Inilah kesan pertama yang banyak dirasakan ketika melihat bangunan Fakultas Teknik. Sarana dan prasarana masih terlihat biasa saja. Apalagi di beberapa kelas masih menggunakan kapur dan papan tulis hitam sebagai media belajar. Fasilitas lain seperti air conditioner (AC) belum seluruh ruangan gedung ada. Kipas angin yang kecepatanya jauh lebih lambat dari kura-kura, terlebih lagi toilet hanya berukuran satu meter persegi, serta bangunan terkesan tua karena cat dinding bangunan sudah termakan cuaca.

Hal ini tentu membuat mahasiswa memiliki kesan yang jelek terhadap Fakultas Teknik sendiri, apalagi bagi mahasiswa yang datang dari luar Jawa, tentu mereka tidak membayangkan memiliki kampus yang demikian.

Gedung yang diresmikan oleh presiden Soeharto tanggal 14/10/1981 ini memang sudah seharusnya direnovasi, atau dibangun kembali demi kenyamanan mahasiswa. Peremajaan bangunan akan mampu meningkatkan sarana prasarana yang lebih baik lagi, bahkan menunjang peningkatan akreditasi. Pengaruh lain mampu menghilangkan kecemburuan mahasiswa teknik dengan fakultas lainnya yang notabene memiliki bangunan lebih bagus dan nyaman, sehingga FT tidak merasa seperti dianak-tirikan.

Renovasi yang baru bisa kita rasakan saat ini baru sebatas pembongkaran atap koridor jalan, itupun masih belum diperbaiki lagi. Pembongkaran kantin belakang, serta pembangunan yang disebut-sebut bakal digunakan sebagai kantin disebelah utara bengkel kerja batu akan direalisasikan juga. Pihak fakultas seharusnya bisa mempertimbangkan waktu yang pas dalam pelaksanaan renovasi atap koridor jalan , apalagi saat ini sedang musim hujan. Hal ini mempersulit akses jalan mahasiswa dan dosen ketika akan berpindah kelas karena hujan turun dan menggenangi jalan. Kalau sudah begini seharusnya pihak fakultas segera merampungkan perbaikan atap segera.

Namun, mahasiswa mengharapkan renovasi tidak sekedar itu saja tetapi menyeluruh pada setiap bangunan kelas, toilet, dan bengkel praktikum. Melihat sering terjadi kasus kekurangan kelas, ketika dosen dan mahasiswa sudah menemukan waktu yang pas untuk perkuliahan namun tenyata semua kelas sudah terpakai.

Tapi kendala tanggung jawab yang dibebankan FT terhadap pemerintah dalam membuat bangunan tidak begitu saja dibongkar dan dibangun kembali  dengan seenaknya. Harus sesuai dengan prosedur yang jelas dan mendapat pengawasan langsung dari pemerintah pusat.  Namun faktor lain pemerintah khususnya departemen keuangan harus lebih bisa bersikap fleksibel dalam mengawasi setiap tindakan bangunan kampus, agar ketika akan melakukan pembangunan kembali dari pihak yang bersangkutan tidak dipersulit.

Mungkin ini merupakan kendala terbesar bagi FT untuk mengembangkan fasilitas belajarnya. Barang yang sudah tidak terpakai pun tidak bisa seenaknya dibuang, karena ya sekali lagi pertanggung jawaban, apabila barang tersebut dibuang begitu saja tanpa izin resmi dari pihak terkait  bisa jadi akan dituntut untuk ganti rugi. Tapi seharusnya pihak universitas dan pengurus fakultas bisa mengatasi hal tersebut sehingga mahasiswa tidak merasa dirugikan. Mengingat kenyamanan mahasiswa dalam belajar sangat penting dalam meningkatkan semangat belajar serta bisa meraih prestasi yang lebih baik.

Namun, disisi lain mahsiswa juga harus bisa ikut membantu dalam merawat sarana dan prasarana belajar. Laiknya, tidak membuat coretan di meja dan kursi dengan alat tulis atau lainya. Mahasiswa apalagi para calon guru tak sepantasnya berlaku demikian. Apalagi dengan tulisan-tulisaan cemooh yang tak pantas untuk dibaca. Jadi, harus ada kerja sama antara pihak pemerintah, fakultas dan mahasiswa itu sendiri untuk menciptakan kenyamanan lingkungan belajar.

Oleh Ida