Oleh Widi Hermawan

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”

Wajah Republik Kini
Pesan Bung Karno di atas terbukti nyata kebenarannya, merdeka dari kolonial asing tidak sertamerta bangsa ini terlepas dari belenggu kesengsaraan. Bung Karno berkata, bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, namun awal untuk mencapai bangsa yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Pasca kemerdekaan, muncul manusia-manusia tak bermoral sebagai penguasa negeri ini. Manusia bermoral bengis dengan kekuasaannya rela menjual bangsa sendiri demi harta, tahta dan kepuasan syahwat. Manusia itu tanpa rasa dosa! Tega memakan daging dan menghisap darah rakyat demi kepentingan perutnya sendiri.

Di era Bung Karno (red.-imperialisme dan kolonialisme), kita sepakat menghadapi lawan yang sama yaitu: Kolonialis, namun era telah berganti, kondisi republik telah menjelma menjadi satu bangsa kesatuan utuh yang dipimpin oleh manusia-manusia kita, ya SAUDARA KITA !!!. Para kolonialis itu bukan lagi berkulit putih, bertubuh tinggi besar, hidung mancung, dan bukan lagi para menir, mister atau tuan-tuan bermata sipit, melainkan SAUDARA KITA sendiri. Manusia itu lahir dan tumbuh di republik ini, namun mereka terjangkit moral biadab menjual bangsa demi kepentingan pribadi dan golongannya. Fenomena itu memaksa mahasiswa terpanggil melakukan pergerakan menuju perubahan.

Disorientasi Arah Pergerakan
Pergerakan mahasiswa melahirkan organisasi-organisasi perjuangan untuk menyelamatkan bangsanya dari kerakusan penguasa zalim.  Ironisnya, organisasi-organisasi pergerakan itu   tidak akur, bahkan cenderung bermusuhan. Permusuhan dilatarbelakangi adanya perbedaan ideologi, seperti paham nasionalis dengan paham keagamaan. Bahkan seagama pun tidak menjamin organisasi-organisasi itu berjuang secara sinergis. Contoh organisasi berasakan ideologi keislaman, mereka terpecah menjadi sub-paham Islam ketimuran, tradisional, bahkan nasionalis. Egoisme ideologi menjadikan jurang pemisah antar organisasi semakin lebar dan curam. Perpecahan diperparah dengan perbedaan afiliasi, praktik politik praktis yang tumbuh menjamur di dalam organ semakin memperkeruh keadaan.

Jika organisasi mahasiswa terus bersikap konservatif, bergerak individualis tanpa persatuan, tujuan Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur hanyalah ilusi belaka. Bangsa ini akan terus digerogoti oleh penguasa biadab. Mahasiswa harus sadar,  mendebatkan ideologi sudah tidak relevan. Kita sudah memiliki Pancasila, ideologi yang mengakomodir kepentingan kemajemukan bangsa ini, bukan kepentingan suku, agama, maupun golongan teretentu.

Pergerakan Total 100 Persen
Organisasi pergerakan harus bersatu untuk memperkaya pemikiran revolusioner demi terciptanya kekuatan dahsyat dan progresif. Perbedaan prinsip yang menyekat harus dirobohkan  untuk menciptakan pergerakan total 100 persen. Egoisme ideologi harus dibuang jauh-jauh, guna mencegah perpecahan yang melemahkan. Arah pergerakan harus ditujukan pada kepentingan umum, bukan kepentingan pribadi, agama, golongan, maupun kelompok-kelompok tertentu. Organisasi pergerakan mahasiswa harus menjadi motor penggerak perjuangan yang mampu mengakomodir kepentingan bangsa. Bersatulah organisasi pergerakan mahasiswa ! Bersatulah !