“Semua orang yang baik padaku berarti dia jatuh cinta padaku,” atau “mereka pasti tertarik”.

Fantasi memang menyenangkan, keadaan dimana kita bisa mengatur volume ruang dan waktu serta suasana khayalan. Ada beberapa kasus tentang ketagihan berfantasi yang mengarah pada gangguan kepribadian. Dengan modernisasi teknologi yang semakin menggila setiap waktunya, fantasi berlebihan tanpa disadari bisa mengakibatkan gangguan kepribadian, apalagi jika menyangkut tentang perasaan.

Misalnya saja seseorang yang selalu merasa dicintai banyak orang, lalu dilanjutkan berfantasi berlebihan, dalam istilah psikologi disebut delusi erotomania atau syndrome de clerambault. Erotomania sendiri berasal dari Bahasa Yunani, eros berarti cinta dan manic berarti berlebihan, maka secara harfiah diartikan cinta yang berlebihan. Masalahnya, perasaan itu hanya berkecamuk dalam diri si pengidap, nyataannya hal itu tidak pernah terjadi, hampir sama seperti kasus narsisme. Mengerikan sekali.

Pengidap erotomania yakin bahwa seseorang diam-diam mencintai dirinya, baik lewat tindak tanduk, bahasa tubuh, serta cara dia berbicara, semua seakan-akan menunjuk kepada dirinya. Ini disebabkan oleh faktor kesengajaan, karena membiarkan kesadarannya terpengaruh sepenuhnya oleh fantasi dan ilusi yang dibuat senyata mungkin oleh si pengidap. Lebih jauh lagi pengidap erotomania umunya jatuh cinta dengan orang yang mempunyai status sosial lebih tinggi dari dirinya, misal penyanyi terkenal, aktor film, pemain sepak bola dunia, bahkan  politikus. Objeknya pun bisa lebih dari satu orang, bahkan menurut beberapa penelitian bisa sampai lima objek atau lebih dalam waktu yang sama.

Ironis memang jika menyoal  erotomania, pasti akan menyangkut tentang percintaan, untungnya bukan dalam konteks seksualitas. Penderita tidak pernah berpikir secara seksual terhadap objeknya, juga merasa bahwa objek juga mempunyai pemikiran yang sama. Menurut fantasi si pengidap, dia telah melakukan komunikasi batin dengan objek seperti telepati atau apalah namanya, yang memungkinkan dia dan objek imajinasinya bisa berkomunikasi dengan intim tanpa perlu adanya hubungan lansung apalagi menanyakan apakah orang itu jatuh cinta padanya. Hanya sangkaan yang begitu dalam dan serius.

Misalnya seperti ini, objek yang difantasikan adalah seorang presenter berita. Pengidap erotomania akan berpikir bahwa ada selipan kata-kata presenter berita itu secara langsung di tunjukkan padannya, atau tatapan mata si presenter mengatakan sesuatu yang hanya dipahami oleh si pengidap. Namun semua itu hanya berlangsung di fantasi pengidap.

Sayangnya, ketika gangguan kepribadian ini muncul sukar sekali ter-identifikasi dini, sebab beda tipis antara perasaan biasa atau ertomania yang sebenarnya. Jika hanya sekadar perasaan, biasanya timbul sesaat dan akan berakhir pada rasa kagum untuk beberapa waktu. Beda dengan erotomania, perasaan kagum itu akan berkembang seluas daya fantasi si pengidap, dan semua itu berawal dari baper. Penyakit kepribadian ini umumnya di derita oleh kaum laki laki tetapi tidak menutup kemungkinan di derita oleh perempuan yang sangat peka dan sensitif.