Selasa siang, aku datang ke sekolah untuk mengembalikan beberapa buku yang kupinjam. Sampai di perpustakaan, aku bertemu dengan Zul, teman sekelasku. Ternyata dia juga hendak mengembalikan buku. Setelah urusan itu selesai, kami bergerak menuju kantin.

Sesampainya di kantin, kami memesan dan tak lama pesanan pun datang.

“Kamu beneran lolos SNMPTN, Lan?” tanya Zul memulai obrolan.

“Kayaknya sih gitu,” jawabku sambil makan kerupuk.

“Aslan, Aslan, nggak nyangka aku, kamu bisa lolos. Selamat yak. Pantesan tadi guru-guru ngomongin kamu.”

“Hah? Masa sih?”

“Iya, tadi aku lihat Bu Euis sama Pak Anton ngobrol gitu, tau ‘kan mereka gimana, Pak Anton bilang gini ‘Bu, itu si Aslan beneran lolos SNM?’ terus Bu Euis jawab ‘Iya eh Pak, nggak nyangka saya,’ nah teruskan…”

“Terus?” aku berhenti mengunyah sejenak karena penasaran dengan cerita Zul.

“Terus Pak Anton bilang ‘Ah, Edan! Masa’ anak kaya gitu lolos.’ Gitu katanya, Lan,” katanya sambil menahan tawa.

“Ahahaha,” aku dan Zul pun tertawa.

“Harusnya mah seneng ya, bangga gitu kalau ada muridnya yang lolos,” cakap Zul.

“Haha, mereka mah emang gitu. Lucu kadang-kadang,” kataku

Aku sendiri agak tidak percaya kalau lolos karena aku sadar nilaiku pas-pasan dan juga tidak pernah memiliki prestasi apapun selama SMA.

Aku tidak heran dengan apa yang diceritakan oleh Zul. Aku maklum karena mengingat kelakuanku selama kelas tiga ini yang sering seenaknya sendiri dan seperti masa bodoh dengan sekolah. Aku sering terlambat masuk kelas, sering tidur di kelas, bolos upacara walaupun siangnya langsung sembuh ketika main bola, bahkan aku sering bolos sekolah hanya untuk bermain playstation seharian di tempat rental PS. Ketika siswa lain menyibukkan diri dengan belajar, berlatih soal, kerja kelompok dan diskusi, aku sama sekali tidak memiliki gairah untuk itu. Semua ulangan dan ujian aku kerjakan ala kadarnya dan persetan dengan berapa hasilnya.

Pak Anton adalah guru PKN. Aku masih ingat, pernah membuatnya menitikkan air mata karena aku telat berangkat lebih dari satu jam. Itu terjadi di hari Jumad yang mana jam pertama adalah jam mata pelajaran beliau. Tidak hanya itu, aku dan beberapa temanku juga sering terlambat masuk ruang ujian karena keasyikan di kantin. Ia kecewa karena menurutnya kami tidak pantas seperti itu karena kami adalah anak-anak terpilih dan unggulan, katanya.

Bu Euis, ia adalah wali kelasku di kelas tiga. Tentu ia telah banyak mendengar tentangku dari siswa maupun guru-guru lain. Mungkin menurut mereka, aku ini adalah anak yang tidak tahu diri dan itu sebabnya mereka berdua kesal denganku.

“Oh pantes Zul, tadi juga aku ketemu Pak Joko. Dia ngucapin selamat sih, tapi ya gitu, mukanya ngeselin. Kayak menyeringai gitu ke aku,” kataku melanjutkan obrolan.

Zul pun ketawa mendengar itu.

Pak Joko adalah seorang guru fisika. Aku merasa kurang cocok dengan cara mengajarnya. Terlebih dia sering kali sinis kepadaku. Ketika sedang mengajar, tidak jarang dia membercandaiku dengan jokes yang terdengar rasis bagiku. Aku tidak masalah sebenarnya, yang jadi masalah adalah dia tidak lucu. Sama sekali tidak lucu.

