Sumber Gambar : sumber.com
Oleh : Willy Andryan P

“Pemimpin akan lebih berjasa setelah zaman dia berkuasa” kata itu mungkin tepat digunakan melihat situasi saat ini. Pemikiran-pemikiran pemimpin yang bagus dan visioner pada zaman dahulu terkadang memang tidaklah cocok direalisasikan pada saat dia berkuasa. Banyak masyarakat belum siap menerima keputusan para pemimpin sewaktu berkuasa. Ditambah dengan politik propaganda yang dilakukan oposisi untuk merebut kekuasaan, kita semakin buta akan mana yang benar dan mana yang salah.

Kita mulai dari Soekarno, bapak proklamator yang berkuasa selama 22 tahun ini pun tak luput dari kritikan masyarakat ketika dia berkuasa. Gerakan mahasiswa banyak melakukan aksi untuk mengkritisi kebijakan Soekarno. Pemerintahan Soekarno dianggap membiarkan kondisi ekonomi Indonesia semakin terpuruk. Masyarakat merasa pemerintahan Soekarno gagal dalam pembangunan dan kesejahteraan rakyat, sedangkan para pemimpinnya hidup dalam kemewahan, dan sibuk kawin dengan wanita cantik.

Baca Juga : Tidak Lain Untuk Cari Kekuasaan

52 tahun telah berlalu pemerintahan Soekarno. Banyak masyarakat yang memuji bapak proklamator tersebut. Bahkan anaknya Megawati Soekarno Putri pun membawa nama besar Soekarno dalam setiap orasi politiknya. Sekarang banyak orang mengagumi beliau baik sebagai pahlawan yang membawa Indonesia merdeka, maupun sebagai presiden pertama republik Indonesia.

Beralih ke Soeharto. Presiden Indonesia ke dua ini tidak melakukan perubahaan yang berarti bagi kesejahteraan Indonesia. Masa orde baru tercatat sebagai salah satu masa kelam pemerintahan Indonesia. Pasalnya sistem pemerintahan Soeharto yang otoriter, dan KKN merajalela dimana-mana malah membuat rakyat semakin sensara. Kasus pelanggaran HAM dan krisis moneter menjadi hal mendominasi dalam cacatan dosa Soeharto.

Namun hari ini banyak yang merindukan sosok Soeharto. Mereka rindu dengan bahan pokok yang murah dan BBM yang terjangkau. Bahkan sampai ada tulisan yang cukup viral, atau di viral-viralkan yaitu “pie penak jamanku toh?”  dengan gambar wajah mudah senyum Soeharto.

Selanjutnya presiden ke empat republik Indonesia. KH. Abdurrahman Wahid, atau yang dikenal dengan sapaan Gus Dur. Berbeda dengan kedua tokoh yang diatas. Gus Dur menjabat lebih singkat yaitu tidak lebih dari 3 tahun. Namun keputusan-keputusannya dianggap kontroversial karena selalu menguntungkan kaum minoritas.

Gus Dur dilengserkan dengan rapat istimewa MPR tanpa mengundang presidennya. Banyak perdebatan masalah sejarah tersebut. Ada yang berpendapat Gus Dur dilengserkan karena melanggar konstitusi. Namun ada yang berpendapat bahwa Gus Dur merupakan korban politik, oleh mereka yang haus akan kekuasaan.

Gus Dur yang sangat menghormati kaum minoritas yang ada di Indonesia tercerminkan dengan keputusan-keputusannya ketika menjabat. Seperti rakyat keturunan Tionghoa  diperbolehkan merayakan Imlek bahkan menjadikan imlek sebagai hari libur nasional, dan juga memerintahkan Banser untuk menjaga gereja ketika umat Kristen beribadah.

Baca Juga : Mengapa Harus Ada Islam Toleran, Islam Moderat, dan Islam-Islam Lainnya ?

