Siapa calon pemimpin kita

Siapa calon pemimpin kita

Menjelang pemilu 2014, berbagai survei dan media massa telah banyak menyebutkan calon-calon pemimpin bangsa Indonesia. Mulai dari, pejabat, jenderal, akademisi, hingga para taipan dunia usaha ikut disebut-sebut sebagai kandidat RI 1. Beberapa partai politik pun telah ancang-ancang mempersiapkan strategi pemenangan pemilu. Mulai dari konvensi, formasi caleg, hingga spanduk bertebaran di pinggir jalan. Lalu, deklarasi dan penunjukan tokoh terkemuka, baik yang sudah terang-terangan mencalonkan atau yang masih malu-malu, turut mewarnai dinamika politik.

Pertanyaan yang tersirat menjadi? Bagaimana pemimpin yang diharapkan, akan mampu memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Penulis mencoba melakukan pendekatan berdasarkan pemikiran Mochtar Lubis lewat bukunya “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggungjawaban”. Pada buku itu disebutkan beberapa sifat manusia Indonesia. Tentu saja penulis masuk di dalamnya sebagai manusia Indonesia. Salah satu cirinya berjiwa artistik seni yang tinggi adalah nilai positif, dan kebetulan RI 1 saat ini rajin membuat album lagu.

Langsung saja, ciri pertama menurut Mochtar, manusia Indonesia ialah hipokritis atau munafik. Maka pemimpin masa depan Indonesia selayaknya jauh dari sikap ini. Contoh pola hipokrit misalnya saja pada konteks pemberantasan korupsi. Pemerintahan kini dicitrakan anti korupsi, namun rekor korupsi dari hari kehari makin wah dan seru. Malah mencegat lingkar terdekat kekuasaan. Kemunafikan ini pula berkait erat dengan kolonialisme gaya baru. Dimana, perlindungan dan kebijakan tidak melindungi karya asli anak bangsa, sebut saja kasus mobil murah Low Cost Green Car (LCGC). Tentu berlainan atau kontra produktif di tengah isu kemacetan lalu lintas, transportasi massal, hingga program mobil nasional yang telah digagas sejak tahun 1970-an.

Kedua sifat yang harus dihindari seorang pemimpin bangsa ini kelak adalah enggan bertanggung jawab. Selayaknya kebijakan yang dibuat harus terselesaikan, rampung, berikut mau menerima segala konsekuensi sebuah jabatan, serta tidak ketinggalan untuk mau menerima kritik. Lalu yang ketiga, menjauhi sikap feodal, pemimpin selayaknya merakyat. Mentalnya bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani. Untuk konteks ini memang agak sulit, karena sudah menjadi adat sejak jaman sendiko dawuh. Kemudian, karakter kuat sudah seharusnya dimiliki. Bisa diakui dan dimaklumi manusia Indonesia minim akan karakter dan berwatak lemah.

Sehingga ciri keempat pemimpin adalah mampu mempertahankan dan memperjuangkan keyakinannya. Tentu dengan catatan tidak melacurkan intelektualnya, demi lobi-lobi korporat dengan mengorbankan rakyatnya sendiri. Dapat tercermin dari politik statistik, dengan apa yang disebut tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, bahkan pertumbuhan ekonomi yang bermuara pada mental Asal Bapak Senang (ABS).

Kelima, masyarakat kita terkenal akan kedekatannya dengan hal-hal mistik. Korelasinya bahwa sebagai seorang pemimpin mulailah untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang sifatnya aji mumpung. Atau kita kenal selama ini dengan istilah auto pilot. Janganlah masyarakat dibiarkan begitu saja menghadapi ranah hidup di negeri ini. Pemberdayaan masyarakat perlu adanya, tidak lantas hanya mampunya membebani rakyat dengan kebijakan-kebijakan non pro rakyat. Sehingga harapannya rakyat tidak saling berebut antar diri mereka sendiri.

Ciri lainnya, konon manusia Indonesia tidak hemat dalam hidup dan menyukai cara berproses instan. Sehingga pemimpin negeri diharap hemat serta tahu akan prioritas. Sebut saja kunjungan keluar negeri, fasilitas mewah para pejabat dan penggelembungan nilai proyek layak untuk dihindari. Anggaran belanja dapat dialihkan pada bidang tertentu yang jangkauan atau investasinya jauh menembus dimasa depan.

Dapat dianalisis bahwa sifat manusia Indonesia tentu dibentuk oleh sejarah panjang. Sejarah yang terjadi dan terpengaruh oleh perkembangan zaman. Mulai dari masa monarki kerajaan, penjajahan kolonialisme, jaman revolusi, jaman pembangunan, jaman reformasi, hingga kini jaman globalisasi dan teknologi informasi. Suatu adat apapun itu layak dikaji. Intinya pemimpin bangsa itu bukan manusia biasa. Istilahnya bung Iwan Fals manusia setengah dewa, salam.

Oleh Farchan Riyadi