“Zul, tadi aku juga ketemu Bu Mita. Tau ‘kan yang ngajar Bahasa Jawa waktu kita kelas sebelas itu?”

Zul mengangguk mengiyakan. Maklum, ia sedang mengunyah soto ayamnya.

“Nah, dia tadi bilang gini ‘Duh Aslan, Bu Mita itu inget terus eh sama kamu. Aslan yang maju Ujian Praktik Macapat terakhir itu kan?’ ya aku jawab, ‘Ahahaha, Ibu bisa aja. Makasih Bu,’ gitu tadi. Ternyata, kadang yang membuat kita diinget orang tuh bukan apa yang kita kasih ya, tapi apa yang kita bisa kenang bersama.”

“Iya, Lan.”

“Makanya, Zul. Sering-seringlah berhutang.”

“Ahahaha,” kami tertawa. Beruntung Zul tidak tersedak karenanya. Mangkuknya kini tampak mulai surut.

Tiba-tiba Zul menanyakan suatu hal yang membuatku terkesiap.

“Lan, gimana kamu sama Aida?”

Sontak pertanyaan itu membuatku jadi tersedak. Sial memang.

“Uhuk, gimana?”

“Wey, santai bro, kalem, minum dulu, minum, sorry kalau ngagetin,” katanya sambil ketawa tetapi juga menyodorkan minum ke arahku.

“Ya nggak gimana-gimana sih,” jawabku mencoba bersikap tenang setelah meneguk minum.

“Oh, ya syukur deh kalau baik-baik aja,”

Aku hanya tersenyum.

Aida adalah pacarku. Hmmm, atau bagaimana ya aku menjelaskannya. Jadi, dia adalah pacarku sejak awal masuk SMA tetapi ketika kami naik ke kelas tiga, dia memutuskan untuk menyudahi hubungan dahulu dan akan membahasnya lagi setelah ujian selesai. Katanya, ingin fokus belajar dahulu. Aku mengerti maksudnya tetapi bukankah seharusnya kita bisa melewatinya bersama-sama?

Aku masih ingat, itu adalah hari Kamis. Keesokan harinya, aku bahkan tidak berangkat sekolah karenanya. Aku merasa seolah-olah telah kehilangan alasanku untuk datang lagi ke sekolah. Hatiku hancur, pikiranku jadi tidak karuan. Dia adalah alasanku memilih sekolah ini, jurusan ini dan alasanku untuk tetap tinggal di sini. Bagaimana bisa dia tega melakukan ini sementara aku tahu kalau dia juga sangat menyayangiku.

Sejak saat itu, aku seperti kehilangan semangat belajar. Aku begitu lesu. Pernah terpikir olehku untuk pindah atau berhenti sekolah tetapi itu tidak mungkin. Aku sadar siapa diriku.

Aku memutuskan untuk tetap berangkat sekolah meskipun dalam benakku hanyalah memikirkan bagaimana aku bisa bersenang-senang dan melupakan kesedihanku. Sebagian besar waktuku kuhabiskan untuk bermain bola, kartu, game, gitar dan bernyanyi bersama teman-teman. Alasanku ke sekolah karena aku tahu aku bisa tertawa dengan mereka. Ketika aku sudah merasa jenuh, aku akan lari ke perpustakaan, setidaknya di sana sepi dan lebih tenang. Cocok untuk menjemput nyenyak.

Baca Juga: Rindu

Pengunguman SNMPTN adalah pemantik semangatku. Karena sejak itu, hubunganku dengannya perlahan membaik. Namun, belum ada kejelasan tentang jalinan kami.

Setelah selesai makan, aku dan Zul memutuskan untuk pulang. Saat di parkiran, ku lihat ada Aida bersama Fani, sahabatnya. Sepertinya mereka juga hendak pulang.

“Fani, Fani, mau balik ya?” kataku mencegah mereka pergi.

