Pertama-tama, marilah kita berterima kasih kepada Jenderal Soeharto. Kenapa? Karena berkat putra daerah asal Kemusuk, Bantul itulah hari ini (26/5) jadi tanggal merah di kalender.

Jadi, 38 tahun yang lalu, The Smiling General meresmikan Waisak dan Nyepi sebagai Hari Libur Nasional sebagaimana tercatat sebagai Keppres Nomor 3 tahun 1983. Tepatnya, pada tanggal 19 Januari 1983. Itu hari Rabu.

Keputusan ini terbukti langkah yang sigap mengingat waktu itu beliau baru menjabat sebagai presiden selama 16 tahun. Belum sempat merayakan sweet seventeen masa jabatan kepresidenannya.

Purnama Pertama Mei

Kalau kamu melihat rembulan di langit malam di bulan Mei sedang cerah-cerahnya, itu bukan saja penyebab malam menjadi lebih terang dari biasanya tetapi juga menyebabkan hari esok adalah hari libur.

Itu karena adanya Hari Waisak yang jatuh selalu pada purnama pertama di bulan Mei. Pada Hari Raya Waisak, umat Budhha memperingati tiga kejadian penting yang dikenal dengan Trisuci Waisak.

Pertama, memperingati kelahiran Siddharta Gautama. Kedua, peringatan Siddharta mencapai Nirvana (Pencerahan Agung) dan menjadi “Sang Buddha”. Serta peringatan parinirvana (wafat) Sang Buddha. Semua peristiwa itu diperingati secara bersamaan pada Hari Raya Waisak.

Keputusan merayakan Trisuci Waisak ini diresmikan pertama kali di Sri Lanka pada tahun 1950 oleh World Fellowship of Buddhists (WFB).

Perayaan Waisak di Indonesia sendiri mengikuti keputusan WFB yang secara rutin bertempat di Candi Borobudur, yang mana sudah dua tahun ini tidak dapat terlaksana sebagaimana biasanya.

Melepaskan Belenggu Keduniaan

Sejatinya, Siddharta Gautama adalah seorang pangeran. Putra tunggal dari Ratu Mahamaya dan Raja Suddhodana dari Suku Shakya. Ia lahir di daerah Kapilavastu, Nepal. Tempat kelahirannya dikenal sebagai Taman Lumbini.

Sejak kelahirannya, ia telah diramalkan akan menjadi seorang Buddha. Hal inilah yang menyebabkan kekhawatiran ayahnya, Raja Suddhodana karena jika Siddharta benar menjadi seorang pertapa maka kerajaan akan kehilangan pewaris takhtanya.

Agar hal tersebut tidak terjadi, seorang pertapa mewanti-wanti sang raja agar jangan sampai Siddharta menyaksikan “Empat Kondisi” yakni, orang tua, orang sakit, orang mati dan pertapa.

Hal ini guna menghindari potensi Siddharta mengalami pergolakan batin atas pertanyaan, “apa artinya hidup jika semua orang akan menjadi tua, sakit dan mati?” dan persoalan eksistensialis semacamnya.

Oleh sebab itulah, Raja Suddhodana memanjakan Siddharta agar ia senantiasa larut dalam kenikmatan duniawi. Terbukti, Siddharta juga menikah dengan Putri Yasodhara.

Namun, suatu ketika Siddharta berjalan keluar istana dan menyaksikan “Empat Kondisi” terlarang tadi. Bergejolaklah hati Siddharta.

Bertahun-tahun lamanya dirinya hidup tidak tenang dalam istana. Sampai suatu malam ia memutuskan untuk mantap lari dari segala belenggu kenikmatan keduniaan itu, tepat di malam ketika anaknya, Rahula lahir.

Begitulah, kemudian Siddharta mengembara dalam pertapaannya hingga mencapai nirvana pada usia 35 tahun di Bodhgaya pada tahun 588 SM  dan mengalami parinirvana pada usia 80 tahun di Kusinara pada tahun 543 SM.

Lahirnya Dracula

Kamu tahu, 124 tahun yang lalu dari hari ini, tepatnya pada tanggal 26 Mei 1897, novel Dracula resmi terbit. Novel karya penulis asal Irlandia, Bram Stoker ini terbilang cukup fenomenal. Terbukti dengan novelnya yang telah diterjemahkan ke banyak bahasa dan sudah ratusan kali diangkat ke layar lebar.

Novel horor-gotik ini menceritakan tentang kisah manusia penghisap darah bernama Count Dracula, yang mana kisah ini menjadi cikal bakal lahirnya narasi global mengenai vampire. Namun novel “Dracula” ini menyimpan banyak intrik di balik ketenarannya.

