Hari-Hari Lebaran dan Keafdalan Semangkuk Bakso

Sumber gambar: Pixabay

Takbir telah berkumandang, menandakan datangnya hari kemenangan. Meski ada yang merayakannya lebih awal, hal itu tidaklah menjadi halangan untuk merayakan Idul Fitri dengan suka cita.

Salah satu hal yang melekat saat membicarakan lebaran adalah mudik; tradisi turun-temurun bagi para perantau. Jalur darat, laut, maupun udara, mereka lalui demi berkumpul dengan keluarga di kampung halaman saat hari raya. Namun, tak sedikit pula perantau yang tidak dapat mudik karena beragam alasan. Entah tak dapat jatah libur, kehabisan tiket, ataupun enggan bermacet-macetan.

Aku salah satu dari mereka yang tidak mudik. Sebetulnya, aku juga ingin mudik seperti yang lainnya, ke kampung halaman nenekku di Ponorogo, Jawa Timur. Di sisi lain, aku bersyukur karena tidak harus menempuh perjalanan berjam-jam dengan kemacetan dan cuaca yang tidak bisa diprediksi itu. Meskipun, ya, aku juga rindu.

Bagiku, lebaran tahun ini tidak ada bedanya dengan tahun-tahun yang lalu. Sehari sebelum lebaran tiba, aku dan ibuku pasti akan sibuk di dapur menyiapkan masakan andalan kami, yang sebetulnya tidak jauh berbeda juga dengan orang lain, yakni opor ayam, sambel goreng hati ayam, dan ketupat.

Selain memasak, kami juga asyik menata cemilan dalam toples untuk para tamu yang akan berkunjung ke rumah. Membersihkan rumah, seperti menyapu, mengelap meja dan kursi, mengelap jendela, dan lainnya juga tak lupa kami lakukan bersama. Setelah urusan rumah selesai, aku menyetrika baju yang akan digunakan untuk salat Idul Fitri. Aku bersiap memang agar tidak terburu-buru esok pagi.

Kau tentu tahu pagi di hari lebaran adalah pagi untuk berebut kamar mandi, bukan?

Bulan Syawal pun datang. Terdengar sahut-sahutan suara takbir di pagi hari raya Idul Fitri. Tepat pukul tujuh pagi, dimulai pelaksanaan salat Id di masjid dekat rumahku, disusul dengan kegiatan bersalam-salaman dengan para jamaah di masjid.

Aku bergegas pulang ke rumah setelah selesai bersalaman. Seperti lebaran-lebaran sebelumnya, ibu, bapak, bibi, tante, dan para sepupu telah bersiap di rumah untuk saling bermaafan. Kami orang Jawa biasa menyebutnya tradisi sungkeman. Mengambil sikap takzim kepada yang lebih tua untuk melebur segala kekotoran yang tertanggal di hati agar kembali fitri.

Dimulai dari yang paling tua, ibu sungkem ke bapak, kemudian bibi sungkem ke ibu dan bapak, begitu seterusnya hingga giliranku tiba. Yang muda, semoga tak besar kepala; yang tua, semoga lapang membuka pintu maafnya.

Acara lain yang tidak terlewatkan adalah makan bersama. Senang rasanya melihat orang rumah menyantap masakan racikan ibu dan aku dengan begitu lahap. Meskipun, tidak boleh terlalu kenyang karena nanti kita masih harus makan terus seharian. Hehehe.

Setelahnya, kami pergi ziarah ke makam desa. Mendoakan anggota keluarga yang telah wafat di pusaranya. Sesudah itu, barulah kami ujung; berkeliling ke rumah tetangga untuk saling bermaaf-maafan.

Setelah selesai berkeliling, kami beristirahat. Biasanya, setiap hari lebaran, walaupun sudah memasak, tetap saja kami memilih jajan bakso. Entah kenapa jika lebaran tidak makan bakso seperti ada yang kurang, menurutku. Hari lebaran memang kondisi perut perlu dilipatgandakan daya tampungnya.

Lebaran hari kedua merupakan jadwal kami ke rumah bibi. Apa saja bebas kami lakukan di rumah bibi karena sudah kami anggap seperti rumah sendiri. Mau makan, mau tidur, mau melakukan apapun tak perlu sungkan. Hingga ketika hari sudah sore, kami biasanya akan pulang.

Lebaran hari ketiga dan keempat biasanya, gantian kami yang diam di rumah menunggu kedatangan keluarga pamanku tiba berkunjung. Paman akan mampir untuk memanfaatkan libur lebaran. Seringkali kami menghabiskan waktu dengan berlibur ke pantai. Deburan ombak dan hamparan pasir memang tak pernah salah bagi mereka yang ingin  memanjakan mata dan kepala dari penat rutinitas yang menjemukan.

Lain halnya jika saudaraku yang dari Jakarta pulang ke Magelang, suasana lebaran akan berbeda. Pernah pada suatu malam takbiran, kerabat jauh datang ke Magelang, kemudian mengajakku untuk ikut bersama mereka. Selama beberapa hari mengikuti mereka, kami mengunjungi Malioboro dan Candi Borobudur. Setelahnya, aku sempat diantar pulang untuk mengambil baju dan kembali ke penginapan.

Pagi harinya setelah salat Id, kami berangkat ke Boyolali untuk berziarah kubur. Kami pergi ke Stasiun Tugu karena memutuskan untuk naik kereta menuju Solo Balapan.

Kami sampai di Magelang malam harinya, kemudian langsung menuju penginapan. Keesokan paginya kami sarapan dengan menu yang telah disediakan di tempat kami menginap. Sayangnya, aku sudah harus pulang di siang hari karena kerabatku akan pulang di sore hari. Tak pantas jika saat mereka berpamitan, aku tidak ada di rumah untuk melepas kunjungan istimewa ini.

Itulah sedikit ceritaku tentang bagaimana aku merayakan hari raya Idul Fitri. Mudah-mudahan akan selalu ada lebaran yang akan datang untukku. Bisa kembali bertemu sanak saudara dan semangkuk bakso yang selalu tampak spesial di hari yang superspesial itu.

Penulis: Wahyu Riyani Efraim

Penyunting: Elshinta Adelia R.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *