Kekalahan Manchester United atas Leicester City pada Rabu (12/5) kemarin, memastikan tetangga mereka, Manchester City sukses mengunci gelar juara Premier League musim ini.

Unggul selisih 10 poin dengan tersisa tiga laga, membuat The Citizens tak terkejar lagi. Prestasi ini membuat girang seluruh fans dan pemain Manchester City, tak terkecuali dengan Riyad Mahrez.

Menjuarai kompetisi domestik sehari menjelang Idul Fitri membuat kebahagiaan pemain asal Aljazair yang notabene juga seorang muslim tersebut bertambah. Mahrez seperti mendapatkan kemenangan ganda. Kemenangan Hari Raya Idul Fitri sekaligus kemenangan trofi kejuaraan sebagai pesepakbola profesional.

Pundi-pundi bonus pun menanti untuk mengisi saldo rekening. Bahkan, bonus yang akan diterima tiap pemain Manchester City atas keberhasilan menjuarai Liga Inggris ini ditaksir mencapai angka 1 juta poundsterling atau setara dengan 19,9 miliar rupiah.

Uang sebanyak itu sih bisa untuk mentraktir mie ayam/bakso orang se-Kabupaten Magelang. Atau bisa juga didonasikan ke seorang Menteri yang mungkin sedang dilanda kelaparan akut sehingga harus “meminjam” dana bantuan sosial sampai miliaran rupiah. Ups.

Menanggung Beban Rindu

Bukan hanya Riyad Mahrez saja, mayoritas dari kita tentu setuju bahwa Hari Raya Idul Fitri memang menjadi momentum yang membahagiakan. Bertegur sapa kembali dengan orang-orang rumah telah menjadi ritual tahunan yang wajib terlaksana.

Sayangnya, kita tahu bahwa lebaran tahun ini tidak lagi sama seperti biasanya. Kekecewaan pasti ada melihat alangkah lucunya regulasi pemerintah yang melarang aktivitas mudik namun justru membuka lebar-lebar destinasi pariwisata. Seakan-akan lebih aman dan lebih baik untuk mengunjungi kebun binatang daripada kebun rumah sendiri.

Sepertinya, pemerintah sedang mengajari rakyatnya untuk bercermin. Begitu melihat aneka satwa yang terkungkung di kandang masing-masing, kita merasakan hal yang sama dengan yang para fauna tersebut rasakan. Terbelenggu, bosan dan tak bisa pulang ke kampung halaman.

Memang, kita masih bisa terhubung dan saling berkabar melalui kecanggihan alat komunikasi tetapi adakah yang mampu menuntaskan rasa rindu selain pertemuan?

Kerinduan orang tua yang merantau ke kota atau negeri orang, bekerja bertahun-tahun lamanya, guna mengais rezeki demi bisa menyekolahkan anak-anaknya di kampung halaman.

Kerinduan seorang prajurit yang mengabdikan diri bertugas ke negara-negara konflik. Sementara, sang istri hanya bisa berdoa setiap malam berharap sang suami tetap hidup dan lekas pulang untuk mencium keningnya, menggendong buah hati mereka dan memeluk dengan segenap rindu dan air mata.

Dan kerinduan manusia-manusia yang merasa dirinya telah gagal dalam hidup. Gagal dalam menjadi “orang” seperti yang diharapkan keluarga. Keajaiban tanah rantau yang tak kunjung datang menyebabkan rasa malu yang kronis dan berkepanjangan. Menghardik diri sendiri sebagai nobody. Sehingga, merasa tidak pantas untuk pulang memeluk dan mencium takzim tangan ayah dan ibunda.

Wahai para penguasa, apa kalian pernah merasakannya? Kalau pernah, mengapa tega nian membuat orang lain merasakan kepedihan yang sama? Kalian mungkin bisa berkelit dengan dalih mutasi kerja, kunjungan diplomatik atau alasan nyekar. Lah, kami -rakyat yang menjadikan Anda bisa duduk di kursi parlemen seperti sekarang ini- bagaimana? Boro-boro mau mudik, izin sakit pun harus pakai surat dokter dan rela potong gaji atau merapel jam lembur kerja. Kalau tidak, mau kerja apalagi kami?

Nggak, rindu itu nggak berat. Cuma menyakitkan.

Sepasang Hari Raya

Selain Hari Raya Idul Fitri, hari ini (13/5) juga bertepatan dengan perayaan hari besar lainnya, yakni Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus. Fenomena ini tentu jarang terjadi bahkan dalam kurun waktu yang lama. Dua hari besar itu seperti sedang berpasangan hari ini. Maka, tidak berlebihan rasanya jika hari ini bisa dibilang cukup monumental.

Ya, bayangkan saja, setelah semalaman suntuk mengumandangkan takbir kemudian tertidur pulas, kamu akan bangun pagi dengan penuh semangat. Bukan untuk sahur melainkan untuk mandi, merapikan diri, mengenakan sarung dan kopiah favorit lantas melangkahkan kaki menuju masjid guna menunaikan salat Id.

Setelah salat, kamu pulang dan langsung mencari gawai lalu mengetik pesan singkat berisi permintaan maaf dan ucapan selamat hari raya. Syahdan, kamu sebarkan pesan tersebut ke grup chat kelas, rekan kerja, sanak keluarga dan linimasa-linimasa media sosial.

Tapi dari semua pesan itu, ada satu kontak yang kamu kecualikan. Pesan dengan modifikasi khusus yang akan kamu kirimkan padanya. Kepada dia yang hanya bisa kamu sayangi namun, tidak akan pernah bisa kamu miliki selamanya.

Sejenak kamu tersenyum ria karena, berhasil menyusun kalimat yang indah teruntuk orang yang indah pula. Namun perlahan kamu mulai lemas, cemas, menunduk lesu dan diam-diam menghapus sungai yang bocor dari sepasang bola matamu.

Kalian memang sama-sama merayakan hari raya. Namun, tidak dengan cara dan keyakinan yang sama. Kamu hadir ke masjid guna melantangkan takbir dan memuji keesaan-Nya. Sementara, dia dengan mengenakan dress warna gelap nan anggun dan rambut yang berkepang mengitari kepalanya seperti sebuah mahkota, sedang duduk, tertunduk, menangkupkan tangan, larut mengkhidmati misa di gereja.

Ambyar!

Itu baru satu contoh kasus. Belum dengan peristiwa-peristiwa lain yang lebih mengharukan yang belum terungkapkan.

Mungkin, kasus di atas akan terkesan “cuma” masalah picisan belaka tapi, jangan pernah anggap remeh. Bukankah pembunuhan pertama di muka bumi terjadi juga karena problematika asmara?

Duka Palestina

Tetapi, ada yang lebih genting daripada itu semua. Bahwa sampai hari ini, di sebuah tanah suci yang diimani tiga agama besar dunia, terjadi huru-hara yang tak kunjung reda. Rakyat Palestina dirundung duka. Realita kehidupan yang siapa pun akan tidak tega melukiskan awan kelabu yang menyelimutinya.

Di saat kita sedang bingung memikirkan alternatif jawaban dari pertanyaan-pertanyaan retoris seperti “Kapan lulus?”, “Kapan menikah?” dan kapan-kapan yang lainnya, saudara-saudara kita yang berada di jalur Gaza sedang dihantam gejolak, dibombardir prahara dan dicekik maut sehari-harinya.

Di saat kita sedang riweuh menata toples dan sibuk menghitung-hitung THR, anak-anak di Sheikh Jarrah tengah mati-matian menarik ketapel dan melempar kerikil. Berharap para bandit yang hendak mengusir mereka akan bergidik, gentar dan lari tunggang-langgang meninggalkan pemukiman mereka.

Dan di saat perempuan-perempuan muda sibuk memilih-milih outfit Lebaran di pusat-pusat perbelanjaan, kelimpungan membereskan bintik jerawat dan galau menyusun caption cantik untuk postingan edisi khusus Lebaran, gadis-gadis di Tepi Barat, Palestina sana sedang merengek, memekik cua, menangisi jasad orang tua mereka yang bergelimpangan di tanah. Penuh darah, penuh nanah.

Di negeri itulah, kiblat pertama umat muslim, Masjidil Aqsha berada. Di sanalah, Betlehem berpijak. Tempat di mana Isa Al-Masih lahir di bawah pohon kurma dari rahim seorang perawan suci, Maryam binti Imran.

Dan di sana pulalah, Via Dolorosa bersaksi. Jalan yang diyakini umat Kristiani sebagai rute Sang Kristus melakoni vonis dari Pontius Pilatus, memikul salib hingga ke bukit Golgota.

Derita Palestina bukan milik kaum muslim semata. Derita mereka adalah milik siapa saja yang masih memiliki hati nurani. Lalu, sudahkah kita merasakan duka yang sama?

Fenomena “Sepasang Hari Raya” ini seharusnya menjadi pijakan untuk menghargai perbedaan. Pluralisme bukan sekadar konsep rekonsiliasi pragmatis. Bukan pula aksi terselubung peleburan ideologi. Lebih dari itu, haruslah menjadi kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan.

Akidah adalah urusan kamar masing-masing. Dialog dan diskusi adalah sarana guna memahami keberagaman dan introspeksi personal bukan malah melebar menjadi asimilasi prinsip dan iktikad.

Haru biru Palestina telah menjelma nestapa yang tak berkesudahan. Seakan-akan tak mengenal hari tua, hari raya, apalagi hari libur.

Jangan lupakan mereka. Mereka juga memiliki hak untuk merasakan indahnya hari raya ini. Entah itu, umat Islam dengan Hari Raya Idul Fitri-nya atau umat Kristiani dengan Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus-nya.

Masing-masing orang berhak menentukan keyakinannya sendiri tanpa ada paksaan dalam memutuskan, menjalankan dan mendirikannya. Perbedaan adalah rahmat dan karenanyalah manusia menjadi sama. Saling memiliki identitas yang khas dan unik satu sama lain.

Akhir kata, selamat Hari Raya untuk keduanya.

Semoga Tuhan mengampuni kita semua.

Penulis            : Lindu

Penyunting    : Akbar