Sumpah pemuda yang terjadi 8 dekade silam merupakan sebuah tonggak persatuan dan kesatuan bangsa sebenarnya. Melalui sumpah pemuda titik awal pembentukan sebuah negara dan bangsa dengan ikrar satu tanah, satu bangsa dan satu bahasa. Pemrakarsa sumpah pemuda tidak lain dan tidak bukan adalah perkumpulan pemuda dan perhimpunan pelajar indonesia. Dan buah yang manis dari sumpah pemuda adalah tercapainya kemerdekaan untuk bangsa Indonesia.

Pemuda dalam hal ini adalah mahasiswa memiliki peranan sebagai pembawa perubahan (agent of change) dengan kekayaan pengetahuan dan daya pikir yang kritis. Mahasiswa selalu berani untuk mendobrak zaman kearah perubahan dan selalu kritis terhadap kebijakan pemerintahan (Agent of social control). Masih ingat dalam ingatan beberapa pergolakan yang terjadi di bangsa ini yang dimotori oleh kegelisahan mahasiswa terhadap bangsa dan negara. Tahun 1966 mahasiswa melakukan tekanan pada pemerintahan Sukarno dengan Tritura-nya sehingga munculah orde baru. Tiga dekade kemudian mahasiswa kembali melakukan gerakan people power sehingga menggulingkan rezim Suharto yang saat itu berkuasa dan berganti ke era reformasi.

Aksi heroik para agen perubahan dalam mewarnai lembaran sejarah Indonesia bisa dikatakan sebagai perwujudan asensi sumpah pemuda yang perduli terhadap kehidupan berbangsa. Mereka bergerak berdasarkan pandangan objektif dan idealis dalam menyikapi suatu permasalahan. Sumpah pemuda bukan hanya sekedar kata-kata tetapi makna dari sumpah pemuda yang diresapi dan diwujudkan dalam sebuah tindakan. Turun kejalan dan demonstrasi menjadi pakaian yang disandang oleh mahasiswa, mungkin pada eranya mahasiswa memang cenderung seperti itu.

Namun pada era saat ini, melihat karakteristik pemuda sekarang akan sangat berbeda dengan pemuda era lampau. Sekarang mahasiswa masuk dalam era digital yang menghasilkan generasi digital. Generasi yang terhubung satu sama lain didunia maya. Dunia yang bukan hanya mengubah cara komunikasi tapi juga mengubah pikiran, ucapan, tindakan, dan karakteristik seseorang. Meskipun secara fisik mereka dekat namun saling menjauh karena asik dengan dunianya sendiri melalui gadget yang dimiliki. Maka keapatisanlah yang muncul dalam menyikapi kehidupan, tetapi mereka cenderung mengaktualisasikan diri dalam dunia maya. Budaya diskusi secara langsung sudah sedikit dilupakan. Jika realitanya adalah seperti itu mahasiswa yang seharusnya menjadi transportasi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi masyarakat sudah tidak dapat menjalankan perannya.

Fenomena yang nampak sekarang adalah mahasiswa yang kehilangan jati diri. Mahasiswa bangga akan gelarnya, menyelami seluruh ilmu di perpustakaan demi tanggung jawab akademis dan sekedar mendapatkan IP yang tinggi. Tapi mahasiswa lupa bahwa tanggung jawabnya bukan hanya sekedar tanggung jawab akademis. Mahasiswa sekarang telah ber-transformasi menjadi agent of intellectual. Lebih parah lagi mahasiswa senang akan kehidupan hedonis yang cenderung hidup dalam kegiatan hura-hura.

Menurut Undang-Undang No 22 tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi disebutkan bahwa pada umumnya perguruan tinggi mempinyai tujuan membentuk manusia susila yang berjiwa Pancasila dan bertanggung jawab akan terwujudnya masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur, materiil dan spiritual. Menyiapkan tenaga yang cakap untuk memangku jabatan yang memerlukan pendidikan tinggi dan yang cakap berdiri sendiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan. Melakukan penelitian dan usaha kemajuan dalam lapangan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kehidupan kemasyarakatan. Tridharma perguruan tinggi (PT) memiliki tiga mata rantai. Pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

UKM dan himpunan mahasiswa harusnya dapat mencetak mahasiswa—mahasiswa yang peka terhadap lingkungan sosial. Organisasi kegiatan mahasiswa merupakan penyeimbang kegiatan akademik dimana iklim yang tercipta di kampus menjadi  iklim intelektual dan proggresif. Di era saat kegiatan kemahasiswaan seharusnya berjalan sesuai dengan tridharma perguruan tinggi. Tridharma  PT mengacu pada tiga aspek pendidikan yang cenderung memasuki wilayah pendidikan dan pengajaran. Tiga aspek tersebut adalah  aquicition  (penggalian), transmission (pemindahan),dan  application (penerapan). Ketiganya akan memiliki ketergantungan dan keterkaitan yang melengkapi.

Tantangan yang dihadapi oleh kegiatan mahasiswa adalah bagaimana mengemas kegiatan yang menarik tetapi tidak menyingkirkan kaidah-kaidah kebangsaan dan sosial. Kaum elit intelektual yang tidak lain adalah mahasiswa yang belajar menjadi manusia sejati, mahasiswa dengan peran dan tanggung jawabnya. Kampus memiliki banyak sarana dan fasilitas yang bisa digunakan oleh mahasiswa untuk dapat menjadi manusia sejati. Di dalam kelas mahasiswa akan dengan mudah mengusung ilmu dan teori yang akan menambah jiwa intelektual. Kegiatan ekstra dan intra kampus yang dapat di gunakan oleh mahasiswa untuk mengasah kepekaan sosial. Jika para mahasiswa itu mampu mempropagandakan antara prestasi akademik dan skill niscaya mahasiswa akan menjadi mahasiswa yang sesungguhnya, memiliki jiwa aktifis yang tidak anarkis. Menjadi mahasiswa sesungguhnya yang kelak bisa membawa perubahan bagi dirinya, masyarakat dan negaranya.

 Oleh : Prima Susanto