Dialog budaya saat ini sudah mulai menjadi hal minoritas, tidak terkecuali di Universitas Negeri Yogyakarta. Apa yang melatar belakangi keberagaman budaya, agama, tidak menjadi hal popular untuk dibicarakan, tentu banyak penyebabnya. Saat ini semua orang mengalami tekanan, semua mengalami ketidaknyamanan. Golongan agama, budaya, etnis, suku, semua terbentur ketika merasa terusik ketenangannya. Hal ini mengakibatkan pluralisme tenggelam, tidak ada lagi keberagaman. Berangkat dari sebuah ide, “budaya, seni, dan agama” Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (BEM FBS) UNY memvisualisasikan apa sebenarnya yang menjadi titik temu antara seni, budaya, dan agama. Menghadirkan Emha Ainun Nadjib (cak nun), Prof. Suminto dosen FBS, dan Hanafi Rais,sarasehan budaya ini sangat menarik untuk disaksikan.

“Ada dua hal yang membuat masyarakat terkungkung dalam padatan-padatan, yang tak kunjung mencair, pertama pemahaman kebanyakan masyarakat saat ini tidak lengkap menguasai suatu permasalahan, mereka ngomong agama, tapi tidak belajar beneran, mereka ngomong korupsi, tapi diri sendiri korupsi. Dari hal pertama tersebut timbullah kesempitan intelektual, dan berakhir dalam pertikaian,” jelas Cak Nun. Yang menjadi persoalan adalah hamper semua orang berperilaku demikian, dengan kata lain ketidak nyamanan yang dirasakan itu datangnya dari diri sendiri. Nah, saat ini tinggal manusianya saja, mau berubah atau tidak.

Prof. Suminto, pun memaparkan pandangannya, “tidak selalu mempertentangkan budaya, agama, semua bisa saling mempercayai satu sama lain, menumbuhkan semangat kearifan lokal (local wisdom). Cak Nun pun menambahkan bahwa ada empat jenis manusia,  pertama manusia pencetus (kreator), kedua pendiri atau pembangun (mendorong), ketiga memelihara, keempat pendobrak. Jadi jangan pernah memaksa seseorang untuk menjadi orang lain, karena itu menentang sikap dan sifat manusia seutuhnya.

Oleh : Hesti Ariyani