“Iya nih, Lan. Kenapa?” jawab Fani terdengar begitu protektif melindungi Aida. Seolah-olah aku ini seekor macan yang ingin menerkam mereka.

“Fani, Aida biar sama aku ya. Nanti aku antar dia pulang. Bilang aja sama Bunda, Aida sama Aslan gitu,” kataku ke Fani lalu menatap Aida.

Mereka berdua kemudian berdiskusi sejenak. Alhamdulillah, Aida mau dan Fani beranjak pergi. Kini hanya ada Aida dan aku.

“Kamu pasti belum mandi sore,” kataku.

“Kan belum pulang, Lan. Gimana sih,” jawab Aida gemas.

“Oh iya ya, hehe, ingin jalan sekarang?”

Aida hanya mengangguk dan tersenyum.

“Oke, aku ambil motor dulu, kamu tunggu sini bentar.”

Vamos, Aida!” ajakku ketika motorku sudah sampai di dekatnya.

“Ha?” Aida bingung.

“Ayo,” jelasku.

“Ke mana?” tanya Aida sambil memainkan alisnya. Aku tahu ia sedang mengajak bercanda.

“Khe Philipine, charry Row-tee Jew-jewer!” aku mengucapkannya seperti orang asing yang sedang belajar bahasa Indonesia.

“Ahahaha,” dia tertawa lalu mengangguk.

Hari sudah sore, di tengah perjalanan terdengar kumandang azan magrib. Kami berhenti di suatu masjid dan kebetulan masih sempat mengikuti sholat jamaah di sana.

“Kamu bawa mukena?” tanyaku

“Enggak.”

“Terus gimana?”

“Di dalem ada mukena deh, kayanya,” jawab Aida.

“Oh,” aku mengangguk-ngangguk. “Maaf ya,” sambungku.

“Kenapa?”

“Sekarang makmum dulu, besok aku imamin,”

“Hehe, Insha Allah,” Aida tersenyum.

Seusai sholat, kami melanjutkan perjalanan menuju penjual roti bakar kesukaan kami. Jaraknya masih lumayan jauh. Agar perjalanan tidak membosankan, aku coba memulai obrolan.

“Aida, nanti kalau ditanya Bunda, jawabnya gimana?”

“Ya tinggal jawab aja ‘diculik sama agen CIA, Bunda.

“Ahahaha, bisaan.”

“Tadi kamu bareng sama Zul, ya, berangkatnya?” tanya Aida.

“Enggak sih, ketemu di perpus tadi terus ke kantin. Kamu ngembaliin buku juga tadi?”

“Iya, sekalian bareng Fani juga.”

Motor belok kiri lalu ke kenan dan kini menjejaki jalan Georgia.

“Kamu mau nggak kalau aku ajak ke Teheran?” kataku melanjutkan obrolan.

“Hah, ngapain?”

“Nanti kita jumatan bareng di sana, bareng Pak Hassan Rouhani (Presiden Iran) juga.”

“Hahaha, enggak deh, udah betah di Indonesia.”

“Kamu nggak mau jadi Syiah apa Sunni gitu, Aida?”

“Hih, ngapain juga.”

“Enak loh, kalau kamu Syiah, nanti bisa jadi Ketua Parlemen di Lebanon. Kalau Sunni bisa jadi Perdana Menterinya. Bener nggak mau?”

“Haha, enggak deh, kenapa nggak kamu aja?”

“Aduh, nggak bisa aku tuh. Sibuk, banyak urusan. Harus mencintaimu juga ‘kan? Mana sempat ngurusin negara.”

“Ahaha, dasar.”

Motor terus melaju menyusuri jalan yang ramai penuh lampu warna-warni yang membentuk cahaya indah sepanjang perjalanan petang itu. Kini, kami berada di jalan Bosnia.

“Kenapa ya, cewek kok suka cowok yang misterius, gitu?”