Pada zaman sekarang sosok Gus Dur itulah yang dirindukan oleh banyak orang. Bapak pluralisme ini dibutuhkan bagi Indonesia saat ini. Saat ini Indonesia semakin kurang rasa toleransinya. Para tokoh yang ada di pemerintahan bukannya meredamkan dan mengkampanyekan toleransi malah mereka yang menungganginya untuk kepentingan politik.

Saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia krisis tokoh seperti Gus Dur. Gus Dur yang selalu menyikapi setiap permasalahan dengan santai dan guyon, dengan kata-kata yang khas, “gitu aja kok repot”. Gus Dur selalu menanamkan rasa damai, dan bahagia dengan tertawa kepada warganya.

Saat ini Indonesia dijamuri dengan perasaan marah dan mudah tersinggung. Perbedaan yang seharusnya dilihat sebagai warna justru semakin membuat perpecahan. Rakyat Indonesia sekarang seperti binatang yang buas dan suka marah-marah tak jelas karena perbedaan, baik perbedaan ideologi, perbedaan agama, sampai ke hal remeh temeh seperti perbedaan antara cebong dan kampret.

Menjelang pemilu 2019 masyarakat Indonesia semakin hilang rasa kasih sayang dan perdamaiannya. Semua hal yang berbeda dianggap bukan golongan kami. Kebebasan berpendapat malah menjadi boomerang tersendiri, orang semakin suka mencaci, dan mencela di sosial media, malah hal tersebut telah menjadi profesi dengan nama pekerjaan haters.

Baca Juga : Kenapa Rakyat Mau Jadi Wakil Rakyat ?

Agama malah menjadi senjata utama yang dibawa ke panggung kotor politik. Semakin hari semakin banyak yang mengaku ulama, namun tetap tidak membawa kedamaian bagi kaum muslim yang sebagai mayoritas. Undang-undang penistaan agama merupakan undang-undang karet yang selalu dipakai untuk menjatuhkan sesesorang.

Tokoh agama yang seharusnya membawa perdamaian malah menjadi orang pertama yang mengkampanyekan persekusi, dan halal darahnya kepada umat muslim yang ditujukan kepada seorang yang dianggap penista agama. Padahal menurut kata Gus Dur “Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah maha segalanya, bela lah mereka yang diperlakukan tidak adil”. Maka dari itu kaum muslim yang mayoritas seharusnya memberikan rasa damai kepada minoritas yang ada di Indonesia bukan sebaliknya.

Jujur, saya sendiri ingin sekali bertemu denganmu Gus Dur, saya ingin melihat reaksimu tentang bangsa Indonesia saat ini. Saya rasa kamu pasti akan tertawa melihat mereka yang sikut-sikutan, tonjok-tonjokan, dan melakukan segala hal untuk mendapatkan jabatan. Padahal dirimu sendri yang bilang “tidak ada jabatan di dunia yang perlu dipertahankan mati-matian”.

Saat ini rakyat Indonesia krisis tertawa, dan lebih arogan dalam menghadapi masalah. Perlu saat ini sosokmu dan leluconmu sebagai penenang rakyat Indonesia yang marah. Saya saat ini ingin sekali berbicara kepadamu tentang resah, dan pusingnya saya memikirkan Indonesia saat ini, walau saya yakin kamu akan menjawab “kalau pusing ya jangan dipikirin, gitu aja kok repot”.

Mungkin tulisan ini hanyalah semacam curhatan tanpa landasan yang jelas, karena resahnya saya terhadap isu-isu yang ada di Indonesia saat ini, dan rindu akan sosok Gus Dur. Terakhir dari saya, jika ada yang salah, dan janggal atau mungkin tersinggung karena tulisan saya tersebut, jangan salahkan saya sebagai penulis, salahkan Pemimpin Redaksi, atau Pimpinan Proyek Wartafeno yaitu Gus Teguh. Karena mereka lah yang meloloskan tulisan ini untuk terbit. Walau ada yang menganggap salah tapi jangan sampai ada yang menghalalkan darah, dan persekusi, ingat kita bukanlah golongan mereka. Hiya hiya hiya.