Oleh Edwin Widianto

        Yogyakarta hingga saat ini masih menyandang gelar kota pelajar. Dari predikat itulah muncul potensi ekonomi yang menjanjikan, tentunya bila berurusan dengan kebutuhan pokok, sebut saja urusan makan. Jogja tentu memiliki banyak kuliner, misal gudeg, penyetan, angkringan. Tetapi bebrapa tahun ini, ada yang cukup melegenda, yaitu burjo.

        Burjo merupakan akronim dari bubur kacang ijo, yang tentunya dijual di warung burjo. Namun, tidak sampai disitu saja, warung burjo belum tentu menjual burjo. Nah sekarang coba dipetakan, Burjo dijual di warung burjo, tetapi belum tentu di warung burjo jual burjo. Lalu ada lagi, makan di burjo belum tentu pesan burjo, karena menu utamanya malah bukan burjo?

        Menurut gaya bahasa atau majas, ada sebuah majas yaitu metonimia. Contoh metonimia adalah saat pompa air identik dengan kata sanyo yang merupakan salah satu merek pompa air. Pada konteks ini burjo telah menjadi sebuah brand atau merek, yang mewakili sebuah benda atau aktifitas. Sehingga jangan heran, bila makan di burjo, bisa jadi pesannya nasi telor (nastel) atau indomie telor (intel).

        Warung burjo kini berkembang tidak hanya menjadi warung makan biasa. Tetapi menjadi tempat nongkrong, kongko-kongko, dan mengobrol. Kemudian, dapat dipastikan hampir sebagian besar mahasiswa yang kuliah di jogja pernah makan di burjo. Kenapa demikian karena jumlahnya yang kian banyak dan masif, ya hampir setara lah dengan angkringan mungkin. Padahal menu utamanya mungkin biasa-biasa saja, selain seperti dua diatas, ada lagi seperti indomie rebus, nasi goreng, nasi ayam.

        Aldhy selaku pemilik burjo yang bertempat di jalan Anggur, Klebengan menuturkan bahwa rahasia pemilik warung burjo meningkatkan eksistensinya di Jogja adalah bagaimana menyediakan tempat yang nyaman untuk berkumpul, kongko-kongko bagi mahasiswa khususnya dan masyarakat pada umumnya. Seperti halnya di burjo aldhy yang menyediakan koneksi wi-fi secara cuma-cuma, sumber listrik di setiap meja makan untuk charging gadget konsumen, dan televisi untuk nonton bareng sepak bola.

        Setelah semua fasilitas yang sudah diberikan pemilik warung burjo aldhy untuk konsumen, tidak lupa hal utama yaitu pelayanan yang ramah tamah kepada konsumen. Pelayanan yang baik  selalu menjadi prioritas utama agar kepercayaan konsumen terbentuk dan menjadi langganan. “Ya, dari semua yang tadi sudah saya jelaskan tentang fasilitas pendukung, tidak lupa mas kami juga mengutamakan pelayanan yang bagus agar terwujud rasa kekeluargaan dan akhirnya menjadi langganan,”ungkap Aldhy.