Dracula pertama kali diterbitkan oleh Archibald Constable and Company of Westminster. Pihak penerbit sangat tertarik dengan cerita yang ditulis Bram Stoker ini karena kesan nyata di dalamnya sangat terasa. Wajar karena si penulis pun mengakui bahwa ia mengadaptasinya dari kehidupan nyata termasuk lokasi tempat dan karakter para tokohnya.

Baca juga

Novel Almond : Ketika Hati dapat Mengendalikan Kepala

Namun karena situasi sosial yang mencekam kala itu, mereka pun meminta Bram untuk merevisi karyanya agar lebih “fiktif” lagi guna menghindari kepanikan massal.

Keputusan ini terbilang rasional, mengingat waktu itu London tengah gempar teror pembunuhan Whitecapel yang menewaskan 11 orang wanita.

Kasus ini masih belum  terpecahkan sampai sekarang dan pelakunya diindakasi adalah seorang pembunuh berantai yang kini melegenda dengan nama “Jack The Ripper”.

Urgensi tersebutlah yang melatarbelakangi novel tersebut baru rilis pada tahun 1897 pun dengan aneka perubahan naskahnya. Yang mana sebanyak 101 halaman pertama dari naskah aslinya terbuang dan ending ceritanya pun mengalami perubahan.

Sahabat Dekat Bernama “Ajal”

Baik Siddharta maupun Dracula telah mengajarkan kita tentang betapa dekatnya kematian dengan kehidupan manusia.

Kematian sudah seperti sahabat dekat yang kerap “bercanda” mengagetkan kita. Ia datang begitu saja tanpa peduli situasi, entah ketika kita sedang kegirangan atau kesepian.

Setiap yang bernyawa pasti mati, begitu bunyi Surat Ali Imran ayat 185. Tidak peduli kamu raja atau tunawisma, ajal pasti bertemu.

Putri Diana yang secantik itu saja mati. Michael Jackson yang sangat populer itu pun meninggal dunia. Firaun yang mengaku Tuhan sekali pun mati tenggelam. Bahkan orang-orang keren seperti Ludwig Feuerbach, Friedrich Nietzsche sampai Stephen Hawking pun tak kuasa menolak ajal.

Sejatinya kita ini hanya makhluk kecil yang pada akhirnya akan kembali pada hakikatnya “Dari tiada ke tiada” seperti kata Soe Hok Gie.

Kita mungkin merasa hebat karena masih muda, sehat dan banyak uang. Tetapi semua itu akan pudar seiring berjalannya waktu.

Ada baiknya kita mendengarkan salah satu petuah Imam Al-Ghazali bahwa hal yang paling jauh adalah satu detik yang sudah berlalu dan hal yang paling dekat ialah kematian. Diktum ini jelas mempertegas bahwa ajal adalah bayang-bayang setia setiap makhluk.

Tetapi apakah kematian itu harus disikapi sedemikian horornya? Tidak bagi seorang Jalaluddin Rumi.

Bagi Rumi, kematian justru saat-saat mendebarkan yang romantis. Katanya, kematian adalah malam pengantin. Momentum yang paling ditunggu untuk bisa kembali bersama Sang Kekasih.

Kematian adalah keniscayaan bagi siapa saja yang mengalami hidup. Setidaknya, dengan itu kita bisa memandang kehidupan dengan lebih bijaksana. Tidak semua manusia diberi kenikmatan kekayaan sebagaimana tidak semua manusia diberi kenikmatan dalam bersujud.

Bukankah rasa syukur adalah sebenar-benarnya kekayaan? Sehingga barang siapa kehilangannya, maka sengsaralah ia sepanjang hayat.

Apa yang dilakukan Siddharta Gautama seakan-akan menampar kita, para Homo Sapiens era post-modern ini.

Ketika kita berjuang mati-matian bekerja dan segala macam agar bisa mencapai standar hidup yang lebih “sejahtera”, Siddharta justru berontak dan melepas itu semua demi mencari Dharma, kebenaran sejati yang cinta kasih dan bijaksana.

Siddharta Gautama secara empiris benar-benar mengamalkan apa yang Al-Qur’an wanti-wanti dalam Surat At-Takasur mengenai bahaya hidup bermegah-megahan, bahkan jauh sebelum ayat-ayat tersebut diwahyukan kepada Rasulullah SAW di Makkah.

Barangkali hidup adalah doa yang panjang, kata Pak Sapardi. Namun, barangkali juga justru doa itulah hidup yang panjang. Mungkin itu kenapa doa akan tetap hidup dan menjadi amalan yang tidak akan terputus oleh ajal, di samping amal jariyah dan ilmu yang manfaat.

Akhir kalam, Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.

Selamat ulang tahun ya, Siddharta. Terima kasih lho tanggal merahnya.

Semoga kita semua bahagia.

Penulis: Lindu

Penyunting: Akbar