Oleh Willy Andryan Permana

Pernahkah kau merasa jengkel dan sangat muak terhadap berita yang ada di media, baik di layar kaca televisi maupun di portal online yang kini mulai menggeser keberadaan media cetak. Apalagi berita yang ada adalah tentang itu-itu saja, seperti berita korupsi para wakil kita di badan legislatif misalnya. Setiap membaca atau mendengar nama anggota dewan di media, kita bahkan sudah bisa menebak, ‘alah, paling juga korupsi, tentang aksi suap-suapan anggota dewan’. Terlalu mainstream, gampang ditebak seperti alur cerita FTV-FTV di stasiun televisi kesayangan kita itu. Coba sekali-kali beritanya tentang hal-hal yang tidak biasa, seperti anggota dewan yang menelan palu sidang ketika rapat paripurna, atau tentang wakil rakyat berubah menjadi power ranger untuk memusnahkan monster-monster berdasi yang hendak menghancurkan peradaban di muka bumi. Saya yakin itu akan lebih menarik. Makanya saya cukup mengapresiasi anggota dewan yang tertangkap tangah menonton video porno ketika sidang, setidaknya dia telah memberikan warna baru di belantika pemberitaan anggota dewan di berbagai media. Apa lagi anggota dewan sendiri yang memainkan peran di video tersebut. Semakin bangga lah saya, sebab wakil-wakil kita ternyata juga punya bakat terpendam menjadi bintang film.

Sayangnya berita-berita sejenis itu hanya sedikit diangkat oleh media, topik utama yang selalu diangkat melulu soal korupsi dan korupsi. Saya heran sendiri, kok topik itu masih saja laku. Seperti yang sedang ramai-ramai dibicarakan oleh hampir semua media, apa lagi kalau bukan kasus suap yang menjerat 41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang. Yang saya sayangkan bukanlah korupsi masalnya, tapi lemahnya jiwa korsa wakil rakyat kita. Tega sekali mereka menyisakan empat temannya, tidak mengajaknya main ‘suap-suapan’. Atau mungkin empat orang ini memang sudah dewasa, sehingga sudah bisa makan sendiri, tidak disuapi lagi seperti bayi. Atau mereka memang cerdik, sehingga lolos dari penyidik KPK. Atau jangan-jangan KPK sengaja menyisakan empat orang ini seperti Hitler menyisakan orang-orang Yahudi ketika melakukan operasi Holokaus. Jika alasan terakhir ini yang benar, saya menanti pernyataan ‘Bisa saja kami menangkap semua anggota dewan di negeri ini, tapi kami sisakan sedikit saja, agar rakyat tahu mengapa mereka layak dimusnahkan’.

Tapi sudahlah, seperti yang saya tulis di atas, mainstream jika kita ikut-ikutan membahas soal itu. Karena korupsi sendiri itu adalah sebuah kebiasaan. Sama biasanya seperti merokok di lingkungan kampus, sama biasanya seperti mem-bully teman seperkawanan, sama biasanya misuh ketika kesal, dan sama biasanya menikung pacar teman sendiri. Salah sih, tapi dianggap wajar untuk dilakukan. Bahkan kalau tidak dilakukan, rasanya ada yang kurang gitu, seperti aku yang kurang karena ditinggal kamu.

Mari ambil cermin, lalu hadapkan ke wajah kita, apa yang dilakukan oleh wakil kita di parlemen itu adalah apa yang kita lakukan juga setiap hari. Bedanya mereka korupsi berskala besar, sedangkan korupsi yang kita lakukan adalah korupsi skala kecil yang kerap dianggap wajar. Padahal korupsi ya korupsi saja. Korupsi milyaran yang dilakukan oleh wakil-wakil kita itu tidak berbeda dengan korupsi kita menggelapkan uang organisasi, tidak berbeda dengan kita yang memalsukan kuitansi di setiap laporan pertanggungjawaban. Juga tidak berbeda dengan ketika kita berbohong pada orang tua dalam meminta uang untuk beli buku, namun sebenarnya untuk mentraktir gebetan di kafe-kafe yang Instagramable. Jadi, tidak perlu kita mengutuk anggota dewan yang korupsi itu terlalu keras, karena mereka memang hanya menjalankan tugas sebaik-baiknya menjadi wakil kita, wakil koruptor.

Saya jadi berpikir, bahwa sebenarnya bukan para koruptor itu musuh bersama kita, tapi KPK lah musuh kita. KPK yang sudah sewenang-wenang membasmi budaya yang sudah susah payah kita pupuk dan pelihara sejak dini. Merekalah musuh bersama kita. Hanya saja kita sering munafik dengan berteriak “ganyang koruptor”, “hukuman mati untuk koruptor”, padahal kita hanya iri pada wakil-wakil kita itu. Bagaimana tidak iri, orang-orang yang hanya jadi wakil kita saja bisa dapat kesempatan korupsi sebesar itu, kita yang diwakili hanya bisa menilep duit paling banyak ratusan ribu. Jadi ingat kata-kata Bang Napi, ‘Kejahatan timbul tidak hanya karena ada niat dari pelakunya saja, melainkan juga adanya kesempatan’.

Jadi jika ada media yang mengabarkan kabar korupsi dan kasus penyuapan, ya biasa saja, karena memang korupsi itu biasa. Korupsi itu kebiasaan kita setiap hari. Kalau kata Cak Nun, terungkapnya kasus itu mungkin hanyalah produksi dari konflik dan persaingan yang mana masyarakat tidak mengetahui hal yang sebenarnya. Ditambah wawasan kita terlalu sempit dan tak punya waktu untuk mengkaji hal tersebut. Lagi-lagi saya tergoda untuk mencatut perkataan orang-orang terkenal, siapa tahu saya bisa ikut terkenal. Seperti kata Sujiwo Tejo, bahwa dosa terbesar para koruptor bukanlah karena mereka sudah merugikan negara dan menyengsarakan rakyat, melainkan karena mereka telah membuat kita merasa lebih suci dari mereka, bahkan merasa mahluk paling suci di muka bumi.