Masa kini bicara ihwal rumah adalah pembahasan yang kompleks. Pasalnya saat ini rumah tidak lagi didefinisikan sebagai bangunan sederhana yang berfungsi sebagai hunian. Banyak kawula muda yang mendefinisikan rumah bukan sekedar tempat mereka pulang pasca beraktivitas di luar. Bagi mereka rumah ialah interpretasi tempat dimana mereka bisa nyaman melepas lelah, bisa jadi sebuah fisik bangunan atau berwujud manusia yang sering disanjung sebagai wadah ternyaman untuk bercerita, bisa kawan atau kekasih.

Tapi bagi saya rumah merupakan bangunan milik orangtua yang berfungsi sebagai hunian. Tempat saya tidur, makan, buang hajat, mandi, dan banyak hal lain yang segala sumber biayanya ditanggung oleh orangtua. Tentu ini tidak bersifat permanen, nanti saya juga akan punya rumah milik saya, dengan penafsiran lain, kalau fungsinya belum bisa dipastikan. 

Bicara soal rumah, sudah 19 tahun ini saya tinggal di rumah yang sama. Lokasinya bersebelahan dengan jalan Gejayan, 800 meter ke timur dari SMK Negeri 2 Depok. Terletak di kawasan yang bisa dibilang padat penduduk, dekat dengan aliran sungai Kali Gajah Wong, para ojek online lebih akrab dengan sebutan Jembatan Cilik Ngisor. Area hunian saya dekat dengan beberapa gedung menimba ilmu, dari tingkat pendidikan nol kecil sampai perguruan tinggi.

Berbekal takdir yang diusahakan saya adalah mahasiswa di kampus biru. Jarak rumah saya dengan kampus kurang lebih hanya 1 kilometer saja, kalaupun lebih pasti hanya sedikit.  Dengan jarak yang cukup pendek itu, saya butuh durasi sampai 7 menit untuk sampai ke kampus, tepatnya di gedung Fakultas Teknik. Jangan mewajarkan durasi perjalanan saya ke kampus. Meskipun terkenal dengan kebiasaan nyasar, saya ini tipikal Das! des! Sat! set! dalam memacu gas motor kalau sudah hafal jalannya.

Saya meyakini dengan sepenuh hati, durasi 7 menit itu disebabkan karena mesti memutar motor di jalan depan rumah yang lebarnya kurang dari dua meter. Permasalahan ukuran jalan tentu bukan satu-satunya masalah yang saya hadapi selama tinggal di hunian padat penduduk. Tapi ketidaknyamanan tinggal di sana saya rasa merupakan pembahasan yang membosankan, dari yang memang tinggal sampai yang cuma tahu lewat layar kaca sudah ambil bagian untuk membicarakannya.

Dari segudang ketidaknyamanan tinggal di kawasan padat penduduk ada segedung keuntungan yang saya rasakan selama tinggal di daerah itu.

Alarm Otomatis di Pagi Hari

Di awal cerita kebanyakan film menampilkan adegan tokoh utama yang terlambat bangun pagi karena salah setting alarm atau mendadak tuli di jam mereka seharusnya bangun. Hal serupa tentu sering terjadi di kehidupan nyata, tapi untuk saya itu akan jadi adegan paling jarang atau bahkan tidak bisa terjadi. Tentu saja itu berkat letak rumah saya.

Mayoritas penduduk di lingkungan tempat tinggal saya adalah pedagang, mulai dari jajanan pasar, ikan segar, ayam potong, sembako, gorengan, sampai usaha katering rumahan. Pukul setengah 3 dini hari hidung saya akan mencium aroma kayu bakar dari dapur tetangga yang lubang dapurnya tepat di depan jendela kamar saya. Bersamaan dengan aroma kayu bakar, tetangga saya yang lain akan menyajikan suara minyak goreng panas yang sedang dipakai menggoreng.

Pukul 04.50 selepas waktu subuh di masjid, suara lebih dari dua ibu-ibu saling bersautan, mereka adalah tetangga saya yang menjajakan gorengan dan nasi bungkus di pagi hari. Suara mereka terdengar jelas, mulai dari menghitung nasi bungkus yang akan dijual, sampai obrolan random antar pedagang. Di detik ini saya harus benar-benar bangun dan mengambil air wudhu.

