Semburat jingga di ufuk barat sudah memudar digantikan oleh pemandangan langit malam. Ara tersenyum ketika titik terang di langit mulai bermunculan. Entah kenapa hanya dengan melihat germerlap cahayanya hatinya merasa damai.

“Ara, aku pulang duluan ya,” kata gadis di sebelahnya.

“Hati-hati Ris.”

Ara meletakkan gitar kesamping tubuhnya kemudian tangannya melambai pada Riska yang beranjak pergi dari gerbang sekolah, tempat mereka berdua menunggu jemputan.

Setelah Riska menghilang dari pandangannya, Ara menghembuskan napas perlahan kemudian melirik arloji di tangan kirinya. Raut wajahnya tiba-tiba berubah muram.

Menginjak pukul delapan malam Ara baru sampai di rumah, dia pulang menggunakan jasa ojek online. Dengan perasaan kalut dia berjalan mengendap-endap masuk kedalam rumah.

“Sini gitar kamu!” bentak seseorang tiba-tiba. Sontak Ara terkejut dan takut.

“Jangan, Pa, Ara janji enggak akan pulang malam lagi. Hari ini ada gladi bersih acara musik di sekolah jadi terpaksa Ara pulang terlambat,” jelas Ara dengan mata yang berkaca-kaca.

“Papa sudah memberi peringatan agar kamu berhenti bermain musik. Hobi kamu itu menganggu prestasi akademik kamu, Ara!” tanpa aba-aba Papa menyambar gitar milik Ara dan menghempaskannya dengan keras ke lantai. Tidak berhenti begitu saja, gitar Ara diinjak hingga remuk.

Tangis Ara hampir pecah tapi sekuat tenaga gadis itu menahannya. Dalam bungkam dia marah dan ingin melawan sikap temperamental Papanya itu. Tapi Ara tidak sanggup. Hanya Papa keluarga yang dia punya. Jika dia melawannya, itu hanya akan membuat Papa semakin naik pitam.

“Untuk terakhir kalinya Papa peringatkan kamu berhenti main musik! Kamu  hanya perlu belajar dan jadi yang terpandai. Jangan permalukan Papa!”

Setelah itu papa melengos pergi. Ara memunggut gitar kesayangannya yang sudah hancur. Benda itu ia beli dengan uang tabungannya sendiri dan sekarang harus berakhir sebagai barang rongsokan.

Sejak dulu hubungan keluarganya tidak pernah harmonis. Papa dan Mamanya bertengkar hampir setiap hari lalu berujung dengan perceraian tujuh tahun lalu saat Ara berusia 10 tahun.

Ara merasa menjadi seorang anak yang tidak diinginkan saat Mamanya sendiri menolak untuk mengurusnya, dan Papanya yang selalu memaksakan kehendak.

Ara bergegas masuk ke kamarnya, membenamkan wajahnya di bantal lalu menangis dalam diam. Tenggorokannya terasa tercekat. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya. Apakah dia tidak pantas mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya? Bukankah setiap anak yang terlahir kedunia ini hidup untuk mendapatkan kasih sayang, mengapa Ara tidak? Apakah itu adil?

***

Ara kembali ke dalam kelasnya, 12 MIPA 1, setelah menghadap wali kelasnya.

Ara heran mengapa akhir-akhir ini banyak guru yang mengeluh bahwa tugasnya menghilang sehingga dengan terpaksa dia tidak mendapatkan nilai, atau jika ada kesempatan dia harus mengerjakan ulang tugasnya.

Padahal seingatnya dia selalu mengerjakan semua tugas yang diberikan. Alhasil karena perkara tersebut membuat nilainya menurun di semester kemarin.

“Riska, aku selalu ngerjain tugas tapi kenapa tugasku gak sampai ke guru-guru ya?” heran Ara.

“Kamu selalu rangking pertama, tapi kemarin peringkatmu turun jadi ketiga paralel gara-gara ada tugasmu yang hilang misterius. Aku rasa ada yang enggak beres.”

“Maksudnya?”

Riska tidak menjawab dia malah mengajak Ara ke depan papan pengumuman. “Coba deh lihat siapa yang ada di rangking pertama parallel,” tujuk Riska pada sebuah nama.

“Fani, emang kenapa? Dia emang pintar juga kok. Kemarin aja dia dapat rangking dua,” pandangan Ara kemudian menatap Riska. “Ris jangan sembarangan nuduh kalau gak ada bukti ih!”

“Ya itu baru spekulasiku aja, kita harus selidiki, Ra” ajak Riska. Dia tidak tega melihat sahabatnya sedih jika nilainya kembali turun.

***

Sungguh Ara tidak tega melihat teman-teman satu bandnya kecewa karena mendekati terlaksananya pentas musik SMA Bina Nusantara, dia menyatakan mundur. Sekali lagi Ara memilih untuk menuruti perintah Papanya dengan harapan sikap Papanya itu berubah.

Sepulang sekolah Riska mengajak Ara untuk memata-matai ruang guru. Menurut spekulasinya ada seseorang yang sengaja mengambil lembar tugas milik Ara.

Kedua perempuan itu menunggu sekolah sampai benar-benar sepi kemudian mereka bersembunyi di area taman yang berhadapan langsung dengan ruang guru.

“Ara!” pekik Riska lirih. Dia menunjuk seorang lelaki yang memasuki ruang guru.

Ara mengernyitkan keningnya. Dia tahu siapa lelaki berseragam basket yang baru saja memasuki ruang guru itu. Namanya Elang, kapten tim basket di sekolahnya sekaligus anak dari kepala sekolah.

“Pasti Elang dalangnya, dia kan gebetannya Fani. Dih mentang-mentang anak Pak Hendra, kepala sekolah, dia bisa sabotase peringkat orang seenaknya,” Riska merasa marah. Dia beranjak dari persembunyiannya lalu ikut masuk menyusul Elang.

“Ris, kamu mau apa?”

“Dimana tuh cowok?”

“Kalian ngapain di sini?” Ara dan Riska menoleh ke sumber suara. Entah dari mana Elang tiba-tiba muncul. Riska langsung berhadapan dengan Elang, matanya berkilat marah.

“Harusnya aku yang tanya kamu mau ngapain di sini? Pasti kamu yang curi lembar tugas Ara biar Fani bisa dapat rangking satu. Iya kan? Ngaku!”

“Kalian salah paham, aku nggak bermaksud gitu.”

“Alah bohong, mana ada maling mau ngaku.”

Elang berdecak sebal kemudian tatapannya beralih kepada Ara. “Bisa nggak temanmu tidak asal nuduh? Dengerin penjelasan aku dulu,” Riska hendak nyolot tidak terima tetapi Ara menyuruhnya untuk diam dan membiarkan Elang berbicara.

“Sekali lagi aku tekanin, bukan aku yang ambil lembar tugas  Ara. Justru aku mau bantuin dia,” jelas Elang yang membuat Ara dan Riska kebingungan dengan maksud lelaki itu.

Baca juga

Nyepi, Momentum Sakral dan Maknawi Sunyi

“Bantu aku?” heran Ara.

“Hmm.”

Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari luar. Elang mengajak mereka bergegas keluar, kemudian bersembunyi.

Seorang pria yang merupakan penjaga sekolah memasuki ruangan itu dan mulai mencari-cari sesuatu di atas tumpukan kertas tugas fisika kelas Ara hari ini. Setelah merasa mendapat apa yang ia cari, pria itu buru-buru pergi.