“Eh, masa sih?”

“Buktinya, Limbad istrinya dua.”

“Ahahaha, iya ya. Eh, nggak tau deh.”

“Rrrgghghgh, rrrrghghghghgh, rrrrrrrrrggghhhhhh….” Aku meracau dan itu terdengar seperti kolaborasi antara suara geraman anjing dengan auman macan yang sedang menahan buang air besar.

“Iiiiih, Aslaaaan…” Aida tertawa mengacak-acak rambutku.

Akhirnya, kami sampai juga. Ini adalah tempat mangkal penjual roti bakar yang menjadi favorit kami. Letaknya di jalan Filipindan untuk sampai sini kamu akan melewati gereja, lapangan sepak bola dan rumah sakit umum.

“Aida mau apa?” tanyaku.

“Biasanya aja.”

Aku paham maksudnya lalu ku anggukan kepala lalu memesan.

“Mas, nasi goreng satu. Manis ya,” kataku lalu melirik Aida. Dia tahu aku sedang mengejeknya karena dia pernah memberiku nasi goreng buatannya sendiri yang rasanya manis. Itu aneh, mungkin dia keliru menaburkan gula, bukannya garam. Aida lantas mencubitku.

“Aduh, iya iya, udah dong,” kataku memohon agar cubitannya dilepas. Alhamdulillah, terkabul.

 “Coklat satu ya mas,” kataku ke penjual roti bakar.

Baca Juga: Magang Picisan

Kami lalu duduk sembari menunggu pesanan. Ketika pesanan sudah siap, kami beranjak dan mencari warung untuk duduk memesan minuman dan memakan roti bakar yang sudah dibeli tadi.

“Kamu tahu kenapa aku suka roti bakar ini?” kataku sambil mengambil sepotong roti lalu memakannya.

“Kenapa?”

“Aku suka makanan ini karena mengingatkan aku dengan salah seorang Khulafaur Rasyidin. Hmm, Roti Bakar Ash-Shiddiq,” itu memang nama yang terpampang di gerobak penjualnya.

“Abu Bakar, Aslaaan,” kata Aida mencoba membenarkan.

“Hehe, iya mengerti. Dia orang yang jujur, baik ketika berdagang maupun memimpin. Kamu tahu kenapa dia digelari ‘Ash-Shiddiq’ ?”

“Kenapa?”

“Selain karena kejujurannya, ada suatu peristiwa ketika Rasulullah saw. ‘kan abis Isra’ Mi’raj, terus paginya, dia cerita soal apa yang udah terjadi sama dia malem itu. Nah, kaum Quraisy yang ngedengernya ngetawain gitu, nggak percaya. Katanya, ‘Mana mungkin, malemnya ke Masjidil Aqsa, masa paginya udah balik lagi,’ gitu. Terus akhirnya, mereka ngedatengin Abu Bakar, dia sahabatnya gitu ‘kan ya. Mereka mikirnya Abu Bakar bakal kaya mereka, ngetawain juga, eh tapi malah sebaliknya. Tanpa ragu-ragu, Abu Bakar justru membenarkan apa yang Muhammad katakan. Sejak itu dia diberi gelar ‘Ash-Shiddiq’, artinya ‘Yang Membenarkan’, gitu. Abu Bakar pernah bilang‘ Kejujuran adalah kepercayaan, kebohongan adalah pengkhianatan.’ Itu keren sih.”

“Hmm, gitu ya,” Aida mengangguk.

Sejenak ku perhatikan ada yang berbeda dalam tatapannya saat mendengar ceritaku. Matanya seperti gelisah. Sempat terpikir apa ada sesuatu hal yang sedang dia sembunyikan dariku? Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan ini hanya karena kecurigaan yang belum jelas.

“Tapi, sayangnya yang jual roti bakar nyeremin” kataku melanjutkan obrolan.

 “Hah? Masa sih? Padahal aku liat, biasa aja tuh masnya.”

