Sudah lebih dari tiga puluh menit aku duduk di kafe ini. Menundukkan kepala,  menatap sebuah cangkir putih berisi kopi hitam yang sudah mulai dingin yang isinya hanya cukup untuk sekali teguk lagi. Ini sudah cangkir keduaku. Berhadapan dengan seseorang yang dari tadi tak kunjung memulai percakapan. Selain kata ‘hai’ dan kalimat ‘bisakah kita minum kopi’ yang dia ucapkan di awal pertemuan, dia tak mengatakan apapun lagi. Dia hanya diam dan diam, sambil sesekali memandang keluar jendela disertai helaan nafas yang berat.

Setelah cukup lama, aku mulai bosan. Perutku pun mulai merasa kembung. Ku rasa aku telah menyia-nyiakan waktuku bersamanya. Tanpa bahasan apapun, aku mulai bangkit dari kursi. Berjalan menuju pintu keluar yang terletak beberapa meter di belakangku. Aku meragu, tapi sama sekali tak ingin dia menghentikan langkah kakiku.

Lonceng kecil yang di gantung tepat di atas pintu kafe ini bergemerincing ketika tangan pucatku menarik gagang pintunya. Seketika itu pula hawa dingin dari hujan salju menyambarku. Dingin. Sebagian tubuhku jadi menggigil.

Aku akan pulang. Pikirku saat berjalan keluar.

Dari trotoar terlihat dia masih memandang keluar jendela. Tatapannya kosong. Wajahnya kusut. Dia nampak seperti memiliki jutaan masalah yang tak terselesaikan. Namun dengan mengajakku minum kopi lantas mendiamkanku dalam waktu yang cukup lama, apa itu akan membantunya? Ayolah, yang benar saja.

Aku tersenyum hambar ketika menyadarinya; Itulah dia. Dia masih sama. Masih tak dapat dimengerti.

***