mindset dan perilaku civitas akademika dalam kegiatan belajar mengajar sesuai tunutan learning outcome guna menghasilkan lulusan sesuai profil yang diharapakan. Noor Fitrihana selaku Ketua Jurusan Pendidikan Teknik Boga dan Busana (PTBB) berharap bahwa pemberlakukan kurikulum 2014 dapat dibarengi pula dengan peningkatan SDM, sarana dan prasarana, serta pembiayaan. Lalu sistem pengelolaan juga diharapkan dapat bekerja lebih efektif dan efisien dari sebelumnya. “Kurikulum dapat terlaksana dengan baik jika terpenuhinya standar input, proses dan output yang diharapkan sesuai tuntutan kurikulum,” tambahnya.

Pemberlakuan kurikulum baru juga dirasa oleh pihak Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan (PTSP) jatuh pada waktu yang tepat. “Waktunya memang pas. Langkah pengembangan kurikulum tidak bisa sepenuhnya secara teoritik. Perlu mengetahui apa kebutuhan lapangan dan apa yang kita siapkan kepada mahasiswa. Ketika micro teaching, kebanyakan mahasiswa mengambil autocad, jarang yang praktik bengkel. Kemampuan praktik masih kurang sehingga sekarang praktik ditambah 1 sks,” ujar Amat Jaedun selaku Kepala Program Studi Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan S-1. Beliau menambahkan bahwa mekanisme di Jurusan PTSP didahului dengan learning outcome, profil lulusannya mau seperti apa. Mata kuliah harus mengacu pada keprofesionalan lulusan. Lalu ada point treasure study kegunaan untuk mencari masukan dari lembaga kerja, alumni dan pengguna alumni tentang keunggulan kelemahan kurikulum yang lalu. Kemudian ada pula masukan kompetesi apa yang belum ada, menilai relevansi kurikulum dengan kebutuhan pekerjaan. Mestinya Perguruan Tinggi mempunyai tanggungjawab untuk memonitor apakah lulusannya telah bekerja dengan baik atau tidak, jangan hanya mementingkan lahirnya lulusan cumlaude yang banyak tapi tidak dapat bekerja. Moh. Khairudin selaku Ketua Program Studi Pendidikan Teknik Elektro menuturkan bahwa kurikulum 2014 memang didesain untuk mahasiswa baru, bahwa kurikulum ini berbasis KKNI. Sedangkan KKNI sendiri merupakan hal yang baru di Indonesia, akan tetapi negara-negara lain seperti Malaysia, Australia, dan Amerika sudah lama mengenalnya. “Harapannya dengan kurikulum yang baru ini, Perguruan Tinggi mampu mencetak lulusan yang terstandar dengan negara yang lainnya,” tambahnya. [Akbar, Intan]