“Iya. Namanya Fairuz, sih, kaya nama pembunuh.”

“Huss, jangan gitu. Ngawur kamu.”

“Lah, bener ‘kan. Fairuz ‘kan yang ngebunuh Umar.”

“Oh ya?”

“Iya, dia budak dari Persia. Jadi dulu, waktu Umar bin Khattab lagi ngimamin sholat subuh di Masjid Nabawi, si Fairuz ini sembunyi di sekitar itu. Nah, pas Umar udah mulai takbir, tiba-tiba dia nikam gitu aja. Tiga kali di pusar. Gila, berani banget bunuh Amirul Mu’minin, apalagi orang sesangar Umar kaya gitu ‘kan.”

“Terus yang ngebunuh tadi gimana?”

“Iya abis itu dia lari, tapi pada dikejar. Nah, pas dia udah kepojok, udah nggak bisa ngapa-ngapain, dia bunuh diri. Orang-orang Syiah menganggap Fairuz seorang pahlawan karena udah ngebunuh Umar. Banyak juga orang Iran yang nganggep dia sebagai pahlawan nasional. Makamnya aja dibuatin bangunan khusus gitu, ada kubahnya. Konon, kalau nggak salah, makamnya itu ada di Kashan, Iran. Yaitu tadi, Fairuz. Pirooz Nahavandi. Lebih dikenal, Abu Lu’lu’ah.”

“Oh, ituuu..” balasnya seperti familiar dengan nama Abu Lu’lu’ah.

“Iyaa.”

“Tapi ganteng ya masnya,” Aida mencoba membuatku cemburu.

“Ah, kalau cuma ganteng mah, Abu Lahab juga bisa.”

“Dih, masa? Tau darimana?”

“Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar.”

Ketika kami asyik mengobrol, Aida tiba-tiba menjerit. Aku pun kaget. Kukira ada apa, ternyata hanya seekor kucing menyentuh kakinya sehingga membuatnya terkejut. Aku jadi ketawa.

“Kenapa sih, cuma kucing juga,” kataku yang masih menyisakan tawa itu.

“Iiih, tapi ‘kan takut, kaget gitu.”

“Ahaha, enak ya jadi kucing.”

“Kenapa?”

“Jangankan Abraham Lincoln, Rasulullah aja sayang.”

“Abraham Lincoln?” tanya Aida yang tampak asing mendengar nama itu.

“Iya, presiden ke-16 Amerika. Dia cuma empat tahun jadi presiden sebelum mati dibunuh.”

“Hah, dibunuh? Kok bisa?”

“Iya. Jadi, waktu dia nonton drama di Teater Ford, Washington, dia ditembak dari belakang pake pistol Philadelphia Derringer, pistol koboi gitu. Ditembak sama John Wilkes Booth. Ironisnya, si Booth ini tuh ternyata aktor favoritnya si Lincoln.”

“Kasian.”

“Tapi Lincoln, dia itu juga penyayang binatang. Katanya Lincoln, kucingnya yang namanya Dixie itu lebih pinter dari seluruh kabinetnya.”

“Ahahaha,” kami ketawa.

“Tapi masih mending sih daripada Calvin Coolidge.”

“Dia Presiden juga?”

“Iya. Dia malah pernah melihara beruang item, singa sama kuda nil. Itu White House jadi Gembira Loka kalau sama dia mah,”

“Ahahaha.”

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Makanan dan minuman kami telah habis dan Aida minta untuk diantar pulang. Setelah itu, kami beranjak pulang.

“Kita balikan ‘kan, Da?” tanyaku di tengah perjalanan pulang.

Aida tidak menjawab tetapi aku yakin dia mendengar apa yang aku katakan barusan.

“Da, Aida?” kataku berusaha menyadarkannya.

“Hah, iya, apa?” Aida menjawab seperti baru sadar dari lamunan.

“Gimana?”

“Gimana apanya?”

“Kita balikan ‘kan?”

“Ya kamu maunya gimana,” ia menjawab dengan nada bercanda.

“Aku serius, Aida.”

“Nanti aja ya jawabnya, jangan di sini,” Sepertinya dia merasa kurang nyaman membicarakan hal itu di atas motor ketika perjalanan pulang. Aku tidak ingin membuat suasana jadi keruh. Walaupun perasaan curiga kembali meracuni benakku.

Aku merasa Aida seperti seketika berubah. Padahal sepanjang jalan tadi dia tampak begitu senang bersamaku.

Pernyatannya itu cukup ampuh membungkam diriku yang sedari tadi begitu antusias bercerita banyak hal dengannya. Aku seperti dipaksa untuk merasakan kesunyian malam itu. Tak ada pembicaraan di antara kami sampai tiba di depan rumahnya.

Aida turun dari motor, lalu seketika menjawab pertanyaanku tadi.

“Aslan, maaf. Aku nggak bisa lagi sama kamu.”

Mendengar itu, aku lantas turun dari motor dan berdiri di hadapannya.

“Tapi kenapa, Da?”

“Ya aku nggak bisa aja. Susah aku ngejelasinnya ke kamu, yang ada kamu malah tambah benci sama aku nantinya.”

“Ya tapi kenapa? Jelasin ke aku, kenapa?”

“Ya pokoknya nggak bisa..”

“Kenapa? Aku salah apa? Bilang, jangan kaya gini. Aku jadi tambah bingung nantinya. Jelasin ke aku, Aida. Ada apa? Kenapa kamu kaya gini ke aku? Kamu sayang ‘kan sama aku? Kamu cinta ‘kan sama aku? Jawab, Aida. Jawab…” kataku sambil berusaha meraih tangannya tapi dia malah menepis tanganku, lalu menamparku. Sungguh, itu sakit. Sakit bukan karena kerasnya tamparan tetapi lebih karena itu dilakukan oleh orang yang aku sayang dan yang aku yakini juga menyayangiku.

“Kamu tuh bisa denger nggak sih?!” nadanya meninggi seperti memaki.

Aku hanya termenung menatapnya. Benakku terus bertanya-tanya ada apa dengan dirinya dan mengapa dia tidak menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengannya.

“Kita tuh udah nggak bisa sama-sama lagi, Aslan. Kenapa sih kamu nggak mau ngerti? Tolonglah kamu hargain keputusanku. Aku tuh udah nggak bisa lagi sama kamu. Kita itu beda, Aslan. Ngerti nggak sih?!” katanya dengan wajah berderai air mata serta tangannya yang senantiasa berusaha menghapus linang air mata.

Ingin sekali diriku memeluk dan menenangkannya, tetapi aku tahu diri akan situasi dan posisi diriku. Sekarang, aku sudah bukan siapa-siapanya lagi. Tidak ada lagi harapan bagiku. Aku putus asa dan tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Situasi berubah menjadi canggung dan tidak menentu. Aku sudah tidak kuat dan ingin segera enyah dari hadapannya.

“Baiklah, kalau itu yang kamu mau,” kataku setegar mungkin.

 “Semoga kamu bahagia selalu. Aku pulang dulu. Jangan sedih, tersenyumlah,” kataku sambil berusaha tersenyum lalu pamit meninggalkannya.

Aku pulang dengan perasaan dan pikiran yang campur aduk tak karuan. Hatiku kembali patah. Namun, aku tetap mencoba mengontrol jiwaku agar tetap tenang sehingga dapat selamat sampai rumah. Dalam perjalanan pulang, suara Eddie Vedder seperti mengiang dalam lautan kesedihanku. Dan rintik kecil mulai menetes mencecah jaketku.

            “Hey, you’ve got to hide your love away…”

            “Hey, you’ve got to hide your love away…”

Pupus sudah pupus. Hilang sudah hilang.

Kedua kalinya.

Penulis: Lindu