Helen dan Sukanta: Romantisme Zaman Kolonial

Sumber gambar: Dokumen penulis.

Identitas Buku

Judul buku: Helen dan Sukanta

Penulis: Pidi Baiq

Penerbit: The Panasdalam Publishing

Tahun terbit: Desember 2019

Jumlah halaman: 364 halaman

Nomor edisi: ISBN 978-623 92083-0-1

*

Novel ini berkisah tentang seorang wanita bernama Helen Maria Eleonora. Gadis Belanda yang lahir tahun 1924 dan besar di Tjiwidei (Ciwidey). Tumbuh dalam keluarga Belanda khas dan hidup berkecukupan, juga mengutamakan nilai-nilai budaya barat, termasuk pendidikan Katolik yang taat.

Helen lebih banyak menghabiskan masa kecilnya di dalam rumah. Hanya berteman dengan buku-buku, biola, dan Sitih (pembantunya). Tineke, kerabatnya dari Batavia yang tiga tahun lebih tua darinya, hanya sesekali datang berkunjung bersama keluarganya ke Tjiwidei terutama saat masa libur sekolah tiba saja.

Beranjak remaja, Helen jatuh cinta dengan Sukanta, pemuda pribumi dan juga anak seorang “pemberontak”. Kisah cintanya dengan Sukanta begitu banyak rintangan, di setiap jengkal kehidupanya selalu ada perbedaan di antara mereka. Mulai dari agama, budaya, bahasa, dan strata.

Stereotip tentang perbedaan strata sosial antara masyarakat Belanda sebagai penguasa Hindia dan masyarakat pribumi sebagai pihak inlanders pada zaman itu tentulah menjadi halangan terbesar. Tidak hanya itu, kehadiran paman Bijkman membuat semakin rumit kisah cinta mereka karena dia menghasut orangtua Helen agar tidak merestui hubungan keduanya.

Sampai pada satu waktu, Ukan menghilang tanpa diketahui sebabnya dan Helen pun harus melanjutkan sekolahnya ke Bandung. Masa-masa jauh dari Ukan ini menumbuhkan rasa haru dan rindu yang sangat mendalam bagi Helen. Bagaimana pun, kehidupan harus berlanjut, dengan atau tanpa Ukan.

Di Bandung, Helen bertemu teman-teman baru, yaitu Raymond, Boengke, Bertha, Dirk, Emile, Ryus, dan Karel. Kemudian, Helen juga bertemu Hans, yang kelak jadi kekasihnya yang mana itu dilakukan Helen karena sungkan akan kebaikan yang selama ini diberikan oleh Hans.

Kerinduan Helen akan sosok Ukan masih terus menggebu bak bola salju yang terus menggelinding. Ukan sudah terlalu banyak mengambil porsi kebahagiaan dalam kehidupannya dan itu konkret dan permanen.

Hingga pada suatu malam…

Helen melihat sosok siluet yang ia curigai mengikutinya selama dua hari terakhir. Suatu malam ketika ia pulang dari jalan dengan Hans, sosok itu memunculkan dirinya dan tidak disangka itulah Ukan. Betapa senangnya Helen berjumpa kembali dengan kekasih hatinya yang ia pikir sudah tiada.

Malam itu juga, Helen memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama Ukan. Ia tuliskan secarik kertas surat perpisahan kepada Hans dan dengan bantuan Sitih, ia melarikan diri bersama Ukan ke Lembang. Mereka akhirnya menikah dan hidup bersama di sana dengan penuh kesederhanaan dan kasih sayang.

Namun, pena sudah diangkat dan lembaran telah mengering.

Takdir berkata lain. Perang dunia pecah, Jepang datang dan mengubah segalanya.

Frankstraat dan Muara Cerita

Sumber gambar: Twitter

Novel ini merupakan adaptasi dari kisah nyata, tentu dengan penyesuaian di sana dan sini. Pidi Baiq selaku penulis telah menyiapkan naskahnya sejak tahun 2001, yang mana pada tahun teresbut adalah awal pertemuannya dengan Nyonya Helen di Restoran Lachende Javaan, Frankstraat, Belanda. Sebelum terbit jadi buku, Pidi Baiq juga pernah mengunggahnya terlebih dahulu di blog pribadi pada November 2017.

Novel Helen dan Sukanta berlatar zaman Hindia Belanda dan Jepang. Karena menggunakan narasi dari sudut pandang orang pertama yang hidup di zaman itu, cerita yang dituliskan lebih terasa hidup.

Romantisme antara dua insan yang memiliki banyak perbedaan ini menghadirkan kisah cinta yang tidak biasa. Tidak hanya masalah perasaan, tapi juga melibatkan peristiwa-peristiwa besar waktu itu.

Ada banyak nilai-nilai kehidupan yang diceritakan di sini, baik dari sisi sosial, budaya, ekonomi bahkan sejarah. Kamu akan mendapat nama-nama tokoh bersejarah yang pernah tinggal di Jawa Barat pada masa sebelum Indonesia merdeka.

Dalam novel ini juga, terkadang diselipkan beberapa kalimat dalam bahasa Belanda dengan menyertakan artinya dalam catatan kaki, dan justru tidak merusak bagaimana aliran membaca, malahan cukup edukatif.

Untuk gaya penulisan dan ceritanya, sama seperti novel-novelnya sebelumnya, Pidi Baiq menggunakan gaya khasnya dengan penyusunan diksi yang sederhana menjadi kalimat-kalimat yang unik. Diksi yang digunakan relatif familiar untuk pembaca dan alur ceritanya sungguh dapat menggugah perasaan pembacanya.

Namun, novel cetakan pertama ini, masih terdapat beberapa kesalahan ketik meskipun sangat minor. Novel ini juga minim sekali gambar ilustrasi di dalam ceritanya. Jadi, mungkin butuh referensi lain agar bisa menghadirkan imajinasi yang sesuai dengan latar waktu cerita dikisahkan.

Bagi yang pertama kali membaca buku karya Pidi Baiq, akan lebih baik jika kamu juga membaca karya-karyanya yang lainnya juga agar lebih akrab dan paham dengan karakter dan gaya tulisannya. Itu akan membantu kamu mencerna setiap kata dengan pelafalan yang khas dari si penulis.

Dan Nyonya Helen, si empunya cerita ini, beliau sudah menutup mata dengan tenang di tepian Sungai Amstel, berpayung pohon willow yang sendu dan sunyi.

Mudah-mudahan, ia bisa bertemu dan berbahagia kembali bersama Ukan dalam keabadian.

Mudah-mudahan.

Penulis: Lindu Ariansyah

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *