Oleh: Widi Hermawan

Setahun lebih Joko Widodo (Jokowi) telah memimpin bangsa ini, mengemban amanah rakyat Indonesia untuk mereparasi negeri yang penuh luka. Perjalanan mecapai kursi RI 1 cukup dramatis dan kontroversial. Seperti kita ketahui bersama, Jokowi harus mengalahkan pesaing satu-satunya di pilpres tahun lalu yang sempat memecah bangsa ini menjadi dua kubu.

Namun tantangan terberat Jokowi bukanlah memenangkan pilpres tersebut, melainkan menjawab harapan rakyat Indonesia dengan merealisasikan janji-janjinya sewaktu kampanye. Ekspektasi yang sangat tinggi dari rakyat Indonesia menambah beban moral yang dipikulnya. Setiap langkah yang diambil, benar-benar harus dipikirkan masak-masak supaya tidak kehilangan kepercayaan dari rakyatnya. Namun ia juga dituntut untuk bersikap tegas dan cekatan, sehingga tidak terkesan plin-plan di mata rakyat Indonesia.

Belum lagi masih banyak orang-orang yang belum bisa move on dari masa pilpres dikarenakan capres dukungannya tak bisa menjadi RI 1. Di mata orang-orang tersebut, apapun yang dilakukan oleh Jokowi selalu salah. Tak hanya itu, secara subyektif mereka juga selalu mengambinghitamkan Jokowi jika ada kasus-kasus ataupun kejadian yang tak mengenakkan.

Ujian Jokowi semakin berat dengan banyaknya musibah yang menimpa negeri ini selama ia memimpin. Hal ini tentu menjadi santapan empuk bagi para hater untuk membuat isu-isu tak sedap tentang Jokowi. Beberapa musibah yang sempat meramaikan media berita dengan menyeret nama Jokowi di antaranya jatuhnya anggota TNI saat beratraksi di depan presiden, meninggalnya tukang becak setelah mengantar tamu pernikahan putra Jokowi. Tak sampai di situ, para hater kembali kebanjiran bahan saat terjadi jatuhnya crane di Mekah, kecelakaan di Tol Cipali sesaat setelah diresmikan, melemahnya Rupiah hingga yang baru-baru ini ramai dibicarakan adalah musibah asap di Riau dan wilayah lain di bumi pertiwi.

Semua musibah-musibah tersebut mereka hubung-hubungkan sehingga terkesan Jokowi yang salah. Saya sendiri bukanlah simpatisan Jokowi, hanya saja saya merasa jika sikap tersebut kurang tepat, bahkan terkesan aneh. Untuk mengatakan seseorang salah atau benar tak bisa hanya dari persepsi kita saja. Kita harus melakukan analisis mendalam dengan mengumpulkan data-data yang berisi fakta sehingga penilaian yang diberikan bisa obyektif.

Mungkin memang harus dilakukan revolusi mental terhadap rakyat Indonesia. Sifat suka menyalahkan dan selalu mencari kambing hitam harus diubah menjadi mencari solusi. Daripada membuang energi untuk menghujat dan menyalahkan, bukankah akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk mencari jalan keluar? Misalnya saat ratusan mahasiswa melakukan aksi untuk menurunkan presiden saat musibah asap kemarin. Saya rasa tenaga mereka akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk turun langsung membantu TNI dalam memadamkan api. Cara tersebut saya rasa jauh lebih cardas daripada menyalahkan dan menuntut presiden untuk turun dari jabatannya.

Menjadi oposisi boleh saja, justru dalam pemerintahan memang harus ada oposisi sebagai penyeimbang. Tetapi dalam menjalankan peran tersebut harus didasarkan atas kepentingan umum, bukan pribadi atau golongan. Menjadi pendukung pemerintah juga tidak ada salahnya, asalkan tidak sampai menabikan, sebab pemimpin yang dinabikan akan mematikan nalar, sehingga apapun yang presiden lakukan menjadi sebuah kebenaran di matanya. Baik oposisi maupun pendukung pemerintah merupakan elemen yang penting dalam suatu negara, keduanya harus bekerja beriringan dan saling melengkapi demi terciptanya