Jam menunjukkan pukul 06.15, tetangga saya yang masih punya hubungan saudara jauh, akan berteriak “sarapan-sarapan” sambil mendorong gerobak dagangannya semasa sekolah ini merupakan waktu dimana saya harus sudah mandi dan bersiap mengenakan seragam sekolah. Sekitar pukul setengah tujuh saya akan mendengar keributan tetangga yang memboyong tiga anaknya sekaligus untuk diantar ke sekolah, dua anak SMP dan seorang anak SD, disusul irit-iritan orangtua lain yang juga mengantar anaknya, tentu diiringi omelan khas orangtua di pagi hari “Ayo gek uwes selak telat” Ini adalah waktu yang pas untuk saya juga berangkat sekolah. Sayangnya momen ini hilang begitu saja saat virus corona datang, dan tiba-tiba saya sudah jadi mahasiswa.

Pendeteksi Bahaya Kebakaran

Zaman sekarang alat semakin canggih, salah satunya alat pendeteksi kebakaran. Tapi sebelum orang-orang yang punya modal uang dan pikiran itu memasang alat canggihnya, lingkungan saya sudah punya pendeteksi yang lebih canggih. Selain mendeteksi adanya kebakaran, pendeteksi ini juga bisa memanggil orang-orang untuk wajib ikut membantu. Sering kali siaran berita memberi kabar terjadinya kebakaran yang merambat di kawasan padat penduduk, padahal sebenarnya di kawasan kami kisah gagalnya terjadi kebakaran jauh lebih banyak. Pasalnya dalam kurun waktu 5 bulan ini saja sudah ada 4 kali peristiwa nyaris kebakaran yang berhasil digagalkan di lingkungan tempat saya tinggal.

Bukan kejadian satu dua kali tetangga lupa mematikan kompornya saat memasak, belum sampai api menyala keluar rumah, asap yang pekatnya tidak wajar untuk skala memasak atau aroma yang sedikit gosong sudah mencuri perhatian rumah-rumah di sampingnya. Pada saat itu kami akan kompak bersaut-sautan “Sopo sek masak gosong” kemudian disusul dengan presensi nama ibu-ibu yang punya kemungkinan rumahnya jadi asal aroma gosong itu, dari sini kebakaran bisa digagalkan. Andaikata sudah terjadipun, seperti berebut harta karun orang-orang akan datang membantu memadamkan dan pintu-pintu rumah akan sukarela dibuka untuk dimintai air. Bayangkan saja seumpama ada rumah yang kebakaran tapi jaraknya jauh dari tetangga, pasti akan ketahuan saat si jago merah sudah menggunung.

Dekat Dengan Segala Kemudahan

Pernah kejadian beberapa rumah warga airnya macet, saya lupa penyebabnya. Berbekal selang, kami bisa saling berbagi air dari rumah ke rumah. Saya mengandaikan bilamana rumah kami saling berjauhan, berapa puluh meter panjang selang yang harus kami sediakan, dan seberapa ribetnya kami hanya untuk sekedar berbagi air.

Meski tidak sampai geleng-geleng kepala saya kadang kala bingung melihat orang-orang di kontak WhatsAap membuat story WhatsAap, seperti: mencari tukang service Tv, Tukang Cat, atau orang yang buka jasa membersihkan bak kontrol rumah. Alasan kebingungan saya disebabkan hanya perlu berjalan tidak sampai ratusan meter untuk keluarga saya mendapatkan orang-orang dengan keahlian yang tadi disebutkan. Dari service Tv, renovasi, sampai membangun rumah pun tukangnya adalah tetangga sendiri. Kalaupun pakai jasa pemborong, pemborongnya juga tetangga sendiri.

Banyak tetangga dengan beragam profesi atau mata pencaharian merupakan hal yang menguntungkan. Mulai dari urusan rumah, perabotan, alat tulis, sampai urusan perut adalah hal yang mudah dipenuhi, kalau ada uangnya. Andaikan tidak ada, ya ada sistem yang disebut kasbon. Selain hal yang sifatnya membeli barang atau jasa, di lingkungan saya juga ada tradisi tukar makanan. Kami masih percaya, kurang sopan seandainya tetangga hanya mencium aroma yang kami masak. Semisal jumlah makanan yang dibuat berlebih dari kebutuhan anggota keluarga, hal yang patut untuk membagikannya ke tetangga, minimal ke tetangga yang dinding rumahnya menempel persis dengan dinding rumah sendiri. Tidak selesai di situ, sangat jarang wadah yang kami pakai untuk mengantar makanan kembali dengan keadaan kosong.

Sebenarnya masih ada keuntungan lain tinggal di kawasan padat penduduk, tapi kurang bijak jika terlalu pamer rezeki. Dari segudang ketidaknyamanan tinggal di sana setidaknya segedung manfaat ini cukup mempermudah hidup, walaupun gudangnya gudang pabrik.

Penulis: Naufalda Hanum

Editor  : Lindu